Tanggapan Aptrindo Jateng Mengenai Denda Truk ODOL Masuk Tol

25 / 11 / 2021 - in Berita

Hampir seluruh negara di dunia punya dua pilihan jalan, ada yang berbayar maupun tidak berbayar. Tidak terkecuali juga di Indonesia. Masyarakat berhak memilih untuk menggunakan yang berbayar maupun yang tidak berbayar. Bedanya, di jalan berbayar biasanya ada peraturan tambahan atau pembatasan penggunaan, sementara di jalan tidak berbayar biasanya lebih dibebaskan penggunaannya.

Menanggapi pernyataan Sekretaris Jenderal Asosiasi Tol Indonesia ( ATI ) Kris Ade Sudiyono tentang seharusnya diberikan sanksi atau denda terhadap kendaraan truk Overdimensi & Overloading ( ODOL ) yang masuk ke jalan tol, karena berpotensi dapat menyebabkan kerusakan.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia ( Aptrindo ) Jateng & DIY Bidang Sarana & Prasarana Angkutan Yanuar Iswara menyatakan, pihaknya mempersilahkan pengelola jalan tol untuk mengaturnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah yang berlaku.

“Biaya perbaikan dan perawatan, termasuk pengadaan seluruh fasilitas jalan tol kan menjadi tanggung jawab pengelola tol dan mereka adalah investor yang tentunya berharap adanya keuntungan bisnis. Jadi silahkan saja diatur apakah truk mau di sanksi atau dilarang masuk sekalian, asal tidak terlalu memberatkan bagi masyarakat pengguna jalan tol”, kata Yanuar.

Selain mempersilahkan anggota APTRINDO untuk bebas memilih mau menggunakan jalan tol yang berbayar atau jalan arteri lama yang tidak berbayar. Yanuar  juga menyarankan agar pengelola jalan tol memasang timbangan di tiap-tiap pintu masuk jalan tol, agar penentuan boleh atau tidaknya kendaraan truk masuk ke jalan tol tidak hanya berdasarkan kira-kira saja.

Yanuar menambahkan,”Truk masih bisa melalui jalan arteri lama yang tidak berbayar, kondisinya pun cukup bagus saat ini. Jika musim hujan tiba, baik jalan tol maupun jalan arteri memang semuanya pasti penuh lubang tidak ada bedanya sama sekali. Yang berbeda hanya di jalan arteri bisa ada pasar tumpah dan segala jenis kendaraan bisa berlalu lalang, sementara di jalan tol tidak begitu. Sedangkan soal potensi terjadinya kemacetan pun sama saja, di jalan tol juga sering terjadi kemacetan,” katanya.

“Saya kira wajar lah jika pengelola tol berpikir tentang untung dan rugi, karena mereka kan berinvestasi bisnis di jalan tol dan berharap keuntungan dari sana. Asal masih wajar saja. Beda halnya dengan pemerintah yang tidak berpikir untung dan rugi, karena pemerintah hanya bersifat memfasilitasi pembayar pajak saja,” ujar Yanuar.

Yanuar juga berharap pemerintah tetap bisa berlaku adil dengan terus melakukan perawatan terhadap jalan arteri lama, walaupun sudah semakin banyak jalan tol dibangun. Sehingga masyarakat pengguna jalan tetap punya alternatif pilihan mau menggunakan jalan yang mana sesuai dengan kemampuan dan urgensinya masing-masing.

Editor : Sigit

Foto : Truckmagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix