Sistem Logistik Pangan untuk Ketahanan Pangan

01 / 08 / 2021 - in Kontributor Ahli

Nilai ekonomi dari kebutuhan pangan sangatlah besar. Penyediaan pangan melibatkan banyak ekosistem dari berbagai sektor ekonomi. Kontribusi sektor eksosistem penyediaan pangan terhadap GDP di Indonesia hampir 60%. Sektor kontribusi penyediaan pangan tidak hanya dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kelautan, dan industri manufaktur pengolahan pangan, namun melibatkan juga sektor transportasi, pergudangan, perbankan, riset, dan perdagangan.

Penyediaan pangan dalam jumlah yang tepat, mutu yang baik, ketersediaan pangan yang menjangkau semua penduduk Indonesia di mana pun berada, dan dengan harga yang terjangkau menjadi tantangan semua stakeholder pangan, baik pemerintah, dunia usaha dari BUMN, koperasi, dan swasta, maupun pihak-pihak lain.

Logistik pangan penting dalam menyediakan pangan untuk keberlanjutan manusia di bumi. Logistik pangan akan memastikan ketersediaan pangan tepat kuantitas, kualitas, pada saat yang tepat, dengan harga yang terjangkau. Selain itu, logistik pangan yang efektif mampu mengurangi kelangkaan stock komoditas pangan, pengendalian harga komoditas pangan, dan meminimalkan terjadinya disparitas harga. Dua hal terakhir ini, yakni disparitas harga dan kelangkaan komoditas pangan turut memengaruhi stabilitas perekonomian.

Sistem logistik pangan di Indonesia masih lemah. Indikator bahwa sistem logistik pangan kita masih lemah adalah masih terjadinya kelangkaan komoditas jenis pangan tertentu di suatu daerah dan adanya disparitas harga untuk beberapa jenis komoditas antardaerah. Selain itu, beberapa permasalahan logistik pangan masih ditemukan seperti penyusutan atau penurunan kualitas pangan karena pengelolaan logistik yang masih buruk, biaya logistik yang cukup tinggi, dan harga pangan pada tingkat eceran atau ritel yang relatif mahal.

Penyedia pangan terdiri dari petani, peternak, perkebunan, perikanan, dan manufaktur industri pangan. Distribusi pangan meliputi pedagang, distributor, pengelola gudang pangan, dan perusahaan transpotasi pangan.

Sistem logistik pangan akan memastikan penyediaan pangan ke rumah tangga dan setiap individu dalam memenuhi kebutuhan pangan secara tepat kuantitas, tepat kualitas, tepat waktu, dan biaya logistik distribusi pangan yang paling efisien. Sistem logistik pangan juga akan menjamin tidak ada kelangkaan pangan dan disparitas harga yang tinggi antardaerah. Utamanya untuk jenis pangan kebutuhan pokok.

Pemerintah telah menetapkan kebutuhan pokok pangan menurut Peraturan Presiden Nomor 71 tahun 2015 yang dikelompokkan sebagai berikut:
– Kebutuhan bahan pokok pangan hasil pertanian: beras, kedelai bahan baku tahu dan tempe, cabe, dan bawang merah.
– Kebutuhan bahan pokok pangan hasil industri: gula, minyak goreng, dan tepung terigu.
– Kebutuhan bahan pokok pangan hasil peternakan dan perikanan: daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, dan ikan segar yaitu bandeng, kembung dan tongkol/tuna/cakalang.

Perbaikan sistem logistik pangan perlu menjadi perhatian bersama. Pemahaman ekosistem rantai pasokan pangan (food supply chain ecosystem) akan membantu dalam melakukan perbaikan sistem logistik pangan. Penyediaan pangan sampai ke setiap rumah tangga dan individu membentuk rantai pasokan yang sangat kompleks. Setiap pihak yang terlibat dalam rantai pasokan saling berinteraksi yang memengaruhi kinerja rantai pasokan pangan.

Secara garis besar, rantai pasokan pangan melibatkan pihak-pihak:
– Institusi. Rantai pasokan pangan melibatkan institusi pemerintah sebagai regulator, pelaku usaha, perguruan tinggi, lembaga riset dan pengujian, penyedia benih, pupuk, dan pestisida, perbankan, MUI, dan organisasi publik.
– Infrastruktur dan sumber daya, yang meliputi: pelabuhan, jalan raya, stasiun, dan energi.
– Layanan delivery, mencakup penyedia jasa logistik, perusahaan transportasi, distributor, pengelola gudang pangan, cold chain, dan sistem ICT logistik.
– Service chain, mencakup pemasok (petani, peternak, dan nelayan), perusahaan industri pengolah makanan, pengepakan, dan retailer.

Harmonisasi Pelaku
Setiap pihak yang terlibat dalam rantai pasokan pangan perlu berbagi peran dengan kejelasan tingkat kualitas pelayanan dan indikator keberhasilan pihak masing-masing. Tolok ukur keberhasilan kinerja rantai pasokan pangan sejatinya sederhana, yaitu kelancaran penyediaan dan distribusi pangan yang menjangkau ke rumah tangga dan individu dengan biaya logistik yang paling murah.

Banyak faktor yang memengaruhi sistem logistik pangan ini. Tidak hanya penyediaan infrastruktur logistik seperti gudang penyimpanan dan transportasi barang untuk mengangkut komoditas pangan. Sistem logistik pangan – lebih tepatnya saya menyebut rantai pasokan pangan (food supply chain) sangatlah kompleks. Ia melibatkan banyak aktor, seperti produsen (umumnya sektor pertanian), pengolah pangan (foodprocessor atau food manufacturing), distributor dan pengecer, sektor hospitality (hotel, restauran, dan sejenisnya), dan konsumen akhir.

Kompleksitas rantai pasokan dan logistik pangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: sektor pertanian sebagai produsen pangan, pemerintah, pengolahan, kualitas, pasar dan konsumen, kebijakan dan peraturan pemerintah daerah atau lokal, dan perusahaan logistik.

Setiap faktor tersebut berkontribusi terhadap rantai pasokan dan logistik pangan. Sebagai contoh, sektor pertanian yang merupakan produsen pangan sangat rentan dengan faktor cuaca, lingkungan, dan kualitas hasil panen. Sektor pertanian menghasilkan bahan pokok pangan, seperti beras, kedelai, jagung, gandum, dan lain-lain. Komoditas pangan tersebut sebagian dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen sektor rumah tangga (consumer). Sebagiannya lagi menjadi bahan baku (raw material) produk pangan olahan (food manufacturing). Pasokan yang kontinu dengan ukuran dan kualitas standar menjadi tantangan dalam logistik pangan.

Sistem rantai pasokan dan logistik pangan harus mampu menjaga keseimbangan penawaran dan permintaan pangan, mulai dari produser pangan, manufaktur, distributor, pengecer, sampai konsumen akhir, melalui pengelolaan sistem informasi, aliran barang, dan aliran kas, dari hulu ke hilir, dan sebaliknya.

Penting untuk diperhatikan bahwa operasional, fasilitas, dan infrastruktur logistik pangan disesuaikan dengan jenis komoditas pangan. Dalam operasional logistik, berlaku kaidah “setiap jenis komoditas atau produk memerlukan pengelolaan dan layanan logistik yang berbeda”. Meminjam istilah dalam akuntansi biaya, “different cost for different purposes”. Dalam logistik, kita pun bisa menyebutnya, “different logistics service for different food”.

Karenanya, bila sistem logistik pangan kita masih lemah, banyak perbaikan yang mesti dilakukan. Mulai dari sektor atau aktor dalam rantai pasokan pangan, peran pemerintah, perusahaan logistik, dan perbaikan fasilitas pendukungnya.

Harmonisasi pelaku usaha dan semua pihak yang berkepentingan terhadap logistik pangan perlu menjadi perhatian penting bersama. Pemerintah melalui kebijakan dan BUMN-nya memiliki instrumen dan mekanisme untuk menyeimbangkan pasar komoditas pangan. Bulog sebagai BUMN yang mengelola logistik komoditas pangan memiliki peran penting dalam mengendalikan harga komoditas pangan di tingkat petani, harga eceren, dan menjamin ketersediaan komoditas pangan.

Peran ini dijalankan Bulog dengan melakukan pembelian atau sering disebut dengan penyerapan komoditas pangan seperti beras, jagung, kedelai, dan lain-lain di tingkat petani, agar harga komoditas tersebut tidak jatuh. Selanjutnya, Bulog menyimpan komoditas pangan ini di gudang-gudang Bulog untuk menjaga ketahanan pangan.

Menilik peran Bulog yang sangat strategis dalam menjaga keseimbangan pasar komoditas pangan, upaya untuk meningkat peran Bulog dalam pengelolaan logistik pangan sangat diharapkan.

Kedepan, Bulog diharapkan memperluas cakupan aktivitas layanan logistiknya ke hilir, mulai dari pengelolaan gudang dalam bentuk distribution center atau fulfillment center, kolaborasi pengelolaan ritel untuk penjualan produk pangan Bulog, dan layanan last-mile delivery untuk mengantarkan pemesanan produk pangan Bulog.

Lingkup produk pangan yang dijual pun perlu tambah, terutama produk pangan unggul lokal. Standar kualitas produk pangan perlu dijaga. Layanan quality grading dan packing produk pangan dapat dilakukan di gudang Bulog. Penanganan dan penyimpanan produk pangan agar menyesuaikan dengan karakteristik produk. Beberapa produk pangan memerlukan pengaturan temperatur tertentu untuk menjaga kualitasnya. Penyiapan gudang dan transportasi dengan pengaturan temperatur diperlukan untuk menjaga kualitas produk pangan. Selain itu, Bulog perlu mengembangkan layanan logistik halal. Permintaan produk halal semakin meningkat, tidak hanya untuk konsumsi dalam negeri. Produk pangan halal memerlukan sistem logistik halal.

Dalam pandangan supply chain dan logistik, impor merupakan salah bentuk pengadaan (procurement). Pengadaan komoditas pangan dapat dilakukan dari pemasok dalam negeri atau pemasok luar negeri (impor). Banyak faktor yang menjadi pertimbangan pengadaan komoditas pangan dari pemasok luar negeri, antara lain kekurangan pasokan komoditas pangan dari dalam negeri, pertimbangan standar kualitas, dan harga.

Kebijakan impor komoditas pangan perlu dipandang dari perspektif yang lebih komprehensif. Perencanaan permintaan komoditas pangan perlu dihitung secara cermat, untuk menentukan apakah pengadaannya dipenuhi dari dalam negeri atau impor. Beberapa komoditas pangan yang tidak dihasilkan di dalam negeri memang harus dilakukan impor. Komoditas pangan yang mampu dihasilkan di dalam negeri sebaiknya dilakukan pembatasan impor – untuk tidak mengatakan pelarangan impor. Kebijakan pemberdayaan ekonomi petani perlu menjadi prioritas pemerintah, dengan mendorong sektor pertanian mampu menghasilkan komoditas pangan yang mencukupi kebutuhan permintaan domestik dengan standar kualitas yang baik dan harga yang bersaing dengan komoditas pangan impor.

Perusahaan penyedia jasa logistik berperan penting dalam sistem logistik pangan. Solusi layanan logistik pangan perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan layanan logistik pangan yang efisien. BUMN sektor logistik seperti Pos Indonesia diharapkan mampu memberikan solusi layanan logistik pangan mulai dari pengelolaan pergudangan, transportasi, distribusi, fulfillment center, dan layanan last mile sampai pengantaran ke alamat penerima. Penerapan sistem ICT layanan logistik di perusahaan logistik seperti warehouse management system (WMS), transportation management system (TMS), dan order management system (OMS), mampu memberikan solusi layanan logistik pangan yang efisien.

Peluang perbaikan
Sesungguhnya, logistik pangan telah menjadi isu penting dalam sistem logistik nasional. Dalam sistem logistik nasional, Pemerintah telah mengidentifikasi faktor-faktor penggerak logistik nasional, antara lain penetapan komoditas penting. Persoalannya, bagaimana sistem logistik nasional yang telah ditetapkan Pemerintah melalui Perpres no. 26 tahun 2012 tersebut mampu diterapkan secara efektif untuk meningkatkan sistem logistik nasional, utamanya logistik pangan?

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Pemerintah agar sistem logistik nasional tersebut dapat dijalankan secara efektif dalam mendorong peningkatan kinerja logistik pangan.

Pertama, penyediaan sistem informasi permintaan dan penawaran setiap jenis komoditas pangan. Bisa dimulai dari jenis komoditas pangan pokok, seperti beras, jagung, kedelai, ikan, daging, dan lain-lain. Informasi digerakkan dari sisi permintaan (demand side). Pemerintah melalui perangkatnya, seperti dinas pemerintahan dan BUMN, perlu melakukan pendataan dan pembaharuan informasi apa dan berapa sebenarnya kebutuhan konsumsi dari sektor konsumen terhadap komoditas pangan. Informasi permintaan kebutuhan komoditas pangan ini dapat dikembangkan untuk setiap jenis komoditas, per wilayah pasar, dan per sektor konsumen.

Dari informasi permintaan ini selanjutnya menjadi dasar dalam perencanaan dan pemenuhan kebutuhan komoditas pangan. Dalam ilmu supply chain management, ini yang disebut dengan consumer-driven value chains.

Melalui sistem informasi permintaan konsumsi pangan, selanjutnya digunakan produsen pangan dalam melakukan pembibitan, penanaman, pengolahan, dan distribusi pangan sesuai kebutuhan konsumen.

Meski demikian, karena karakteristik komoditas pangan yang tidak dapat dihasilkan setiap waktu, penyediaan pergudangan pangan menjadi penting sebagai buffer stock. Berapa banyak buffer stock komiditas pangan ini bergantung pada demand dan lead time pemenuhan pasokan komoditas pangan.

Kedua, Pemerintah perlu melakukan pemetaan dan studi komprehensif potensi dan karakteristik suatu daerah dalam menghasilkan komoditas pangan unggulan tertentu. Selain itu, ketergantungan (dependency) antardaerah dalam penawaran dan permintaan komoditas pangan perlu “diciptakan”. Tujuannya adalah untuk mendorong adanya aliran barang antardaerah karena ada pertukaran komoditas pangan. Akibatnya, operasional transportasi barang akan semakin efisien, karena truk akan selalu terutilisasi optimal. Berangkat dan balik akan selalu terisi muatan barang.

Ketiga, mendorong kolaborasi antarperusahaan logistik untuk menyediakan layanan logistik yang efisien dan lancar (seamless). Persoalan ketidaklancaran distribusi komoditas pangan ke daerah tertentu dan tingginya biaya distribusi pangan merupakan indikasi logistik pangan yang tidak efisien. Pemerintah perlu mendorong adanya kolaborasi secara alamiah bagi para perusahaan logistik. Berbagi kapasitas kendaraan, gudang, dan fasilitas logistik lainnya di antara perusahaan logistik untuk mengoptimalkan kapasitas fasilitas dan infrastruktur logistik agar dicapai biaya logistik yang paling efisien. Pemberian insentif berupa penurunan pajak bagi perusahaan logistik yang melakukan kolaborasi merupakan salah satu bentuk kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah.

Perbaikan sistem logistik bahan pokok pangan mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian logistik bahan pokok pangan. Perencanaan logistik mencakup perencanaan bahan pokok pangan, desain sistem distribusi, moda transportasi, dan pergudangan. Perencaanan bahan pokok pangan dimulai dari pemetaan supply dan demand bahan pokok pangan. Pemetaan kebutuhan pangan (demand side) dilakukan untuk mengidentifikasi jenis bahan pokok pangan dan estimasi kebutuhan setiap jenis bahan pokok pangan di suatu daerah. Pemetaan pasokan pangan (supply side) dimaksudkan untuk mengidentifikasi pasokan setiap jenis pangan dan estimasi volume produksi pangan di suatu daerah.

Dari hasil pemetaan supply dan demand pangan akan diperoleh informasi apakah suatu daerah mengalami kelebihan (surplus) atau kekurangan (shortage) bahan pokok pangan. Logistik memberikan nilai tambah untuk mengatasi surplus atau kekurangan bahan pokok pangan. Bila suatu daerah mengalami surplus bahan pokok pangan tertentu, maka bahan pokok pangan tersebut dipindahkan ke daerah yang mengalami kekurangan. Sebaliknya, bila suatu daerah mengalami kekurangan bahan pokok pangan tertentu, maka akan dipenuhi dari daerah lain yang mengalami surplus.

Pergudangan berperan penting untuk mengatasi fluktuasi surplus dan kekurangan bahan pokok pangan. Penetapan jumlah gudang, lokasi gudang, dan standar pergudangan untuk pengelolaan gudang inventory bahan pokok pangan.

Penetapan tingkat inventory bahan pokok pangan yang aman (buffer stock) didasarkan pada parameter utama: lead time dan kebutuhan permintaan. Lead time pemenuhan inventory pangan mulai dari order sampai bahan pangan diterima di gudang. Keandalan transportasi pangan menentukan lead time pemenuhan inventory pangan. Kebutuhan permintaan pangan diestimasi dalam periode tertentu, misalnya 2 bulan.

Pengepakan dan proses handling bahan pokok pangan perlu dilakukan dengan aman untuk melindungi dari kerusakan, kehilangan, dan penurunan mutu pangan mulai dari primary producer (petani, peternak, dan nelayan), industrial producer (perusahaan manufaktur pengolahan pangan), wholesaler, retailer sampai diterima consumer.

Dalam pengelolaan gudang bahan pokok pangan perlu dipertimbangkan kadaluarsa pangan. Bahan pokok pangan merupakan komoditas yang mudah rusak (perishable goods). Standar gudang dan moda transportasi cold chain diperlukan untuk jenis bahan pokok pangan tertentu, seperti ikan dan daging segar. Untuk menjaga batas kadalursa pangan, penerapan FIFO (first-in first-out) dalam pengelolaan persediaan bahan pokok pangan mutlak dilakukan. Penggunaan kartu inventory akan memastikan pengawasan inventory pangan masuk dan keluar.

Pada gudang dengan SKUs (stock keeping units) persediaan bahan pokok pangan dalam jumlah besar dan kompleks memerlukan penggunaan sistem aplikasi WMS (warehouse management system). Dengan aplikasi WMS ini akan dapat dimonitor stock bahan pokok pangan, penerimaan, penyimpanan, picking, dan pengeluaran bahan pokok pangan dari gudang.

Tingkat inventory bahan pokok pangan diupayakan optimal. Tidak overstock atau understock. Overstock bahan pokok pangan akan menyebabkan biaya penyimpanan menjadi besar, modal kerja yang cukup besar, dan risiko bahan pokok pangan rusak. Sementara understock akan menyebabkan kekurangan atau bahkan kelangkaan bahan pokok pangan yang berakibat pada penaikan harga-harga bahan pokok pangan.

Pengelolaan logistik bahan pokok pangan yang efektif akan menjamin ketersediaan bahan pokok pangan dengan biaya logistik yang efisien untuk ketahanan pangan. Ketahanan pangan dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana terpenuhinya kebutuhan pangan bagi seluruh penduduk Indonesia. Hal ini tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Logistik berperan penting untuk turut menjaga ketahanan pangan, mengurangi kelangkaan stock pangan dan disparitas harga bahan pokok pangan.

Zaroni | Senior Consultant, Supply Chain Indonesia

Editor : Sigit

 



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix