Suka Duka Pengemudi Truk Lintas Pantura

11 / 01 / 2016 - in News

Beberapa waktu lalu saat libur natal-Tahun Baru 2016, TruckMagz menyempatkan diri bercengkerama dengan rekan-rekan sopir truk di sekitar terminal truk Ancol. Selain untuk menjalin tali silahturahim, juga sebagai cara mendekatkan diri dengan keseharian mereka sebagai pengemudi truk lintas Jawa. 
Salah satu rekan sopir truk, sebut saja Nandang, mengatakan kalau enam truk akan berangkat ke Surabaya menjelang sore. Biasanya sopir ditemani seorang kernet, dan seorang pengawal keamanan. Selain Nandang, ada juga Ipung. Keduanya sudah lama menjadi pelintas jalur pantai utara Jawa (pantura).
Ipung lantas mengisahkan rutinitasnya sebagai seorang driver truk kawakan. Menurut ayah 3 anak ini, upahnya sebagai sopir truk waktu dulu dinilainya cukup besar. Dari hasil jerih-payahnya, dulu Kardi bisa membawa pulang sekitar Rp 7 juta setiap bulan. “Kalau pengiriman barang lagi ramai bisa lebih,” pungkas Ipung.
Namun jangan salah, penghasilan yang dihasilkannya dari keterikatannya dengan jalanan terkadang tidak bersisa. Maksimal, setiap pulang kampung, tempat keluarganya tinggal, di Pasuruan, Jawa Timur, Ipung hanya bisa membawa pulang uang sebesar Rp 700 ribu saja. Itu pun sisa uang operasional pengiriman. 
Pasalnya, setiap sopir mendapat rezeki dari tiap komisi. Hasil selisih antara uang operasional dengan total biaya pengiriman yang meliputi makan sehari-hari, bensin, dan biaya lainnya. Dengan hitung-hitungan ini, setiap sopir mendapat penghasilan beragam. Tentu saja ini bergantung pada pola hidup mereka sepanjang perjalanan pengiriman, dan ongkos hidup selama jauh dari rumah. Dalam sebulan, biasanya mereka mendapat empat kali tugas pengiriman.
Saat jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, Ipung yang tengah bersiap meninggalkan pangkalan Jakarta menuju Surabaya mendapat tugas untuk mengirimkan sekitar 2 ribu dus susu keluaran Nestle. Setiap dus berisikan 24 kaleng. Truk dengan berat total 25 ton yang dikemudikan Ipung merupakan satu dari ribuan truk yang melintas di pantura.

Jenis truk yang dikemudikan Ipung diklaimnya cukup tangguh melintasi pantura. Di luar itu masih ada jenis truk yang mempunyai spesifikasi bobot dan onderdil persis sama, namun meski sama-sama mengusung merk Jepang, truk-truk keluaran 2013 itu kurang diminati kalangan sopir. Ini dinilai kurang memiliki tenaga menerjang medan terjal berbukit karena tidak adanya mesin pendorong di bagian belakang.
Pengiriman di Jawa berbeda dengan pengiriman di lintas Sumatra. Para sopir di lintas Sumatera biasanya mendapat jatah uang operasional lebih besar ketimbang jalur pengiriman di Jawa. Bahkan jumlah uang operasional tersebut bisa mencapai Rp 10 juta. Dengan mekanisme pembagian komisi yang sama, jumlah uang operasional yang besar tersebut sepadan dengan risiko perjalanan.

Berdasarkan keterangan sopir truk lainnya, sebut saja Agus, di sepanjang jalur di Sumatra terdapat juru setop yang terkesan bengis, mereka adalah oknum aparat polisi lalu lintas yang kerap mensetop truk-truk angkutan barang. Tidak tanggung-tanggung, sekali setop, menurut pengakuan Agus, sopir harus merogoh kocek hingga Rp 200 ribu. Di samping itu, jalan lintas Sumatera juga terkenal rawan bahaya.
Adapun para pemilik barang enggan mengurusi soal asuransi barang yang mereka kirim, sehingga pengusaha trucking lah yang kerepotan untuk menanggung keselamatan maupun kerugian bila terjadi musibah bahkan perampokan atas barang maupun kru (sopir dan kernetnya). Tak pelak jika selama ini banyak pengusaha trucking yang menggunakan jasa pengawalan aparat, mengingat jalur pengiriman baik itu Pantura di Jawa terbilang rawan. 

Teks : Antonius S

Foto : Bayu Yoga



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix