Perlunya Digitalisasi Dalam Kolaborasi Logistik

07 / 01 / 2019 - in News
Kolaborasi Logistik

Memasuki era industri 4.0, saat ini seluruh industri berhadapan dengan kondisi volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA). Kompetisi dan kecepatan saat ini menjadi tantangan yang mesti dihadapi seluruh pelaku industri. Sehingga dituntut untuk melakukan kolaborasi yang didukung digitalisasi di semua industri, termasuk di bidang supply chain dan logistik.

Menurut Direktur Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS), Jati Widagdo, prinsip kolaborasi di sini adalah sebuah proses bisnis yang berjalan dan ada pelaku-pelakunya di setiap titik. Masing-masing titik itu, lanjutnya, rata-rata memiliki barangnya sendiri-sendiri termasuk sistem IT (information technology/teknologi Informasi) nya.

“Misalnya perusahaan ekspedisi, tidak bisa lagi menerapkan semuanya harus memakai kepunyaan perusahaan tersebut. Ekosistem ini bisa berjalan kalau ada kolaborasi, artinya di sini, masing-masing sistemnya harus bisa saling berkomunikasi. Bisa sampai ke port dan bisa men-trace, ini lah inti dari kolaborasi itu. Kalau tidak ada kolaborasi, meskipun perusahaan logistik yang sudah full IT, itu tidak bisa juga. Karena untuk transportasi barang dan shipping-nya kan butuh perusahaan lain, pergudangannya mungkin akan membutuhkan perusahaan lain. Maka harus ada kolaborasi,” kata Jati menjelaskan.

Tantangan kolaborasi, menurut Jati, karena Indonesia baru memasuki fase digitalisasi yang cukup masif akibat perkembangan e-commerce dan teknologi. “Para pelaku logistik cenderung wait and see, ada regulasinya atau tidak ya, sehingga mereka agak khawatir lah. Jadi tantangannya, kita harus meng-update kepada regulator untuk bareng-bareng melakukan kolaborasi ini,” ungkapnya.

Kolaborasi Logistik
Jati Widagdo, Direktur Utama ILCS

Mengingat ILCS merupakan anak perusahaan dari Pelindo dan Telkom, tentunya membawa misi untuk memperbaiki digitalisasi yang ada di pelabuhan terutama yang terkait sistem operasi terminal barang. Seperti kapal masuk dan keluar, bongkar-muat kontainer, serta order truk yang kesemuanya itu tidak mungkin dilakukan secara manual.

“Tetapi kalau bicara digitalisasi untuk sistem operasi terminal, kalau hanya Pelindo tidak cukup karena logistik itu bukan terkait Pelindo saja. Logistik itu melibatkan trucking company, ada vessel company atau shipping company, ada perusahaan distributor, ada freight forwarder company dan ada pula consignee. Maka kita membuat sistem itu berjalan dengan digitalisasi, selain itu pembayarannya yang semula dilakukan secara manual kini menerapkan cashless,” urai Jati.

Tren yang berkembang seperti digitalisasi supply chain serta digital port, menjadikan dunia semakin terbuka. Sehingga perusahaan-perusahaan logistik dan pelabuhan harus open mind untuk melakukan digitalisasi. “Di sisi lain para pelaku industri juga beralasan kalau mereka tidak diwajibkan untuk menerapkannya. Kalau begini terus akan terdisrupsi dengan sendirinya nanti industrinya. Masih mending kalau terdisrupsi oleh perusahaan Indonesia, kalau terdisrupsi oleh perusahaan asing, habis sudah,” katanya.

 

Editor: Antonius
Ilustrasi: Tumpukan kontainer di Pelabuhan Lorens Say-Maumere (Istimewa)
Foto: Anton

 

 

 



Related Articles

Sponsors

NEW_327X300_

TRUCKMAGZ_327X300PX-01

logo-chinatrucks300 327pix