Perihal Kelangkaan BBM Solar, Kamselindo: Subsidi Jadi Masalahnya

12 / 04 / 2022 - in Berita

Ketersediaan BBM solar untuk angkutan umum dan kasus kelangkaan BBM solar beberapa waktu lalu sempat menyisakan tanda tanya di pengusaha transportasi barang.

Ketua Umum Perkumpulan Keamanan dan Keselamatan Indonesia (Kamselindo) Kyatmaja Lookman mengatakan bahwa masalah kenaikan BBM agak sensitif. “Saat ini perang Rusia dan Ukraina masih belum tahu kapan selesainnya. Negara Barat juga terus menyakinkan sekutunya untuk tidak menggunakan minyak dari Rusia. Sehingga ketika minyak Rusia diblokir. Otomatis terjadi kekurangan supply di pasar. Sedangkan permintaan tetap, akhirnya harga naik,” katanya.

Jika Indonesia bertahan di dengan kebijakan yang sama perihal subsisi, menurut Kyatmaja pada kuartal 3 atau 4 anggaran subsisi untuk solar akan habis. “Jangan sampai pemerintah masih berpikir setelah lebaran mau bertindak apa?, Kan tidak mungkin angkutan umum ini dikorban terus. Dihadapkan pada keadaan solar kosong terus. Kuartal itu adalah masa-masa kritis,” ujar Kyatmaja.

“Pemerintah harus mengambil sikap. Bulan April sudah mulai penjualan truk Euro4, minimal harus minum dexlite. Mungkin nanti ada biosolar khusus untuk nelayan. Tapi kendaraan di jalan semua pakai dexlite. Lalu bertahap sampai anggaran subsidi ini menipis kemudian diswitch langsung masuk pelan pelan ke dexlite,” saran Kyatmaja.

Kyatmaja melanjutkan, “Truk baru sekarang Euro4 sejalan dengan komitmen pemerintah di G20 yakni mengutamakan keberlajutan. Karena jika tidak didukung dengan solar yang bagus, ya remuk truknya. Jika tetap dibiarkan begini, truk Euro4 jadi tidak bisa bersaing dengan truk Euro2. Satu-satunya cara untuk bersaing adil ya, solar diganti dengan BBM Euro4. Maka program pemerintah ini akan berjalan. Karena truk Euro2 tetap bisa berjalan dengan solar Euro4,” katanya.

Menurut Kyatmaja jika perang masih berlanjut sampai nanti akhir tahun, ada kemungkinan muncul lagi masalah kelangkaan BBM. “Misalnya, pemerintah tetap dengan biosolar maka antrean lagi dari bulan Juni ke September, karena BBM sudah habis. Kuota yang sudah menipis ini tidak bisa diamankan terus-menerus, karena subsidi ini akan menimbulkan distorsi di pasar. Bisa ada penimbunan, penyimpanan tiba tiba subsidi habis. Truk ini nanti akan mengantre lagi untuk BBM biosolar, “ kata Kyatmaja.

“Mengamati kelangkaan BBM Solar, BBH Migas berkomentar jika biosolar sulit pakai saja Dexlite. Ya tidak bisa seperti itu, kalau kendaraan pribadi tidak ada masalah karena perjalanannya tidak banyak hitung-hitungan bisnis. Untuk truk menggunakan patokan solar harga Rp. 5.150. Lalu menggunakan dexlite seharga 3 kali lipat. Solar yang dari Rp 1 juta untuk trip Jakarta-Surabaya bisa sampai Rp 3 juta. Lah Rp 2 juta ini siapa yang bayar?. Karena tidak mungkin Rp 2 juta ini ditanggung pengusaha dan pengemudi. Ini perlu pembahasan yang dalam dan harus segera dilakukan. Jadi masalah kita tetap pada subsidi. Negara lain sudah mulai meninggalkan subsidi. Jika dibiarkan, takutnya tidak mampu , lalu ada antrean, yang jadi korban pengemudi dan pengusaha angkutan,” pungkas Kyatmaja.

Editor  : Sigit

Foto: truckmagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix