Quo Vadis Keselamatan di Jalan?

23 / 07 / 2022 - in Berita

Kita tidak henti-henti dikejutkan oleh berita kecelakaan yang terjadi di sekitar kita. Tidak hanya memakan korban jiwa sia-sia, melainkan juga aset, waktu dan tenaga. Sebut saja dua kecelakaan yang menghebohkan dan menarik perhatian publik.

Pertama, kecelakaan di jalan turunan di lampu lalu lintas Simpang Muara Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/1) yang melibatkan truk tronton nomor polisi KT 8534 AJ dengan belasan mobil dan sepeda motor yang sedang berhenti di lampu lalu lintas. Kecelakaan ini mengakibatkan korban meninggal sebanyak empat orang, luka berat satu orang dan luka ringan 29 orang.

Kecelakaan yang kedua adalah kecelakaan yang melibatkan truk PT Pertamina (Persero) berpelat nomor B 9598 E menabrak pengendara sepeda motor dan mobil sehingga menewaskan 10 orang di CBD seberang Citra Grand, Cibubur-Cileungsi. Kecelakaan ini terjadi di Jalan Alternatif Cibubur atau Jalan Transyogi, Cibubur, Bekasi, Senin (18/7) sore. Terdapat beberapa fakta yang terjadi pada kecelakaan maut truk Pertamina di lampu merah CDB jalan alternatif Cibubur itu.

Kasus pertama, pihak KNKT telah merilis laporan investigasinya dengan Nomor KNKT.22.01.01.01 ditandatangani oleh Ketua KNKT bertanggal 12 Mei 2022 dan lagi-lagi faktor penyebabnya seperti sudah sudah bisa diduga banyak pihak yaitu faktor teknis kendaraan, faktor manusia yang mengemudikan, faktor perawatan kendaraan dan faktor kondisi lingkungan di tempat kejadian yang turut memperparah tingkat fatalitas korban.

Mengutip dari laporan ini tergambar kronologis kecelakaannya sebagai berikut: Hari Jum’at tanggal 21 Januari 2022 sekitar pukul 05.30 WIB, Mobil barang bak terbuka KT 8534 AJ (selanjutnya disebut truk), berangkat dari pool kendaraanya Jl. Pulau Balang KM 13 Kel. Karang Joang, Kec Balikpapan Utara dengan tujuan menuju Kampung Baru Balikpapan Barat, membawa peti kemas 20 feet yang berisi 20 ton kapur pembersih air.

Perjalanan truk melewati jalan dengan geometrik menurun dan pengemudi menggunakan gigi persnelling antara 4 dan 5 serta beberapa kali melakukan pengereman dengan cara menginjak rem utama (service brake). Pukul 06.15 WITA, saat akan memasuki Kota Balikpapan di Simpang Muara Rapak, 200 meter mendekati persimpangan pengemudi mencoba melakukan pengereman namun pedal rem terasa keras (mbanggel) sehingga mekanisme pengereman tidak dapat bekerja, selanjutnya pengemudi bermaksud memindahkan persneling ke gigi rendah namun kembali gagal karena pedal kopling juga terasa keras dan karena terus dipaksa akhirnya masuk ke gigi netral. Truk meluncur semakin cepat dan tidak dapat dikendalikan dan menabrak 4 unit mobil dan 14 unit sepeda motor pada antrian kendaraan yang terdapat di Simpang Muara Rapak. Truk berhenti setelah menabrak kerb yang berjarak ± 100 meter dari tabrakan beruntun. Berdasarkan penjelasan pengemudi, saat mendekati simpang tekanan angin rem berada pada angka 5 bar. Kecelakaan ini mengakibatkan korban meninggal sebanyak empat orang, luka berat satu orang dan luka ringan 29 orang.

Berdasarkan hasil investigasi dan analisis KNKT dapat disimpulkan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan tabrakan beruntun adalah disebabkan oleh tekanan angin pada tabung angin (airtank) tidak cukup untuk dapat membantu proses mekanisme mendorong pedal rem dan pedal kopling sehingga pengemudi tidak dapat melakukan pengereman.

Tindakan pengemudi yang menggunakan gigi tinggi selama melalui jalan menurun dan melakukan pengereman berulang kali menjadi pemicu terjadinya penurunan tekanan angin pada tabung angin. Selain itu juga ditemukan adanya celah antara kampas dan tromol melebihi ambang batasnya serta penggunaan instalasi klakson telolet yang mengambil sumber daya dari tabung angin yang sama yang digunakan untuk melakukan pengereman, kedua temuan tersebut juga turut berkontribusi dalam mempercepat terjadinya penurunan tekanan angin pada tabung angin.

Hal ini sesuai dengan penjelasan pengemudi, bahwa sepanjang perjalanan beberapa melakukan percobaan pengereman ketika melewati ruas jalan yang menurun. Sedangkan fatalitas korban terjadi karena tidak tersedianya jalur penyelamat dan penggunaan perisai besi pada bagian depan truk yang meningkatkan daya rusak pada saat terjadi tubrukan dengan kendaraan lainnya.

Untuk kecelakaan yang kedua yang melibatkan truk PT Pertamina (Persero) berpelat nomor B 9598 E yang menabrak pengendara sepeda motor dan mobil sehingga menewaskan 10 orang di CBD seberang Citra Grand, Cibubur-Cileungsi yang terjadi di Jalan Alternatif Cibubur atau Jalan Transyogi, Cibubur, Bekasi, Senin (18/7) sore masih dalan proses investigasi oleh pihak Kepolisian RI dan KNKT. Kemungkinan dalam 2-3 bulan ke depan Laporannya sudah bisa dirilis ke publik. Kita semua menunggu.

Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi di negeri ini terkait maraknya kecelakaan-kecelakaan semisal dua kecelakaan di atas? Penyebab-penyebabnya kita mengetahuinya ya itu-itu saja, rekomendasi dan saran perbaikan dari pihak berwenang selalu dikeluarkan apakah terkait personel yang terlibat (dalam hal ini mayoritas pengemudi) telah dijatuhi sanksi pidana dan juga pengurus atau pemilik kendaraan, rekomendasi kepada operator jalan, rekomendasi kepada operator kendaraan dan seterusnya. Akan tetapi kejadian-kejadian kecelakaan semisal ini terkesan akan selalu terjadi. Seakan-akan tinggal menunggu tanggal, hari, waktu dan tempat yang berbeda saja. Astagfirullah!

Setidaknya akar masalah yang teridentifikasi dari hasil investigasi dan diskusi-diskusi terkait insiden kecelakaan ini mengerucut pada dua hal. Yang pertama karena penyimpangan akibat tidak taatnya aturan, norma dan standar yang terkait angkutan di jalan. Boleh jadi operator armada, pengemudi, operator jalan dst. Peraturan, norma dan standar telah banyak dikeluarkan dan cukup tersedia di lapangan. Yang kedua adalah kurang peduli dan kurangnya kesadaran para pihak dalam menciptakan angkutan di jalan yang aman, nyaman dan produktif.

Bagaimana menangani dua hal itu? 
Pertama adalah dengan melakukan Road Safety Asessment (RSA) pada ruas jalan yang ada di Indonesia. RSA ini berperan dalam mengidentifikasi aspek keselamatan dan kemungkinan kecelakaan yang timbul di jalan atau rute itu. Hasil dari RSA ini dinformasikan kepada para pihak agar dapat ditindaklajuti dan diantisipasi agar potensi kecelakaan dapat ditekan. RSA dapat dimulai pada jalur-jalur yang dinilai rawan kecelakaan melalui kaji cepat pendahuluan. Semua pihak, baik regulator maupun pihak swasta. Rambu-rambu keselamatan dan perlengkapan lainnya disediakan dalam jumlah dan jenis yang cukup sesuai RSA. Layaknya di dunia K3 di Industri, RSA ini adalah mirip-mirip HIRADC (Hazard Identification and Risk Asessment and Determinining Control) atau  IBPR (identifikasi bahaya dan Penilaian Resiko) Seluruh program keselamatan hendaknya dimulai dari identifikasi dan penilaian risiko.

Kedua adalah dengan memasukkan Penerapan Sistem manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) menjadi bagian dari pengurusan izin angkutan perusahaan umum. Tanpa ini, SMK PAU terkesan tidak laku dan tidak mempunyai taji. Semua pihak yang terlibat akan dipaksa menerapkan SMK. Penerapan SMK PAU ini juga tanpa koreksi. Para Auditor dan Evaluator SMK PAU wajib tersedia. Pelibatan para praktisi perlu dipertimbangkan mengingat keterbatasan sumberdaya di instansi terkait yang saat ini masih berada di usat.

Penguatan kapabilitas juga perlu dilakukan karena di masa depan, masing-masing daerah juga dituntur dapat juga mensertifikasi seluruh perusahaan angkutan umum yang dikeluarkan izin operasinya oleh mereka. Jenjang implementasi SMK PAU juga perlu diciptakan mengingat antara satu operator angkutan dengan operator yang lain berbeda baik lingkup operasi, rute, jumlah armada, jenis muatan yang dibawa dan seterusnya

Upaya yang ketiga adalah dengan Program Penegakkan Hukum (Gakkum) yang rutin, masif dan merata. Program Gakkum ini tidak hanya pada aspek operasional di jalan, akan tetapi juga pada aspek administrasi pengurusan izin kendaraan. Tidak boleh lagi ada penyimpangan di sini. Aparat bisa memeriksa dan menindak atau setidaknya menegur baik pengemudi, operator angkutan maupun pihak lain sebagai pengguna jalan. Keterlibatan publik dibuka selebar-lebarnya dalam pelaporan perilaku tidak aman dan kondisi tidak aman yang mereka temukan di jalan baik kepada pihak regulator (kepolisian, perhubungan darat, pemerintah daerah, dinas pekerjaan umum, pihak swasta dst). Seringkali mereka-mereka yang taat aturan terdemotivasi karena mereka-mereka yang tidak taat terkesan dibiarkan. Ini jangan sampai terjadi.


Ketiga upaya di atas tadi hendaknya diberikan budget yang cukup, dikampanyekan secara masif, terprogram, dievakuasi dan berkesinambungan. Lagi-lagi pelibatan seluruh insan pengguna jalan dan angkutan di jalan dilibatkan. Jangan dong kita kalah dengan baliho dan spanduk mereka-mereka yang mengejar pilkada dan pilpres.

Semoga ke depannya Keselamatan Angkutan di Jalan dapat menjadi lebih baik. Salam Keselamatan!

Oleh
Beni Cahyadi, OHSE Enthusiast, Konsultan dan Praktisi, Trainer & Asesor BNSP, Auditor SMK3 Kemenaker | Sekjen Asosiasi Pengangkut dan Pengelola B3/LB3 Indonesia

Editor : Sigit

Foto : Dokumentasi pribadi



Sponsors

 

logo-chinatrucks300 327pix