Pro-Kontra Program Kereta Api Logistik Pelabuhan Tanjung Priok

28 / 02 / 2016 - in Berita

Pemerintah per 18 Februari lalu telah melakukan langkah inisiatif memperbaiki sistem logistik nasional yang selama ini belum efisien dan kompetitif, lewat program kereta api logistik pelabuhan yang menghubungkan (relasi) terminal peti kemas pelabuhan Tanjung Priok Jakarta di bawah kendali JICT, dengan pusat logistik berikat Cikarang Dry Port (CDP) Jawa Barat di bawah pengelolaan PT Cikarang Inland Port.

Guna mendukung program pemerintah ini, Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya RI melibatkan PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Kereta Api Logistik/KA Logistik (anak usaha KAI) dan PT Jakarta International Container Terminal (JICT), Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Bea dan Cukai, Badan Karantina, serta pusat logistik berikat Cikarang Dry Port (CDP).

PT KA Logistik berharap pemerintah terus mendorong penggunaan kereta api logistik ini dengan memberikan insentif berupa pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) agar biaya logistik nasional dapat lebih bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini.

Selama ini, menurut Sugeng Priyono selaku Direktur Operasi dan Pemasaran PT KA Logistik, perbedaan tarif angkutan kontainer ke Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menggunakan moda kereta api barang diperkirakan lebih tinggi sekitar 12—15 persen, dibandingkan ongkos menggunakan moda angkutan darat seperti truk kontainer. “Hal ini karena tarif angkutan kereta api barang dikenakan PPN 10 persen,” tambah Sugeng.

Meski pihaknya belum berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait pengenaan PPN atas kontainer yang diangkut pakai kereta api logistik, Sugeng menambahkan jika menggunakan moda angkutan di atas rel ini lebih cepat ketimbang pakai moda angkutan truk barang. “Kalau pakai kereta api dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Cikarang Dry Port hanya makan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam. Beda dengan angkutan truk yang lebih lama karena sering kena macet di jalan,” katanya.

Namun di lain pihak, Organisasi Angkutan Darat (Organda) memprediksi akan terjadi penurunan pangsa pasar untuk angkutan logistik menggunakan moda truk barang atau truk container. Safruhan Sinungan, Ketua DPD Organda DKI Jakarta mengatakan, pasar angkutan menggunakan truk barang diperkirakan akan menurun sekitar 30 persen, jika jadwal kereta api logistik di Pelabuhan Tanjung Priok berjalan secara regular.

Pasalnya, lanjut Safruhan, selama ini kargo-kargo ekspor-impor mendominasi pasar angkutan darat mencapai 60 persen yang berasal dari wilayah penyangga ibu kota seperti Bekasi, Tangerang, Cikarang, Karawang dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat yang merupakan salah satu buffer area ekspor-impor di Pulau Jawa.

Lewat program kereta api logistik pelabuhan yang akan melayani rute Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta-Cikarang Dry Port Jawa Barat, pihak Organda DKI Jakarta memperkirakan akan terjadi penurunan kebutuhan angkutan truk hingga setengah dari porsi kebutuhan angkutan pelabuhan yang ada saat ini.

Teks : Antonius S

Foto : YouTube



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix