Upaya Menghimpun Analitik Data dengan Platform Transactional

10 / 01 / 2019 - in News

Tren revolusi industri keempat atau industri 4.0 yang ditandai dengan penggunaan sistem digital atau digitalisasi dalam supply chain, merupakan keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh pelaku industri logistik dan rantai pasok di pelabuhan. Artinya, dunia yang semakin terkoneksi dengan digitalisasi ini menjadikan kompetisi dan kecepatan sebagai sebuah challenge.

Seperti yang dilakukan raksasa e-commerce, yakni Alibaba dan Amazon. Mereka telah mengubah teknologi pengelolaan gudangnya tidak lagi menggunakan tenaga manusia melainkan sudah pakai sistem robotik bahkan drone. Selain itu, dalam e-commerce juga sudah mengembangkan artificial intelligence yang dapat meng-capture analitik data yang dibutuhkannya.

“Melalui artificial intelligence, mereka bisa melakukan prediksi Indonesia mau kemana nih. Kalau kita tidak melakukan digitalisasi segera, maka kita akan menjadi objek terus,” kata Jati Widagdo, Direktur Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS), saat ditemui TruckMagz beberapa waktu lalu di Jakarta.

Jati mengungkapkan bahwa problem yang ada sekarang adalah visibilitas, karena pemilik barang tidak bisa memantau pergerakan serta melakukan trace and tracking-nya. “Dalam hal ini secara advanced kita lebih bicara masalah data analytic-nya, karena ke depan kita harus menguasai analytic-nya. Analitik data harus ada karena akan sangat menguntungkan buat Indonesia. Karena dari analitik data ini bisa mengetahui industri yang dominan apa dan tujuannya ke mana saja, ending-nya akan sampai ke sana,” ujarnya.

Langkah ke arah tersebut tengah diupayakan ILCS dengan menggandeng beberapa asosiasi terkait. “Kita harus membuat ekosistem ini berkomunikasi. Oleh karena itu, kami bersama ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) dan Aptrindo (Asosisasi Pengusaha Truk Indonesia) duduk bareng untuk membuat sesuatu yang bagus buat logistik nasional,” kata Jati.

Salah satunya yang simpel, kata Jati, pihaknya tengah membikin platform My Cargo dengan melibatkan banyak pihak di dalamnya. “Sebenarnya idenya seperti Traveloka. Jadi pesan kapal kemudian kemudian saya mengurus dokumen-dokumennya, lalu saya mengurus trucking-nya, kemudian nanti bagaimana gudangnya, bagaimana deponya, bagaimana pembayarannya. Semua itu harus dijahit dalam satu platform. Saat ini kita mulai sebagian tetapi sudah membawa konsep makronya. Karena kalau parsial nanti berjalannya hanya parsial saja dan impact-nya tidak signifikan banget, maka harus kita bangun secara keseluruhan,” urainya.

Platform Transactional
Screenshot official web ALFI

Jati menegaskan bahwa platform ini bukan bicara sistem di Pelindo, mengingat ILCS merupakan anak perusahaan dari Pelindo dan Telkom, namun lebih kepada platform logistik secara nasional. Sehingga konteksnya lebih ke arah bagaimana My Cargo dapat dipakai oleh seluruh pelaku logistik Indonesia.

“Mulai dari shipping, freight forwarder, consignee, dan trucking-nya. Kemudian nyambung ke terminalnya baik itu ke Pelindo maupun pihak swasta yang menyediakan fasilitas terminal barangnya, kemudian nyambung ke pemilik barang yang semuanya harus bisa berkomunikasi melalui sistem ini,” ungkapnya.

Terkait dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan dokumen lain yang berkaitan dengan ekspor-impor, menurut Jati, INSW (Indonesia National Single Window) sesuai ketetapan Perpres Nomor 10 Tahun 2008 itu juga merupakan sistem yang menjadi satu kesatuan yang dapat saling berkomunikasi.

“Jadi ada INSW, ada InaPortnet, kemudian ada sistem yang dimiliki oleh Pelindo, kemudian ada sistem berplatform transactional. My Cargo ini kan platform transactional atau semacam marketplace-nya, tetapi semuanya nanti akan terkoneksi ke INSW dan akan terhubung ke InaPortnet karena itu sistem yang dimiliki oleh negara,” ujarnya.

 

Editor: Antonius
Foto: Dok. TruckMagz

 

 



Related Articles

Sponsors

AFFA-logisticsphotocontest 

Capture 

web-banner-327x300 truck

logo-chinatrucks300 327pix