Tiga Indikator untuk Jalani Skenario Kenormalan Baru

27 / 06 / 2020 - in Berita

Hasil riset yang dilakukan konsultan transformasi strategis, Daya Qarsa, menyatakan bahwa ada tiga skenario untuk berubah di tengah pandemi di Indonesia, yakni kenormalan baru, chaos atau kekacauan, dan survival atau bertahan hidup. Daya Qarsa juga menyatakan dari hasil risetnya bahwa ada tiga indikator dalam setiap skenario, yaitu epidemiologi (terkait penyebaran penyakit menular pada manusia), ekonomi, dan indikator bisnis.

Berdasarkan riset tersebut, skenario kenormalan baru memiliki indikasi epidemiologi dengan jumlah positif Covid-19 antara 5.000-50.000 kasus, ekonomi dengan PDB 3-4 persen, dan indikasi bisnis ditandai dengan gangguan rantai pasok yang kecil.

Sementara skenario chaos memiliki indikasi epidemiologi dengan jumlah positif Covid-19 lebih dari 50 ribu kasus, ekonomi dengan PDB 0-3 persen, dan indikasi bisnis ditandai dengan gangguan rantai pasok dan penyangga uang tunai sebesar 50 persen.

Sedangkan skenario survival punya indikasi epidemiologi dengan jumlah positif Covid-19 lebih dari 100 ribu kasus, ekonomi dengan PDB -0,4  persen, dan indikasi bisnis ditandai dengan setopnya produksi dan tidak adanya penyangga uang tunai.

Daya Qarsa menyatakan bahwa jika tiga indikator (epidemiologi, ekonomi, bisnis) ini terpenuhi, maka skenario kenormalan baru bisa dijalankan.

Menurut Daya Qarsa, jika pemerintah berhasil mengendalikan virus dalam dua sampai tiga bulan dengan puncaknya pada akhir April, dan jumlah kasus menurun secara signifikan pada Juni 2020 maka indikator epidemiologi bisa terpenuhi. Hally menambahkan bahwa pada saat indikator ini terpenuhi tetap perlu melaksanakan physical distancing dengan kebijakan terbatas.

Untuk indikator ekonomi, Daya Qarsa menyatakan bahwa respons kebijakan dapat mencegah kerusakan struktural pada ekonomi. Rebound setelah virus berhasil dikontrol mengembalikan perekonomian ke level dan momentum sebelum krisis. Pertumbuhan PDB menurun menjadi sekitar 3-4 persen. “Setahu saya PDB Indonesia saat ini kalau tidak salah berada di angka 2,7 persen atau 2,9 persen,” kata Hally Hanafiah Chief Operating Officer PT Iron Bird Logistic.

Terkait indikator bisnis, Daya Qarsa menyebut ada sedikit gangguan dalam supply chain atau rantai pasok, namun sebagian besar bisnis masih beroperasi dengan cara baru. Layoffs atau PHK dan kebangkrutan sebisa mungkin hanya di sektor yang paling parah terkena dampaknya.

Menanggapi hasil riset dari Daya Qarsa ini, Hally mengatakan bahwa hasil penelitian ini bisa dijadikan salah satu referensi sebagai pedoman. “Tentunya proyeksi atau prediksi ini pun masih bisa bergeser, tetapi paling tidak kalau kita masuk new normal menurut Daya Qarsa, itu sudah bisa mendeteksi indikatornya apa saja,” katanya.

 

Editor: Antonius
Ilustrasi: Anton



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix