Sustainable Logistics

28 / 09 / 2021 - in

Logistik telah menyentuh hampir semua aktivitas manusia setiap hari. Logistik memengaruhi kualitas standar kehidupan masyarakat. Aktivitas logistik mencakup manajemen transportasi inbound dan outbound, pergudangan, pemindahan material, pemenuhan order, desain jaringan logistik, manajemen inventori, perencanaan supply dan demand, serta pengelolaan perusahaan 3PL. Fungsi logistik juga mencakup pencarian dan pengadaan material, penjadwalan dan perencanaan produksi, perakitan dan pengepakan, serta layanan pelanggan.

Fungsi logistik yang dijalankan secara efektif akan menciptakan nilai tambah suatu produk, terutama peningkatan nilai produk dari nilai waktu dan tempat. Logistik mampu menjadi intermediary dua sisi dari pasar, yaitu supply dan demand, dengan menghadirkan produk di pasar secara tepat kuantitas, kualitas, waktu, dan lokasi, dengan biaya yang efisien.

Aktivitas logistik memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian suatu negara. Aktivitas logistik ini secara agregat terhadap gross domestic product (GDP) berkisar antara 8,3% sampai 27%. Sebagai contoh, Amerika Serikat 8,5%, Brazil 12%, Afrika Selatan 12,8%, India 13,0%, Tiongkok 18,0%, Vietnam 25,0%, dan Indonesia 27,0% (Murphy & Knemeyer, 2018).

Aktivitas logistik memerlukan operasional transportasi dan pergudangan yang mengkonsumsi sumber daya, seperti bahan bakar, listrik, dan mengeluarkan emisi yang dapat merusak kualitas lingkungan. Biaya agregat dari sektor logistik yang dicatat pada GDP tersebut utamanya adalah biaya transportasi dan pergudangan. Pengurangan persentase biaya logistik yang kecil saja akan berdampak pada kualitas lingkungan karena berkurangnya pemakaian bahan bakar, air, limbah, dan emisi.

Perhatian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan bumi (sustainable) telah mendorong pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk secara serius melakukan perbaikan sistem dan operasional logistik. Aktivitas transportasi, penyimpanan, dan pembuangan material yang berbahaya seringkali dikendalikan dan diatur ketat oleh regulasi.

Collin English Dictionary (1998) mendefinisikan sustainable dalam dua perspektif: (1) kemampuan untuk tetap memiliki sumber daya energi (economic development) dan (2) kemampuan untuk tetap memelihara ekosistem lingkungan agar tidak rusak (sustainable development). Pengertian sustainable mengalami pengembangan. Sustainable diartikan sebagai konsumsi sumber daya tidak hanya untuk generasi hari ini, namun harus menjamin ketersediaan sumber daya untuk generasi masa depan.

Aktivitas transportasi dan penyimpanan memerlukan pasokan energi yang cukup besar. Sumber energi untuk transportasi umumnya menggunakan energi yang tidak terbarukan. Selain itu, emisi moda transportasi seperti truk, kereta api, kapal, dan pesawat menghasilkan karbon dioksida (CO2). Emisi CO2 yang dihasilkan dari aktivitas logistik ini cukup besar. Pada tahun 2009 World Economic Forum (WEF) mengestimasi emisi aktivitas logistik menghasilkan rata-rata per tahun 2.800 mega-ton CO2 atau sekira 6% dari emisi total 50,000 CO2 yang dihasilkan dari semua aktivitas manusia di bumi.

Upaya untuk mengurangi pemakaian input energi dan emisi CO2 menjadi perhatian serius dalam mengelola logistik saat ini dan di masa depan. “Greening” aktivitas logistik dan supply chain menjadi program stratejik banyak organisasi dan perusahaan untuk memastikan bahwa aktivitas logistik dan supply chain dilakukan dengan memerhatikan lingkungan, keberlanjutan alam semesta, tidak ada pemborosan, dan fokus pada pengurangan emisi CO2.

Greening logistik dan supply chain menjadi tanggung jawab bersama dan perlu kolaborasi antarpihak: transporter dan perusahaan penyedia jasa logistik, pengirim (shipper), dan pembeli (buyer) sebagai penerima dan pemerintah atau non-pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

  1. Transporter dan perusahaan penyedia jasa logistik

Perusahaan penyedia jasa logistik dan transporter harus selalu mengadopsi teknologi terbaru dalam penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan dan efisien dalam mengkonsumsi sumber energi. Selain itu, jaringan infrastruktur logistik perlu dirancang secara efisien. Kolaborasi antar transporter/perusahaan penyedia jasa logistik untuk pemanfaatan carrier bersama agar vehicle digunakan secara optimal, sehingga konsumsi bahan bakar lebih sedikit. Pembangunan gudang dan fasilitas logistik perlu memerhatikan lingkungan (green building) dengan penggunaan teknologi terkini, pemanfaatan material dari recycling, dan pengelolaan limbah (waste management).

  1. Shipper dan buyer

Penetapan kesepakatan tingkat layanan dan kontrak indikator pengukuran kunci untuk melaksanakan green logistics dan supply chain antara shipper, buyer, dan perusahaan penyedia jasa logistik.  Kolaborasi dengan consumer dalam re-use, recycling, dan reduce produk atau sumber daya untuk mengurangi emisi CO2 dan penggunaan sumber daya secara efisien. Shipper dan buyer dalam strategi pengadaan material perlu menentukan pemilihan material yang ramah lingkungan, proses produksi yang paling efisien dalam emisi karbon, penggunaan kemasan recycling dan material yang paling ringan (light weight), penerapan kemasan modular, sehingga memudahkan dalam penanganan proses transportasi.

  1. Pengambil kebijakan

Pemerintah dan non-pemerintah dapat berkontribusi dalam greening aktivitas logistics dan supply chain melalui pembangunan infrastruktur logistik seperti pelabuhan, jalan raya, dan rel kereta api untuk mengurangi kemacetan, sehingga mendorong logistics dan supply chain seamless. Kebijakan pemberian insentif melalui regulasi perpajakan dan subsidi bagi transporter, perusahaan penyedia jasa logistik, shipper, dan buyer yang berkontribusi dalam pengurangan karbon.

Praktik-praktik terbaik

Mewujudkan green logistics dan supply chain menjadi fokus para pemimpin organisasi. Beberapa praktik terbaik dalam greening aktivitas logistics dan supply chain mulai diterapkan.

Greening warehouse

Dalam logistik, istilah “go” dan “stop” merujuk pada operasional utama logistik, yaitu transportasi dan pergudangan. “Go” untuk transportasi, operasional logistik yang mengangkut, membawa, dan memindahkan barang dari suatu lokasi dan node asal ke tujuan. Sementara “stop” untuk pergudangan, penyimpanan barang di gudang.

Dalam konteks supply chain, gudang diperlukan sebagai penyangga (buffer) untuk mengantisipasi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan suatu produk. Di pasar suatu barang, adakalanya terjadi kekurangan barang (shortage), yaitu bila permintaan barang melebih penawaran. Sebaliknya, di lain waktu, di pasar juga terjadi kelebihan barang (surplus), yaitu bila penawaran barang melebih permintaan. Banyak faktor yang menjadi penyebab shortage dan surplus. Gudang berperan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan barang di suatu pasar atas produk tertentu.

Kebutuhan pergudangan dari waktu ke waktu semakin meningkat, meski konsep “just-in time” telah banyak diterapkan dalam pengelolaan inventori, utamanya di sektor manufaktur dan ritel. “Just-in time” berupaya meniadakan persediaan (stock). Di sektor manufaktur, item barang seperti material dan komponen hanya disediakan pada saat diperlukan sesuai jadwal line process produksi. Demikian juga di sektor ritel, item barang hanya diproduksi atau disediakan pada saat ada order pembelian. “Just-in time” memerlukan proses bisnis dan sistem manajemen yang kompleks dan koordinasi antarpihak dalam rantai pasokan.

Perkembangan bisnis e-dagang memerlukan banyak gudang sebagai fulfillment untuk pemenuhan order pembelian transaksi daring. Gudang banyak dibangun dan dioperasikan di beberapa lokasi yang mendekati dengan pasar untuk mempersingkat lead time sejak dari order sampai pengantaran barang ke penerima.

Suatu bangunan termasuk gudang sangat erat hubungannya dengan jejak karbon (footprint carbon), baik pada saat pembangunan maupun dioperasionalkan.

Pada saat pembangunan gudang, pemilihan material konstruksi warehouse, baik jenis material maupun lokasi pembelian material berdampak pada jejak karbon yang dihasilkan. Pada saat gudang dioperasionalkan, penggunaan energi, kertas, transportasi dalam gudang, pemeliharaan, sampai pada limbah yang dihasilkan juga berdampak pada jejak karbon.

Jejak karbon didefinisikan sebagai jumlah emisi rumah kaca yang diproduksi oleh organisasi atau perusahaan, peristiwa (event), produk, atau individu yang dinyatakan dalam satuan ton karbon atau ton karbon dioksida ekuivalen.

Pemakaian listrik di gudang menyumbang 37% emisi CO2 total. Penggunaan energi terbesar di gudang adalah untuk pendingin, penerangan, pengoperasional material handling equipment, peralatan kantor, dan lain-lain. Beberapa contoh sederhana emisi CO2 yang dihasilkan dari penggunaan energi sebagai berikut: Setiap lampu berdaya 10 watt yang dinyalakan selama 1 jam akan menghasilkan 9,51 gram, komputer yang menyala selama 24 jam menghasilkan 14.000 gram CO2 ekuivalen, 1 lembar kertas A4 ukuran 70 gram menghasilkan jejak karbon setara 226,8 gram CO2, dan perjalanan dengan menggunakan mobil sejauh 1 KM akan menghasilkan jejak karbon CO2 ekuivalen 200 gram (IESR Indonesia).

Konsep gudang hijau (green warehouse) adalah gudang yang dalam perancangan, pembangunan, pengoperasional, dan pemeliharaannya memerhatikan aspek-aspek lingkungan dan sustainable.

Sejatinya, konsep green warehouse dimaksudkan untuk: (1) mengurangi atau meminimalkan penggunaan sumber daya alam, (2) mengurangi atau meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, serta (3) meningkatkan kualitas udara ruangan dan lingkungan gudang menjadi lebih sehat.

Operasional gudang berdampak pada lingkungan, utamanya emisi jejak karbon.  Ada dua hal yang perlu dilakukan assessment dalam pergudangan. Pertama, pada saat pembangunan atau konstruksi gudang. Kedua, pada saat operasional gudang.

Assesment konstruksi gudang untuk mengidentifikasi dan menilai berapa jejak karbon yang ditimbulkan selama proses kontruksi. Di dunia ini, ada dua lembaga kredibel yang melakukan assessment pembangunan warehouse baru. Pertama, yaitu the Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) yang dikembangkan oleh US Green Building Council yang berlokasi di US. Kedua, the Building Research Establishment Enviromental Assessment Method (BREEAM) yang dikembangkan oleh Building Research Assessment (BRE) yang berlokasi di UK.

Kedua lembaga tersebut paling banyak digunakan untuk assessment pembangunan gudang baru, yang menilai berapa banyak jejak karbon dan penghematan energi yang dihasilkan dari pemilihan material, proses pembangunan, kebijakan dan pengelolaan tenaga kerja, lingkungan kerja (K3), dan pilihan teknologi yang digunakan dalam operasional gudang.

Faktor-faktor dan pembobotan yang dijadikan kriteria dalam penilaian sustainaibility konstruksi gudang baru adalah:

  1. LEED: Energy and atmospher 30%, indoor environmental quality 15%, material and resources 12%, water efficency 10%, dan sustainable sites 9%.
  2. BREEAM: Energy 19%, health and wellbeing 14%, materials 12,5%, management 12%, land use and ecology 10%, transport 8%, waste 7,5%, pollution 6,5%, water 6%, dan hazards 1%.

Selain faktor-faktor kriteria tersebut, kedua lembaga assessment menambahkan faktor inovasi dengan bobot 10%. Pemeringkatan akreditasi atas hasil assessment diberikan mulai dari “Certified” sampai “Platinum” (LEED) dan “Pass” sampai “Outstanding” (BREEAM).

Status “outstanding” warehouse pertama kali diberikan oleh BREEAM untuk G. Park Blue Planet, distribution center yang berlokasi di Chatterly Valley, UK. Warehouse ini dibangun dengan menggunakan material dan teknologi yang ramah lingkungan dan mampu menghemat penggunaan energi senilai GBP300,000 per tahun (BRE, 2012). Fitur distribution center G. Park Blue Planet ini adalah permukaan lantai yang anti lengket (non-stick), lampu atap yang mampu membersihkan diri sendiri (self-cleaning roof lights), penggunaan tenaga surya (solar panel) untuk sumber listrik, dan teknologi kinetik yang disematkan dalam material handling equipment (Baker, 2016).

Pemilihan material konstruksi dan proses pembangunan gudang menentukan jejak karbon dan penggunaan sumber daya energi. Umumnya material utama kerangka (frame) konstruksi gudang berupa baja ringan, alumunium, kayu (timber), dan semen beton (concrete). Umur ekonomis setiap material konstruksi gudang bervariasi. Secara keseluruhan konstruksi gudang dirancang untuk penggunaan paling tidak 40 tahun. Meski dalam perkembangan bisnis dan operasional logistik, banyak dilakukan modifikasi dan pengembangan konstruksi gudang, seperti modifikasi pintu dock, ketinggian gudang, layout, pengaturan space gudang untuk multiclient, yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Setiap material memiliki emisi jejak karbon yang berbeda, yang melekat di material tersebut (emission embodied). Alumunium, misalnya, emisi jejak karbon setara penggunaan energi 1.000 megajoule setiap meter persegi (MJ/m2). Timber menyumbang emisi jejak karbon setara penggunaan energi 400 MJ/m2. Concrete menghasilkan emisi jejak karbon setara penggunaan energi 800 MJ/m2. Semakin lama umur ekonomis material, semakin hemat penggunaan energi. Alumunium memiliki umur ekonomis 40 tahun, sementara concrete bisa dua kali lipat lebih lama.

Lokasi sumber material juga memengaruhi emisi jejak karbon. Material yang diperoleh dari lokasi lokal berbeda dengan material yang diperoleh melalui impor. Perbedaan emisi jejak karbon dari faktor lokasi material disebabkan adanya transportasi material dari lokasi asal ke lokasi tujuan. Sebagai contoh, timber yang diimpor akan menghasilkan emisi jejak karbon 7.540 kWh/m3, sementara pengadaan timber lokal hanya menghasilkan emisi jejak karbon 110 kWh/m3 (Harris, 1999).

Lokasi gudang turut menyumbang emisi jejak karbon. Idealnya, lokasi gudang sebaiknya berada di center of gravity antara pemasok dan konsumen yang dapat mengurangi jarak transportasi.

Penggunaan material handling equipment dan pilihan teknologi pengaturan temperatur dan kelembaban ruangan juga berpengaruh terhadap emisi jejak karbon. Beberapa gudang dirancang dengan pengaturan suhu dan kelembaban tertentu sesuai karakteristik barang yang disimpan. Pengaturan suhu dan kelembaban memerlukan energi yang cukup besar yang menghasilkan jejak karbon.

Pengaturan lampu penerangan untuk menjaga suasana lingkungan kerja yang memerhatikan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pekerja menggunakan lampu yang mengkonsumsi energi listrik. Pemakaian lampu dengan teknologi LED akan menekan konsumsi energi listrik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lampu LED dapat menghemat energi, umur ekonomis lampu yang cukup lama, dan payback period investasi yang cepat (Long, 2010). Selain itu, penggunaan sumber energi listrik alternatif yang ramah lingkungan seperti energi listrik tenaga surya dapat diterapkan di gudang dengan memasang panel surya.

Penggantian sumber energi dari fuel ke energi listrik (battery) yang rendah emisi CO2 untuk mengoperasikan material handling equipment seperti forklift, menjadi pilihan dalam mewujudkan green warehouse. Pemilihan teknologi material handling equipment perlu mempertimbangkan tidak hanya sumber pasokan energi, namun juga harus memperhatikan pemeliharaan, umur ekonomis peralatan, dan disposalnya.

Operasional gudang memerlukan air. Tidak hanya untuk pekerja, air diperlukan untuk membersihkan gudang dan pengolahan produk yang memerlukan air untuk membersihkan sebagai aktivitas nilai tambah. Sumber air gudang ini umumnya diperoleh dari air PAM atau air tanah. Penggunaan sumber air dari tanah akan memengaruhi kualitas tanah. Gudang pada umumnya menempati area tanah dan bangunan yang cukup luas, penampungan air hujan menjadi alternatif untuk sumber air dalam operasional gudang.

Bergantung pada layanan nilai tambah yang diberikan, beberapa gudang memberikan layanan pengepakan sebelum barang didistribusikan. Pengepakan akan menghasilkan limbah atas penggunaan plastik atau material pengepakan yang digunakan. Limbah sisa material pengepakan perlu pengelolaan yang efektif agar tidak berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan.

Aspek sosial terutama dalam pengelolaan tenaga kerja operator gudang perlu menjadi isu penting dalam implementasi sustaianability operasional gudang. Selain aspek kesejahteraan pegawai, hal penting lainnya adalah aspek K3. Beberapa pengelola gudang mempekerjakan tenaga kerja di gudang dengan status kontrak waktu tertentu dan tenaga kerja outsourcing. Risiko pemutusan hubungan kerja karena habis kontrak menjadi “ketakutan” masa depan bagi banyak tenaga kerja operasional gudang. Masih rendahnya upah tenaga kerja operasional warehouse yang mengacu pada upah minimum regional (UMR) menjadi isu penting dalam praktik sustainable pengelolaan gudang.

Sustainable pengelolaan gudang perlu mempertimbangkan aspek risiko, disrupsi, dan ketangguhan operasional warehouse dalam menghadapi risiko supply chain, seperti bencana (disaster) baik yang disebabkan oleh alam maupun non alam. Pemilihan lokasi gudang yang relatif aman dari risiko bencana, rancangan konstruksi gudang, dan penggunaan material, peralatan warehouse yang relatif aman dari risiko dan disrupsi, akan turut menentukan sustainable operasional gudang.

Greening transportation. Tidak diragukan lagi, transportasi berperan penting dalam logistics dan supply chain. Transportasi memungkinkan suatu barang memiliki nilai ekonomi dari sisi tempat (place utility) dan waktu (time utility). Transportasi menyeimbangkan ketersediaan barang dari lokasi pasar yang surplus ke lokasi pasar yang memerlukan barang. Dalam konteks logistik, transportasi merupakan aktivitas penting yang menyerap biaya tidak kurang 70% dari biaya logistik.

Keputusan manajemen transportasi mencakup perencanaan rute, skedul, dan moda transportasi. Pemilihan rute untuk mendapatkan jalur transportasi yang paling pendek sesuai standar waktu yang diharapkan. Perencanaan skedul transportasi untuk menentukan jadwal keberangkatan (time departure) dan jadwal kedatangan (time arrival), yang memengaruhi cut-off masa penerimaan dan konsolidasi kiriman (shipment).

Beberapa perusahaan kurir dan penyedia jasa logistik seperti Pos Indonesia menetapkan estimasi waktu keberangkatan (departure time estimate) dan estimasi waktu kedatangan (arrival time estimate) untuk setiap nodenya. Di Pos Indonesia, node ini berupa kantor pos, agen pos, loket layanan pos keliling, dan sentral pengelolahan pos. Antarnode tersebut terhubungkan (connected) melalui transportasi dan informasi.

Transportasi menghubungkan (link) antar-node. Dalam konteks saluran pemasaran (marketing channel), node ini berupa fasilitas distribusi seperti gudang grosir, pusat distribusi, fulfillment center, dan toko pengecer. Konektivitas antar-node menjadi isu penting dalam logistik. Efektivitas transportasi seperti ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan, keamanan dan keterjagaan kualitas barang yang diangkut, dan keselamatan transportasi, menjadi tolak ukur keberhasilan manajemen transportasi, selain efisiensi biaya transportasi.

Pemilihan moda transportasi, seperti moda transportasi laut (sea freight), udara (air freight), jalan raya (road freight), rel kereta api (rail freight), dan jalur pipa (pipelines), disesuaikan dengan standar efektivitas dan efisiensi transportasi. Di setiap moda transportasi tersedia pilihan jenis kendaraan sesuai karakteristik jenis barang, jarak, kondisi infrastruktur, standar waktu, dan standar biaya. Sebagai contoh, untuk moda transportasi jalan raya, kita bisa memilih kendaraan jenis truk sesuai dengan kapasitasnya, truk trailer, truk tronton, truk wing box, van, dan lain-lain. Sementara untuk moda transportasi udara, kita bisa memilih long-haul air dan short-haul air.

Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan moda transportasi antara lain (Grant et al., 2017):

  1. Faktor eksternal menjadi pertimbangan dalam pemilihan moda transportasi seperti ketersediaan dan kualitas infrastruktur, kendaraan, dan penyedia jasa logistik. Selain itu, peraturan perundangan dan local law, tarif, retribusi, pajak, kebijakan emisi dan lingkungan, menjadi pertimbangan dalam pemilihan moda transportasi. Ketersediaan dan kualitas infrastruktur harus dilihat konektivitasnya ke lokasi dimana barang akan di antar. Beberapa operasional transportasi memerlukan multimoda, seperti rail freight memerlukan truk dan van. Demikian juga sea freight dan air freight memerlukan moda transportasi lain untuk menghubungkan secara end to end.
  2. Biaya dan layanan. Pemilihan jenis moda transportasi perlu mempertimbangkan kebutuhan layanan logistik yang diinginkan oleh pelanggan. Beberapa pelanggan mengirimkan barang dalam ukuran volume besar dan target waktu pengantaran barang yang cukup lama. Sementara beberapa pelanggan mengirimkan volume dalam ukuran kecil dan waktu pengantaran yang segera. Untuk kasus pertama, pemilihan moda transportasi lebih fleksibel. Selain itu, kecenderungan perusahaan menerapkan strategi “just-in time (JIT)” untuk manufaktur dan strategi “efficient consumer response (ECR)” untuk sektor ritel. Strategi JIT berimplikasi pengurangan inventory secara signifikan, setiap order dalam volume yang relatif sedikit, dan order cycle time yang semakin ketat dan pendek. Konsekuensinya, pemilihan moda transportasi dilakukan secara konsolidasi dengan waktu yang cepat. Strategi ECR untuk merespon perubahan permintaan dari konsumen ritel yang semakin cepat, karenanya diperlukan banyak frekuensi perjalanan (journey) dan menggunakan pengangkutan less-than-truckload (LTL).
  3. Karakteristik produk. Nilai produk, densitas berat (kg) dan volume (kubikasi) menentukan pilihan jenis moda transportasi. Karakteristik produk tersebut apakah kategori perishable, dangerous goods, dan value product menjadi pertimbangan penting dalam penentuan moda transportasi.
  4. Load factors. Utilisasi atau loading factor menjadi pertimbangan dalam pemilihan moda transportasi. Beberapa pengirim hanya melakukan pengiriman satu arah (one way), sementara kembalinya kosong (empty). Strategi pricing, pencarian kiriman balen (back haul), dan emisi moda transportasi menjadi fokus transporter atau penyedia jasa logistik untuk operasional transportasi.

Transportasi memengaruhi secara langsung kualitas lingkungan berupa emisi jejak karbon dan externalities. Dalam ilmu ekonomi, externalities merupakan dampak bagi publik dari suatu aktivitas ekonomi. Externalities bisa memberikan dampak positif dan negatif bagi publik. Transportasi sebagai aktivitas ekonomi memberikan externalities negatif berupa kebisingan (noise), kemacetan (congestion), dan risiko kecelakaan (accident), selain pencemaran kualitas udara.

Praktik-praktik terbaik dalam sustainable transport difokuskan untuk pengurangan emisi jejak karbon atau meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pertama, mengganti moda transport ke “greener transport”. Penggantian moda transport ke “greener transport” menjadi program penting untuk mengurangi emisi jejak karbon. Moda transportasi yang sekarang digunakan perlu di-assessment emisi jejak karbonnya. Menurut Defra (2011), emisi karbon yang dihasilkan setiap moda transportasi berbeda.

Sea freight dan rail freight menjadi pilihan moda transportasi yang paling rendah emisi CO2-nya. Penggunaan moda transportasi sea freight dan rail freight perlu ditingkatkan. Pembangunan infrastruktur “Tol Laut” diharapkan dapat memperbaiki fasilitas logistik maritim. Untuk mendorong penggunaan rail freight perlu perbaikan infrastruktur kereta api angkutan barang, baik penambahan jalur rel maupun perbaikan fasilitas bongkar-muat barang di stasiun.

Moda transportasi sea freight dan rail freight mampu mengangkut volume barang dalam jumlah besar dengan biaya per tkm yang relatif rendah. Konektivitas antarpelabuhan, ketersediaan angkutan feeder, dan multimoda menjadi prasyarat penting dalam pemanfaatan penggunaan sea freight dan rail freight untuk mengurangi biaya logistik sekaligus mengurangi emisi jejak karbon.

Kedua, mengurangi jumlah unit kendaraan. Emisi jejak karbon dari kendaraan jelas akan berkurang bila kita mengurangi jumlah unit kendaraan. Peningkatan perdagangan, baik transaksi e-dagang maupun globalisasi mendorong kebutuhan freight transport meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Pengurangan jumlah unit kendaraan dapat dilakukan melalui pengoptimalan kapasitas kendaraan, konsolidasi shipment, dan pemanfaatan kiriman balen. Konsolidasi shipment antarpembeli, antarpengirim, dan antarpemilik barang memungkinkan pengoptimalan kapasitas kendaraan.

Ketiga, penggunaan bahan bakar alternatif untuk mengurangi emisi CO2, seperti LNG dan energi terbarukan lainnya. Selain itu, cara mengoperasikan kendaraan pada saat mengemudikan kendaraan menentukan emisi CO2.

Ketiga, pemanfaatan ICT untuk informasi, pencarian, booking, dan konsolidasi shipment menjadi necessary condition dalam pengurangan jumlah unit kendaraan. Sistem telematik perlu diterapkan untuk memonitor kendaraan dan perilaku sopir. Pemantauan kendaraan dimaksudkan untuk memberikan informasi kepeda perusahaan dan pelanggan mengenai lokasi freight. Selain itu, catatan dashboard kendaraan akan terrekam dengan baik, seperti kecepatan kendaraan, kondisi temperatur, pengereman mendadak (harsh breaking), belok, menyalakan mesin pada kondisi idle time, efisien dalam pemakaian bahan bakar, dan lain-lain.

Informasi tersebut penting untuk evaluasi kinerja sopir dan mengukur kepatuhan operasional transportasi terhadap peraturan perundangan dan K3.

Keempat, peningkatan kapasitas jalan raya dan manajemen traffic untuk mengurangi kemacetan. Kemacetan merupakan pemborosan. Banyak idle time, kendaraan menunggu dan “membakar fuel”. Permasalahan kemacetan dapat dikurangi dengan dua cara: pengurangan traffic demand dan peningkaan kapasitas jalan raya.

Kelima, pengembangan dan penggunaan autonomous vehicle (driverless). Autonomous vehicle akan mengurangi kemacetan dan tingkat kecelakaan, dan penggunaan fuel secara efisien. Teknologi ini memberikan kontribusi signifikan terhadap sustainable transport.

***

Kesadaran global bahwa bumi dan alam semesta merupakan karunia Tuhan Yang Maha Pengasih kepada umat manusia untuk mengelola dan memakmurkan bumi bagi kesejahteraan manusia dan tetap bijak dalam memanfaatkan sumber daya bumi dan seisinya yang diwariskan untuk generasi mendatang.

Kesadaran pentingnya menjaga keberlanjutan (sustainable) lingkungan, bumi, dan alam semesta telah mendorong praktik-praktik sustainable di semua sektor kehidupan. Tidak terkecuali di sektor logistik. Praktik-pratik terbaik pengelolaan transportasi dan pergudangan perlu diimplementasikan di semua organisasi dan perusahaan untuk mewujudkan sustainable logistics dan supply chain. Karena, bumi dan alam semesta adalah “pinjaman” dari generasi mendatang. Pada saatnya kita akan mengembalikannya.

Editor : Sigit

 



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix