Pusat Logistik Berikat Dapat Menghemat Biaya Logistik

11 / 01 / 2016 - in News

Laju impor di tahun 2016 diprediksi akan sangat tinggi. Menyikapi kondisi industri ke depannya nanti, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) minta dukungan pemerintah untuk dibuatkan Pusat Logistik Berikat (PLB). Hal ini dimaksudkan agar semakin memperkuat daya saing industri makanan dan minuman di dalam negeri.

Dikutip dari kantor berita Antara, Adhi Lukman selaku Ketua Gapmmi menyatakan bahwa pihaknya sudah menerima surat dari Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) untuk mendiskusikan rencana pembangunan PLB tersebut.

Meski masih dalam tahap pengkajian awal, Gapmmi tetap mengusulkan tiga bahan baku industri makanan dan minuman dapat diprioritaskan untuk disimpan di PLB. Yaitu gula rafinasi (raw sugar), garam dan konsentrat buah-buahan.

Menurut Adhi, alasan beberapa komoditas tersebut diusulkan lantaran kebutuhan raw sugar sendiri untuk industri rata-rata mencapai 3 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan garam industry untuk makanan dan minuman mencapai sekitar 400 ribu-2 juta ton per tahun.

Pembangunan PLB ini, menurut Adhi, akan berkontribusi pada penghematan biaya logistik, yang selama ini mengambil porsi 4-8 persen dari seluruh biaya produksi. Sementara untuk menentukan lokasi terbaik dari PLB ini, Gapmmi akan berkoordinasi dengan DJBC, Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian untuk menentukan wilayah PLB, mekanisme penyimpanan, pengawasan serta pembayarannya.

Adapun peraturan menyangkut soal PLB tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.85 Tahun 2015 sebagai revisi PP No.32 Tahun 2009 tentang Penimbunan Berikat. Berdasarkan peraturan tersebut, PLB akan mendapat insentif berupa bebas pungutan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), pembebasan cukai bagi perusahaan yang ingin masuk ke kawasan PLB dan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Teks : Antonius

Foto : dokumen Terminal Petikemas Surabaya



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix