Rem Blong Terjadi Saat Pengemudi Tidak Memahami Speed Management

27 / 07 / 2022 - in Berita

Dalam rangka implementasi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang keselamatan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menyelenggarakan Pembinaan Teknis Manajemen Batas Kecepatan Tahun 2022 yang dilaksanakan secara hybrid pada Rabu (26/7).

Hadir sebagai narasumber, Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Manajemen Keselamatan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Heri Prabowo dan Ahmad Wildan Plt Ketua Sub Komite LLAJ Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Berdasarkan data dari Korlantas Polri yang dipublikasikan Kementerian Perhubungan, angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai 103.645 Kasus pada tahun 2021. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan data tahun 2020 yang sebanyak 100.028 kasus.

Heri mengatakan kasus kecelakaan lalu lintas pada tahun 2021 telah menewaskan 25.266 korban jiwa dengan kerugian materi mencapai Rp246 miliar. Jumlah korban luka berat akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun lalu sebanyak 10.553 orang, dan korban luka ringan 117.913 orang.

Berdasarkan jenis kendaraan, keterlibatan kasus kecelakaan lalu lintas yang paling tinggi adalah sepeda motor dengan persentase 73%. Urutan kedua adalah angkutan barang dengan persentase 12%.

Mengamati data tersebut, pemerintah melalui Perpres No 1 tahun 2022 tentang Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pilar pertama jalan berkeselamatan melalui program penyelenggaraan batas kecepatan kendaraan. Tujuannya adalah mencegah fatalitas kecelakaan serta mempertahankan mobilitas lalu lintas.

“Kemenhub melakukan upaya pembatasan kecepatan. Pertama penerapan teknologi misalnya alarm berupa batas kecepatan. Lalu, penerapan speed gun atau speed camera dijalan untuk merekam siapa saja pelanggar batas kecepatan. Penerapan intelligent speed limiter pada kendaraan, sehingga kecepatan berlebih tidak akan terjadi,” kata Heri.

“Dengan manajemen kecepatan, secara data akan mengurangi angka fatalitas. Kita semua tidak berharap kecelakaan terjadi. Jika gap kecepatan tidak besar, maka fatalitasnya akan rendah,” tuturnya.

Wildan mengawali paparan dengan menjabarkan permasalahan di manajemen kecepatan, yaitu overspeed dan underspeed. Jika gap kecepatan terlalu besar maka risiko kecelakaan semakin tinggi.

Gaya pengeremen berbanding lurus dengan massa dan kecepatan. Semakin besar massanya, semakin cepat kendaraannya, maka gaya yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan semakin besar. Otomatis jarak pengeremannya semakin panjang.

“Di jalan menurun pengemudi truk, tidak boleh mengatur kecepatan. Biarkan mesin yang mengatur kecepatan. Pengemudi cukup konsentrasi pada pemindahan gigi agar mendapatkan torsi maksimal. Karena yang menahan kendaraan meluncur ke bawah bukan lagi pedal rem tapi torsi melalui engine brake. Pengemudi perlu paham ini. Pada truk, engine brake berhubungan dengan torsi. Torsi maksimal kendaraan bisa berbeda RPM di setiap merk kendaraan,” tegasnya.

“Pada saat menanjak dan turunan gunakanlah engine brake. Dan harus dilakukan sebelum turunan. Setelah gigi rendah, aktifkan exhaust brake untuk membantu engine brake. Dengan begini gerakan truk melambat tapi RPM tidak naik. Jika ada fitur retarder bisa digunakan. Jadi saat gigi rendah, kecepatan dikendalikan oleh mesin. Maka dari itu rem blong ini terjadi saat pengemudi tidak memahami speed management,”jelas Wildan.

Editor : Sigit

Foto : KNKT



Sponsors

 

logo-chinatrucks300 327pix