Potensi Besar Halal Supply Chain Dalam Persaingan Pasar Internasional

01 / 02 / 2016 - in News

Potensi pasar Indonesia sebagai negara dengan persentase umat muslim terbesar di dunia, yaitu sekitar 12,5 persen dari populasi di dunia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat gurih bagi keberlangsungan industri halal saat ini dan di masa yang akan datang.

Kondisi ini tentunya akan menarik banyak investor asing untuk menggarap pasar halal di Tanah Air, terlebih dalam persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di 2016 ini, dan tidak hanya bagi pengusaha muslim saja namun bakal diramaikan oleh masyarakat internasional.

Pengertian halal itu sendiri menurut Prof. Marco Tieman, CEO LBB Internasional yang bergerak dibidang logictic Consulting and Research Firm focusing on agri-food supply chain, industrial logistics and third party logistics, tidak hanya menyangkut kandungan produk atau bahan makanannya saja, tetapi juga terkait dengan sistem rantai pasok (supply chain) halal.

Tieman mengatakan bahwa proses pengawasan halal harus terintegrasi dari hulu ke hilir. Mencakup bahan produk, industri pabrik, pengolahan, distribusi ke konsumen akhir, termasuk dalam hal penyimpanan (storage) yang harus memenuhi aspek halal.

Senada dengan Tieman, Setijadi selaku Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) mengungkapkan hal serupa dalam catatan-nya yang dikutip dari situs resmi SCI. Menurut konsultan dan trainer bidang logistik dan supply chain yang aktif berkontribusi dalam pengembangan logistik nasional pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini, Indonesia harus segera mengembangkan rantai pasok (supply chain) halal guna meningkatkan daya saing produk secara global, termasuk dalam menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Di samping kehalalan produk, pengembangan logistik halal mencakup pula kebijakan, infrastruktur, fasilitas, dan kelembagaan. Selain itu, diperlukan juga kompetensi SDM dalam setiap proses dan teknologi informasi untuk pemantauan kehalalan dalam aliran produk,” tulis Setijadi.

Logo dan sertifikat halal pun akan menjadi hal yang penting ketika menghadapi pasar global termasuk dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pasar muslim yang ada di ASEAN maupun negara lainnya tentu akan lebih memilih produk dengan sertifikat halal.

Terlebih lagi, World Halal Council (WHC) telah berdiri sejak 1999 di Jakarta dalam rangka standarisasi sertifikasi halal dan proses akreditasi-nya, yang merupakan lembaga internasional sertifikasi halal untuk seluruh dunia dan diprakarsai oleh lembaga sertifikasi dari Indonesia, Amerika Serikat, Australia dan Belanda.

Alhasil, menurut Setijadi, untuk mengembangkan rantai pasok halal ini nantinya sangat membutuhkan dukungan serta peran aktif pemerintah Indonesia, demi meningkatkan daya saing produk nasional dengan sistem rantai pasok halal ini. “Misal lewat insentif dalam sertifikasi rantai pasok halal, pembangunan infrastruktur dan fasilitas rantai pasok halal, seperti pergudangan dan kepelabuhanan, dan lain-lain.”

Teks : Antonius S

Sumber foto MUI



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix