Tips Praktis Menyusun Sistem Manajemen Keselamatan

16 / 10 / 2020 - in Berita

Sistem manajemen keselamatan secara umum masih sering terabaikan, hal ini ditunjukan dengan masih tingginya angka kecelakaan yang terjadi. Oleh karena itu, untuk mencegah kecelakaan dan menjaga keselamatan ketika diperlukan suatu sistem manajemen keselamatan yang mengatur dan menjadi acuan bagi pekerja serta pemilik perusahaaan transportasi.

Dalam paparannya, Irwan Arifianto, Plt Kasubdit Keselamatan Direktorat Sarana Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat menyebutkan penyebab kecelakaan terbesar adalah manusia. Penyebab kecelakaan sebear 61% adalah faktor manusia, lalu 30% karena sarana dan faktor lingkungan, dan 9 % karena faktor teknis kelaikan kendaraan. Dari data Ditjen Perhubdat juga diperoleh perilaku pengemudi penyebab kecelakaan adalah 30% karena tidak waspada, 20% pengemudi tidak menjaga jarak aman, 20% pengemudi ceroboh ketika berbelok, 15% pengemudi ceroboh mendahului kendaraan lain dan 10 % pengemudi melebihi batas kecepatan,” jelasnya pada Focus Group Discussion (FGD) berjudul Sistem Manajemen Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Purwokerto pada Rabu (14/10).

Berdasarkan analisis Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pada peristiwa kecelakaan angkutan umum terjadi dalam kurun 2014-2018, setiap kecelakaan disebabkan oleh beberapa faktor. “Pada data kecelakaan angkutan umum penyebanya adalah kegagalan fungsi rem, beban berlebih dan barang tercecer, kondisi geometri jalan, keterampilan mengemudi, manajemen keselamatan pada perusahaan buruk atau tidak ada, kendaraan tidak laik jalan, target setoran, pelanggaran aturan dan kecepatan berlebih, Jumlah korban kecelakaan angkutan umum tercatat 207 korban meninggal dunia, 124 orang mengalami luka berat, dan 255 orang mengalami luka ringan, maka dari itu penerapan SMK ini penting karena keselamatan adalah invetasi. Ada kerugian yang harus diterima perusahaan jika sering kecelakaan. Implementasi SMK bagi angkutan umum menjadi wajib dan segera,” tegas Irwan.

Dalam paparannya, Investigator senior KNKT Ahmad Wildan menjabarkan pengertian SMK. “SMK adalah sebuah sistem yang memberdayakan semua yang ada, baik itu hardware, software untuk menemukenali dan mengendalikan setiap risiko yang ada dalam proses bisnis. Jadi SMK ini bukan sekedar tumpukan dokumen. SMK ini harus ada standar dan prosedur. Selain itu, SMK ini levelnya. Ada efektifitas nilainya. Level pertama adalah pathological level. Mulai dari sini SMK dibuat. Pada tahap ini level perusahaan  hanya mengetahui risiko dan hazzard. Walaupun sebenarnya mengenali resiko dan hazzard bukan hal mudah. Perusahaan transportasi perlu dikenalkan beberapa risiko. Sebelumnya kami memetakan risiko ini dalam 30 pertanyaan, sekarang kami jabarkan lagi dalam 100 pertanyaan evaluasi,” jelas Wildan.

“Level kedua adalah reactive level, pada tingkatan ini perusahaan memahami ada risiko dan langsung bertindak. Ketiga, calculative level, maksudnya perusahaan merespon dengan membuat anggaran dana untuk tahun berikutnya. Keempat, proactive level. Di level ini perusahaan sudah mencapai standar profesional. Kelima, generative level. Perusahaan mengembangkan riset, hingga dibentuk lembaga yang melakukan riset terhadap risiko,” tambah Wildan.

Wildan menjelaskan cara praktis menyusun SMK. Tahap awal adalah dengan melakukan evaluasi diri dengan jujur. ” Kami susun pertanyaan dan jawaban mengenai risiko keselamatan. Nanti perusahaan tinggal menjawab dengan jujur untuk menentukan posisi perusahaan ada dimana. Setelah itu, baru membuat program. Program apa yang bisa dikerjakan? Paling mudah berdasarkan jawaban dari pertanyaan. Supaya naik level tapi tidak banyak mengeluarkan dana, cari poin apa saja yang mungkin. Dengan naik level, risikonya akan terkendali. Yang penting ada progress. Tahun berikutnya, program yang sudah dilaksanakan tadi, perlu dilakukan evaluasi. Lalu, susun program lagi. Itu namanya berkelanjutan, itulah pentingnya SMK. Sehingga SMK itu harus di-assessment setiap tahun,” imbuh Wildan.

“Saya berikan contoh pertanyaan dari form evaluasi diri pada bagian kendaraan. Apakah dalam setiap pembelian armada yang baru perusahaan menguasai teknologi yang ada pada kendaraan tersebut? Jawabannya. Jika perusahaan meminta diagram kelistrikan bus, manual pemeliharaan serta mengirim mekaniknya untuk belajar hal tersebut, mendapat poin 100. Jika menjawab perusahaan akan meminta manual pemeliharaan bus dan diagram kelistrikannya, mendapat poin 75. Jika menjawab perusahaan akan meminta manual pemeliharaan bus tersebut, hanya mendapat poin 50. Tapi jika menjawab tidak, dan bersedia mempelajari, hanya mendapat poin 25. Intinya, fungsi SMK menghilangkan risiko kesalahan faktor manusia, Jadi memutus mata rantai sebuah risiko,” Wildan.

“Dengan membaca pertanyaan evaluasi diri akan menjadi tahu ada risiko yang harus diketahui perusahaan. Manajemen artinya ada goal yang ingin dicapai dan ada keterbatasan sumber daya. Itulah perlunya manajemen. Ketika mengisi SMK akan langsung tahu posisi risiko dalam berbisnis, ada dimana, perlu dana berapa dan perlu waktu berapa lama untuk mencapai itu. Jadi SMK itu bukan hanya sekedar dokumen tapi membangun sebuah sistem untuk mengetahui sebuah risiko dalam proses bisnis,” pungkas Wildan.

Editor : Sigit

Foto : TruckMagz

 



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix