Tol Pertama di Kalimantan akan Beroperasi Akhir 2019

10 / 09 / 2019 - in News

Terkait rencana Pemerintah Indonesia memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur tepatnya di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, yang telah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo Pada 26 Agustus 2019 lalu sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mengebut pembangunan Tol Balikpapan-Samarinda.

Kementerian PUPR menargetkan jalan Tol Balikpapan-Samarinda dapat beroperasi pada akhir Oktober 2019. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Danang Parikesit mengatakan, hingga awal September ini progres jalan Tol Balikpapan-Samarinda sudah mencapai 97 persen.

“Saat ini progres konstruksi telah mencapai 97 persen. Kami optimis untuk seksi dua hingga seksi empat ditargetkan beroperasi pada akhir tahun 2019, untuk mendukung Natal 2019 dan Tahun Baru 2020,” kata Danang dalam keterangan resminya.

Jalan tol yang dibangun melintasi Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara atau calon ibu kota RI yang baru ini, panjangnya mencapai 99,34 kilometer (km) ini. Tol ini terdiri dari lima seksi, yaitu seksi I Km 13-Samboja (22,025 km), Seksi II Samboja-Muara Jawa (30,97 km), Seksi III Muara Jawa-Palaran (17,3 km), Seksi IV Palaran-Jembatan Mahkota II (17,5 km), dan Seksi V Km 13-Sepinggan (1,65 km).

Dalam pembangunan jalan tol tersebut, pemerintah memberi dukungan konstruksi untuk Seksi I dan V dengan total panjang 33,115 km guna meningkatkan kelayakan finansial ruas tol tersebut. Sementara untuk Seksi II-IV sepanjang 66,235 km dikerjakan oleh Badan Usaha Jalan Tol PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS).

Menurut Danang, kehadiran Jalan Tol Balikpapan-Samarinda akan memangkas waktu tempuh hingga 50 persen. “Jika menggunakan jalan tol ini akan lebih cepat separuhnya. Kalau biasanya tiga sampai empat jam, maka bisa setengahnya saja 1,5 sampai dua jam,” katanya.

Pembangunan Tol Balikpapan-Samarinda yang memiliki nilai investasi sebesar Rp 9,9 triliun ini diharapkan dapat menjadi sarana dasar pengembangan ibu kota negara yang baru. Mengingat dengan terbangunnya jalan tol akan menciptakan kawasan perekonomian baru di Pulau Kalimantan, sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

Danang mengatakan bahwa Jalan Tol Balikpapan Samarinda dirancang sebagai penghubung ibu kota Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda dengan sejumlah kota bisnis lainnya, seperti Balikpapan, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, dan Bontang.

Selain itu, kata Danang, jalan tol ini semakin strategis ketika didukung infrastruktur lainnya menuju Pelabuhan Semayang di Balikpapan dan Pelabuhan Samarinda. “Konektivitas jalan Tol Balikpapan-Samarinda dengan pelabuhan ini untuk mendukung livelihood (penghidupan) bagi ibu kota negara,” tambahnya.

Sementara itu, menurut Direktur Utama Jasa Marga, Desi Arryani, jalan Tol Balikpapan-Samarinda akan menjadi cikal bakal pembangunan infrastruktur lainnya untuk pengembangan kawasan ekonomi terpadu di Kalimantan. “Salah satunya, jalan tol ini akan terhubung langsung Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan, sebelas kilometer dari Balikpapan. Dapat diproyeksikan juga jalan tol ini akan mendapatkan bangkitan lalu lintas karena berperan sebagai penghubung ibu kota negara dengan dua daerah utama lainnya, yaitu Balikpapan dan Samarinda,” ujar Desi.

Direktur Utama PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS), STH Saragi optimis dapat memenuhi target jumlah kendaraan yang melintasi Jalan Tol Balikpapan-Samarinda per harinya. “Saat ini kami menargetkan sekitar 10.000 kendaraan dapat melewati jalan tol ini setiap harinya. Kami optimis angka tersebut dapat tercapai, bahkan lebih dari itu, karena Samboja sebagai daerah yang dilewati jalan tol ini telah resmi wilayahnya menjadi bagian dari ibu kota negara yang baru,” kata Saragi.

 

Editor: Antonius
Foto: BPJT



Related Articles

Sponsors

AFFA-logisticsphotocontest 

Capture 

web-banner-327x300 truck

logo-chinatrucks300 327pix