Safety First

29 / 07 / 2021 - in Kontributor Ahli

Selain filosofi 5S, bangsa Jepang masih memiliki budaya lain yang dapat dipelajari dan diterapkan, yaitu budaya yang mengedepankan keselamatan dan keteraturan. Siapa pun yang pernah tinggal di Jepang tentu merasakan keselamatan dan keteraturan dalam berbagai keseharian yang dijalankan warganya.

Tidak ada hal yang luput dari pertimbangan keselamatan karena keselamatan menyangkut jiwa manusia. Aktivitas dan objek apa pun yang dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan jiwa manusia selalu dilakukan pencegahan dan upaya penyelamatannya. Sementara itu, keteraturan akan menjadikan ketertiban. Tertib dalam menjalankan aktivitas untuk kepentingan bersama.

Bagi masyarakat Jepang, keselamatan dan keteraturan adalah budaya. Safety first telah menjadi mantra dan doa mereka dalam menjalankan pekerjaan. Budaya keselamatan dan keteraturan yang dijalankan warga Jepang sudah dihayati sejak dini dan dipraktikkan dalam berbagai aktivitas secara konsisten hingga membuahkan hasil. Dari budaya ini, bangsa Jepang mampu menghasilkan produk dan jasa yang sangat berkualitas sehingga menempatkan negaranya sebagai negara maju.

Sebagai budaya, safety first telah dielaborasikan ke dalam pola pikir dan perilaku warganya, bahkan dalam banyak hal telah menjadi sistem di Jepang. Kita ambil contoh; pelayanan transportasi di Jepang. Petugas layanan sewa bus selalu berusaha memulai pekerjaan tepat waktu sesuai dengan perjanjian. Petugas akan membantu menata koper para penumpang sesuai dengan urutan ukuran sehingga koper ikut tampak berbaris rapi dengan penumpang.

Sebelum memulai perjalanan, sopir bus akan keluar dan menyapa penumpang langsung. Biasanya, sopir bertugas seorang diri, tanpa kernet yang menemani. Di Jepang, sopir bus wajib berpakaian rapi. Seragam kerja mereka menggambarkan profesionalitas, yaitu dengan kemeja putih, celana warna gelap, jas warna hitam, lengkap dengan dasi. Dalam bertugas, sopir juga mengenakan sarung tangan sebagai alat pelindung diri, baik ketika mengangkat maupun memasukkan satu per satu koper penumpang. Sopir selalu menjaga sikap dan posisi ergonomi ketika mengangkat dan memasukkan koper. Tidak asal angkat. Setelah semua koper dan barang bawaan tertata rapi di bagasi, sopir akan menginformasikan estimasi waktu tempuh perjalanan.

Batas kecepatan
Masih dalam contoh yang sama, sopir di Jepang taat aturan batas kecepatan berkendara. Ketika rambu lalu lintas menetapkan batas kecepatan maksimal adalah 80 km/jam, pada batas itulah sopir menjaga kecepatan kendaraannya.

Di berbagai negara, termasuk Indonesia, pengendara kendaraan sering gatal dan tak sabar untuk memacu kecepatan kendaraannya melebihi 80 km/jam, bahkan lebih dari 120 km/jam bila jalan tol terasa lengang. Seakan-akan terbebas dari beban kemacetan itu harus diikuti dengan peningkatan kecepatan. Di Jepang berbeda, sopir bus tetap melaju dengan kecepatan konstan 80 km/jam. Mereka tidak melebihi batas ketentuan maksimal 80 km/jam, meski jalan tol cukup memberi kesempatan sopir untuk memacu kecepatan melebihi 80 km/jam.

Kendaraan di Jepang melajur di jalur yang telah ditetapkan sesuai kategori jenis dan beban kendaraan. Bus dan truk berada di lajur 1 dan 2. Sementara itu kendaraan kecil, seperti kendaraan penumpang dan niaga berada di lajur 3 dan 4. Jarak antarkendaraan selalu dijaga pada posisi jarak aman. Kecepatan antarkendaraan relatif sama dan konstan. Perilaku pengemudi di Jepang yang tetap menjaga disiplin dalam ketaatan batas kecepatan dan jarak aman merupakan contoh sederhana bagaimana budaya keselamatan diterapkan sehari-hari dengan kesadaran penuh.

Safety briefing
Sebagai negara yang rawan dan cukup kerap mengalami bencana, terutama gempa bumi, bangsa Jepang melakukan upaya mitigasi risiko bencana secara komprehensif. Gedung dan infrastruktur bangunan dirancang dengan pertimbangan meminimalkan dampak kerusakan bila terhantam bencana. Prosedur keselamatan dapat dengan mudah ditemukan melalui poster atau papan informasi yang tersedia di titik-titik tempat orang banyak berkumpul. Tak hanya melalui media, safety briefing juga disampaikan dengan jelas kepada orang asing – baik turis, maupun pekerja asing – melalui pengenalan tata letak gedung, titik kumpul evakuasi, tindakan yang perlu dilakukan bila terjadi bencana; seperti kebakaran, gempa bumi, atau tsunami. Dari sisi teknologi, mitigasi risiko bencana dibantu dengan alat peringatan bencana.

Bagi bangsa Jepang, bencana alam tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, menjadi tugas pemerintah, para pemimpin organisasi, dan kesadaran semua warga Jepang untuk memitigasi dampak risiko bencana bagi keselamatan setiap jiwa warganya.

Pelajaran penting yang dapat diambil dari Jepang adalah budaya dan sistem keselamatan harus menjadi kesadaran kolektif agar penerapannya efektif. Tidak ada kompromi dalam masalah keselamatan. Budaya perlu dijalankan selaras dan didukung dengan sistem.

Penegakan sistem menjadi komitmen bersama. Wujud dari komitmen itu adalah keteraturan, ketertiban, dan ketaatan pada peraturan tentang keselamatan. Hasil dari itu semua adalah keselamatan, keamanan, kelancaran, kenyamanan, dan keindahan.

Zaroni | Head of Consulting Supply Chain Indonesia

Editor : Sigit

 



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix