Tanpa ODOL, Negara Menghemat 43,45 Triliun untuk Pembangunan Jalan

29 / 11 / 2018 - in News
ODOL

Upaya penuntasan truk over dimensi over load (ODOL) masih terus berlanjut. Kerugian yang ditimbulkan akibat ODOL antara lain penurunan tingkat safety, kemacetan, polusi dan kerusakan dini pada jalan. Berdasarkan data Kementerian PUPR, infrastruktur jalan yang rusak berat akibat ODOL di seluruh Indonesia mencapai 8 persen. Padahal tanpa adanya ODOL, kerusakan jalan di Indonesia bisa diminimalisasi dan negara dapat melakukan penghematan hingga 43,45 triliun per 10 tahun.

Direktur Preservasi Jalan, Direktorat Jendral Bina Marga, Kementerian PUPR Atiyanto Busono menyatakan bila pihaknya terus berkoordinasi dengan semua pihak untuk mengurangi kerusakan jalan akibat ODOL. Salah satu upaya pemantauan ODOL oleh Bina Marga adalah penggunaan Weigh In Motion (WIM).

”Kami sudah melaksanakan WIM sejak tahun 2010. Fungsi WIM bagi kami adalah sebagai metode pengumpulan data untuk salah satu parameter input dalam pengelolaan infrastruktur jalan. Data itu kami gunakan untuk kegiatan manajemen aset jalan atau menentukan kebutuhan pemeliharaan jalan dan perkerasan jalan. Namun, fungsi pokok dari WIM adalah skema pengendalian berlebih kendaraan yang melintas di jalan,” kata Atiyanto.

Atiyanto mengatakan, pihaknya terus melakukan survey jalan rusak dari berbagai sekala (ringan, sedang dan berat). Menurutnya, 8% kerusakan jalan berat yang terjadi di seluruh Indonesia akan segera ditindaklanjuti. ”Tanpa adanya ODOL, sebuah jalan dengan umur rencana 10 tahun, akan dapat melakukan penghematan sebesar 7,450 miliar per 10 tahun, atau 0,7450 per tahun (lalu lintas tinggi). Di lalu lintas sedang, penghematan yang dilakukan adalah 495 miliar per 10 tahun, atau 0,495 per tahun. Di lalu lintas rendah, penghematan yang dilakukan 3,965 miliar per 10 tahun, atau 0,3965 per tahun,” papar Atiyanto.

Dari jumlah penghematan itu, dapat dilihat jumlah penghematan yang terjadi. Cara menghitung penghematan itu adalah sebagai berikut:
a.    Panjang jalan tol = 1054 km
b.    Panjang jalan nasional = 47.017 km (lalu lintas tinggi: 9.624,79 km; lalu lintas sedang: 5.842,95 km; lalu lintas rendah: 31.549,54 km)
c.    Panjang jalan provinsi = 48.914 km (lalu lintas tinggi: 10% jaringan; lalu lintas sedang: 20% jaringan; lalu lintas rendah: 70% jaringan)

1.    Jalan tol= 0,745 M/Tahun x 1054 Km = 785,23 M/Tahun
2.    Jalan nasional (lalu lintas tinggi)  = 0,495 M/Tahun x 9.624,79 Km = 4.764,27 M/Tahun
3.    Jalan nasional (lalu lintas sedang) = 0,495 M/Tahun x 5.842,95 Km = 2.892,2 M/Tahun
4.    Jalan nasional (lalu lintas rendah) = 0,495 M/Tahun x 31.549,54 Km = 15.617 M/Tahun
5.    Jalan propinsi (lalu lintas tinggi) = 0,3965 M/Tahun x 10% x 48.914 Km = 1.939,4 M/Tahun
6.    Jalan propinsi (lalu lintas sedang) = 0,3965 M/Tahun x 20% x 48.914 Km = 3.878,4 M/Tahun
7.    Jalan propinsi (lalu lintas rendah) = 0,3965 M/Tahun x 70% x 48.914 Km = 13.576 M/Tahun

Bila mengacu penghitungan penghematan jalan, maka total penghematan untuk seluruh ruas jalan (jalan tol, jalan nasional dan jalan provinsi mencapai 43,45 triliun per 10 tahun. Atiyanto menyatakan bila pihaknya akan terus berkoordinasi dengan semua pihak yang terkait karena persoalan ODOL melibatkan banyak pihak. Hal ini dilakukan agar dapat terus menekan kerugian akibat ODOL.

Data pelanggaran ODOL di jalan tol pada 2018:

ODOL
Sumber: Ditjen Bina Marga

 

Teks: Citra
Editor: Antonius
Ilustrasi: Giovanni



Related Articles

Sponsors

GIIAS

KI-2018-Web-Banner-320x327 (TruckMagz)

1cemat-banner300-80-cn 

logo-chinatrucks300 327pix

FA-CVL-Digital-Banner-300x327-pixel