Sudah Benarkah Program Pemerintah Dengan Biosolar B20?

11 / 09 / 2018 - in News
Aptrindo Jateng

Keputusan pemerintah tentang percepatan program penggunaan Biosolar B20 memang sangat dilematis dan bahkan bisa ditengarai sarat muatan politis.  Semakin terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar yang melambung tinggi belakangan ini membuat pemerintah tidak mempunyai banyak opsi untuk tetap mempertahankan harga BBM jenis Biosolar di angka Rp 5.150,- per liter.  Apa jadinya jika saat ini harga BBM bersubsidi dinaikkan ?

Hanya ada sedikit opsi yang tersedia saat ini, antara lain dengan cara memperbesar anggaran subsidi BBM atau mempercepat program penggunaan BBM jenis Biosolar B20. Saat ini pemerintah sudah merasa terlalu berat, karena subsidi yang diberikan sudah melonjak tinggi akibat perbedaan harga jual antara solar industri dan solar bersubsidi yang semakin melebar. Biasanya saat perbedaan harga antara BBM bersubsidi dan non subsidi sudah melebar agak jauh, maka kita sering mengalami kekosongan BBM bersubsidi di beberapa SPBU. Kita tidak pernah tahu penyebab pastinya, apakah karena BBM bersubsidinya habis diborong oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab dengan berbagai macam trik pembelian untuk mengelabuhi penjualnya, kemudian digunakan di sektor industri atau Pertamina nya yang sengaja mengurangi pasokan di saat subsidi mendadak melonjak untuk mengurangi beban kerugian negara.

Demi menahan agar anggaran subsidi tidak jebol, maka pemerintah telah memutuskan mempercepat program penggunaan Biosolar B20 untuk segera menggantikan posisi Biosolar B5 di pasaran.  Namun karena sudah terlanjur diputuskan, mau tidak mau kita harus segera mempersiapkan diri untuk menyikapinya dari sisi teknis terhadap truk-truk yang belum mempunyai filter solar bawah / water separator. Selain itu kita juga perlu semakin sering menjadwalkan pencucian rutin tangki BBM, karena bisa dipastikan residu endapan akan semakin banyak di dalam tangki. Ekstremnya bahkan bila perlu kita harus memasang mixer pengaduk di dalam tangki, jika ingin selamat.

Kenyataan lainnya, konsumsi Biosolar B20 juga di klaim oleh penggunanya lebih boros daripada yang grade nya lebih tinggi, yaitu B5 yang sebelum ini biasa kita gunakan. Hal ini tentunya akan semakin menaikkan biaya logistik di tanah air.

ATPM juga harus bersiap untuk merancang kembali jenis filter BBM yang sesuai dengan sifat Biosolar B20, jika tidak mau dipusingkan oleh problematika mesin yang pasti akan terjadi di kemudian hari, seperti sering mogok, bahkan gagal start.
Semua orang tahu, kualitas Biosolar B20 memang jauh dibawah B5 yang selama ini kita gunakan. Namun beberapa pabrikan kendaraan sudah berusaha menenangkan penggunanya yang masih ketar-ketir dengan menyatakan, bahwa mesin-mesin produk mereka sudah siap dan sudah diuji coba, bahkan mampu menggunakan Biosolar sampai kualitas yang lebih rendah lagi, yaitu jenis B30.

Apakah uji coba yang telah dilakukan tersebut sudah menyeluruh di segala jenis kendaraan dan valid?
Mengingat waktu penerapannya yang sangat tiba-tiba dan terkesan hanya bereaksi ditengah kepanikan saja.

Tentunya hal ini adalah sebuah perjudian besar, mengingat kebijakan ini sifatnya “pukul dulu, urusan belakangan”.  Kita semua sepakat untuk mencari solusi energi alternatif selain dari fosil yang jumlahnya semakin menyusut, namun sebaiknya tetap dengan menjaga kualitas, supaya tidak malah mengakibatkan pemborosan pada sektor dunia usaha.

Oleh

WhatsApp Image 2018-09-11 at 11.12.00
ARI ANDRIAN SUTRISNO
Wakil Ketua Bidang Angkutan Distribusi & Logistik
DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia ( APTRINDO ) Jateng

 



Sponsors

GIIAS

KI-2018-Web-Banner-320x327 (TruckMagz)

1cemat-banner300-80-cn 

logo-chinatrucks300 327pix

FA-CVL-Digital-Banner-300x327-pixel