Tantangan Penerapan Blockchain dalam Industri Supply Chain di Indonesia

21 / 10 / 2020 - in Berita

Blockchain adalah salah satu jenis database baru yang bermanfaat jika dipakai dalam suatu proses atau industri yang memiliki banyak pihak dan saling berkolaborasi. Blockchain ini juga cukup ideal untuk diaplikasikan pada supply chain dan logistik. Karena dalam industri tersebut banyak yang terlibat dalam siklus suatu produk, dari produsen sampai konsumen akhir. Selain itu, blockchain juga dapat memverifikasi sumber produk dan melacak aset yang menciptakan hubungan tepercaya antara pemasok dan pembeli.

“Blockchain ibarat sebuah ledger technology yang merekam setiap transaksi dalam satu buah “block”, dimana tiap block ini terhubung dengan block (transaksi) lain yang terjadi sebelum dan sesudah sebuah transaksi dilaksanakan. Proses ini menggunakan teknologi kriptografi. Ide dasarnya dari bitcoin. Misalnya: A ekspor jeruk dari Cina ke Indonesia kepada B seharga Rp 10.000 / kilogram aritnya ini satu transaksi, dan prosesn ini direkam oleh semua pihak yang dilalui jeruk, yaitu A, B, pelabuhan, pabean dab auditor. Sehingga semua pihak tahu jeruk tersebut ditanam dimana, apakah tenaga kerja di kebun jeruk sudah memenuhi pestisida apa yang digunakan,” buka Ricky Virona Martono, Dosen di PPM Manajemen Jakarta ketika mengisi acara Kulgram TruckMagz pada Senin (19/10).

Lebih lanjut Ricky menjelaskan manfaat dan isu-isu penerapan Blockchain seperti meningkatkan komunikasi antar perusahaan yang berkolaborasi, meningkatkan utilitas aset, working capital, meningkatkan keterbukaan data dan sales dengan supplier, berpotensi mengurangi stockout dan bullwhip effect, meningkatkan customer experience, karena ada sarana komunikasi yang lebih dekat dan efisien antara perusahaan dan konsumen, mengefisienkan proses administrasi, dan memonitor data pengiriman secara real time, memudahkan proses audit, karena semua data sudah tersedia, tanpa ada manipulasi.

“Setiap pihak di Supply Chain pun memiliki “suara” yang setara. Dan karena tiap transaksi saling terhubung, maka semua transaksi dapat dilihat oleh semua pihak yang terlibat. Transaksi tambahan tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan semua pihak yang terlibat tadi. Artinya, tidak ada satu pihak di dalam maupun di luar sistem yang dapat merubah urutan, menambah atau mengurangi informasi, maupun menduplikasi informasi. Sejauh ini, saya kira ini adalah karakter utama dari sebuah sistem blockchain,” jelasnya.

Dalam jaringan blockchain tidak adanya pihak perantara, semua pihak memiliki porsi yang sama, dan semua pihak juga tidak dapat merubah urutan transaksi. Kedepannya, transaksi jual-beli mungkin tidak lagi menggunakan jasa bank untuk mentransfer uang, namun pengiriman uang terjadi langsung dari pembeli kepada penjual. Di Industri 4.0, dalam sebuah platform ada sistem blockchain yang bekerja, dan dimanfaatkan oleh seluruh pihak di sebuah supply chain.

Menurut Ricky, ada tantangan yang harus dihadapi Indonesia ketika menerapkan blockhain pada sistem rantai pasok. “Tantangan pertama adalah trust. Seperti halannya pada kasus Maerks, sudah menjalin kerjasama yang erat dalam waktu lama sebelum menerapkan blockchain. Dunia industri, logistik, supply chain Indonesia memang masih jauh, antara manufaktur dan supplier saja tidak selalu terbuka. Kedua adalah infrastruktur. Jika melihat di negara maju, memang kita tertinggal. Untuk konsep green, halal logistik, ini pun kita masih on-progres. Ketiga, adalah SDM Indonesia yang masih kurang. Yang gap-nya masih besar adalah SDM,” jelasnya.

Editor : Sigit

Foto : TruckMagz



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix