Sharing Workshop Produk dan Rantai Pasok Halal

27 / 03 / 2016 - in Berita

Supply Chain Indonesia (SCI) sebagai lembaga independen yang aktif dalam pengkajian, pengembangan, dan penerapan keilmuan dan wawasan praktis untuk kemajuan bidang logistik dan supply chain di Indonesia, telah menggelar seminar atau workshop sehari bertema Halal Supply Chain, Food Supply Chain Sustainability, and Dairy Supply Chain Management.

Setijadi selaku Chairman SCI mengungkapkan niatnya dengan digelarnya seminar ini kepada TruckMagz. Menurut pria ramah ini, saat ini kebutuhan akan segala produk terutama makanan halal sudah menjadi perhatian serius di berbagai Negara termasuk di kawasan Asia Tenggara.

“Secara iklim persaingan, rantai pasok Halal dapat dijadikan peluang yang sangat potensial untuk meningkatkan daya saing industri logistik Indonesia,” kata Setijadi di sela acara Workshop on Logistics and Supply Chain Management di Hotel Karang Setra, Jl. Bungur No.2, Sukajadi, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/Mar) kemarin.

Sesi pertama yang menghadirkan pembicara yakni Ferry Jie seorang fasilitator dengan latar belakang pendidikan S3 Supply Chain Management di The University of Sydney, Australia, memaparkan 3 poin utama dalam sistem rantai pasok halal ini. Ia mengatakan, bicara mengenai sistem rantai pasok termasuk Halal supply chain mengangkut 3 aspek penting yakni supply chain secara praktikal & indikator kinerja rantai pasok, manajemen rantai pasok produk makanan Halal, dan keberlanjutan dari sistem rantai pasok tersebut ke depannya.

Pada salah satu materi yang dibawakan oleh Ferry Jie, yaitu manajemen rantai pasok produk makanan Halal, segala produk (makanan) dikatakan Halal karena mengandung unsur diizinkan untuk dipasarkan, atau dengan kata lain legal. Selain itu produk Halal juga diidentikkan dengan proses pengelolaan dalam pengadaan, pergerakan atau distribusi, penyimpanan dan penanganan produk makanan melalui organisasi dan rantai pasok yang sesuai dengan prinsip-prinsip umum hukum Syariah Islam.

Paling menarik dari materi ini adalah pemahaman tentang produk dikatakan Halal jika rantai pasoknya dikelola dari hulu ke hilir, bebas dari setiap kegiatan yang mungkin melanggar kaidah Halal itu sendiri baik disengaja atau tidak disengaja.

Fasilitator lainnya yang mengisi sesi kedua workshop sehari ini, yaitu Dwi Purnomo, juga menegaskan kembali seputar pemahaman mengenai konsep Halal terutama di produk makanan siap saji yang banyak dijajakan oleh pedagang makanan seperti nasi goreng, mie ayam dan lain sebagainya.

“Banyak konsumen yang menganggap kalau si penjualnya ber-hijab atau pakai peci, pasti nasi goreng yang dijualnya itu Halal. Tapi coba perhatikan bumbu atau bahan yang dipakainya untuk memasak nasi goreng, kalau ada unsur arak dalam botol minyak yang dipakai buat campuran masakan, itu sudah tidak halal lagi,” jelas Dwi kepada TruckMagz.

Dwi yang berlatar belakang pendidikan S3 Teknologi Industri Pertanian di Institut Pertanian Bogor juga menambahkan, bahwa proses pemotongan daging sapi di Indonesia masih jauh dari standar mutu dan kelayakan, seperti halnya yang telah diterapkan sejak lama di negara penghasil daging sapi seperti Australia. “Di Indonesia, proses pemotongan hewan sapi juga masih tergolong menyakitkan bagi si hewan, dan hal ini tentu sangat bertentangan dengan kaidah Halal,” kata dosen pengajar di Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Teks & Foto : Antonius S



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix