Sistem Manajemen Berkontribusi Besar Atas Terjadinya Kecelakaan

15 / 10 / 2020 - in Berita

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan menggelar Focus Group Discussion (FGD) berjudul Sistem Manajemen Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Purwokerto, Rabu (14/10). FGD Ini membawaa misi penting KNKT untuk menekan tingginya kecelakaan yang diakibatkan oleh angkutan umum. Selain itu, bertujuan untuk memberikan sosialiasi kepada operator angkutan umum agar memahami manajemen keselamatan.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi menjelaskan pentingnya aspek menajemen dalam mewujudkan visi keselamatan. “Dalam kegiatan ini ada aspek keselamatan yang ingin disampaikan. Kami selalu mengingatkan kepada para operator, pengusaha dan asosiasi agar jangan sampai melupakan aspek safety. Dengan memontum kegiatan FGD ini, sekarang waktu yang tepat untuk memperdalam apa itu sistem manajeman keselamatan. Karena dalam sistem ini ada operator, kendaaraan, model bisnis proses hingga aspek pengawasannya. Sehingga outputnya adalah tentang keselamatan,” tegas Dirjen Budi.

“Pada pasal 204 ayat satu UU 22/2009 menjelasakan bahwa perusahaan angkutan umum wajib membuat, melaksanakan dan menyempurnakan sistem manajemen keselamatan dengan berpedoman pada rencana umum nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kecelakaan yang melibatkan angkutan umum di Indonesia ini cukup banyak. Pemerintah berupaya melakukan pembinaan dan membangun regulasi hingga pengawasan aspek keselamatan yang dapat mendukung keselamatan berkendara dengan sistem menajemen keselamatan. Kami berharap operator harus berupaya bersinergi dengan pemerintah. Karena aware ini tidak hanya tanggung jawab Kemenhub tapi juga pengusaha angkutan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono dalam menjelaskan mengenai penting manajemen keselamatan. “Dari hasil investigasi kami di lapangan, banyak perusahaan angkutan darat yang tidak memahami SMK. Dalam manajemen keselamatan ada barier-barier, misalnya training, aturan, SOP dan kompetensi pengemudi. Yang paling penting disini, tidak ada namanya kecelakaan karena faktor tunggal. Kecelakaan itu terjadi karena faktor -faktor yang lain. Seperti bagaimana istirahat pengemudinya, kontrol spare part yang dipasang di kendaraan hingga sertifikasinya,” terang Soerjanto.

“Jika barier atau sistem tadi tidak berjalan baik, bisa terjadi kecelakaan. Kecelakaan itu sendiri jika dilakukan investigasi, 80 %-nya kesalahan manajemen. Maka dari itu manajemen ini sangat vital. Misalnya jam kerja dan jam istirahat ini kan yang mengatur adalah pihak manajemen. Jadi kontribusi manajemen ini cukup besar atas terjadinya kecelakaan. Yang perlu saya sampaikan disini juga adalah manajemen keselamatan ini paling penting adalah mengenali hazard, yakni suatu kondisi atau tindakan atau potensi yang dapat menimbulkan kerugian terhadap manusia, harta benda, lingkungan hidup ataupun moda transportasi. Hazzard terbesar adalah kegagalan kita mengidentifikasi hazzard. Artinya tidak ada kecelakaan yang tidak diawali dengan hazzard. Semua orang yang terlibat dalam sistem transportasi ini harus berpartisipasi menemukan hazzard. Misalnya pemasangan perisai kolong belakang truk, ini berguna untuk mengurangi fatalitas tabrak belakang dari kendaraan kecil seperti halnya kecelakaan truk di tol Cipali,” jelas Soerjanto.

Editor : Sigit

Foto : Dokumentasi Pribadi



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix