Pentingnya Pengetahuan Teknis Ban

19 / 06 / 2019 - in Ask The Expert, News
WhatsApp Image 2019-06-19 at 18.18.58

Berita yang menggembirakan bagi kita semua bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada arus mudik dan balik Lebaran tahun 2019 ini, menurun dibanding tahun sebelumnya.

“Tekad  pemerintah mewujudkan  tagline “zero accident” mengalami kemajuan.  Selamat untuk Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR dan Kepolisian RI sebagai stakeholder yang berkaitan langsung dengan kegiatan mudik tahunan ini. Kemacetan pun sudah jauh berkurang, praktis hanya terjadi dari Jawa Tengah ke Jawa Barat dan DKI Jakarta saja. Ini semua tentunya berkat pembangunan jalan tol trans Jawa yang sudah hampir 100 persen rampung,” kata Bambang Widjanarko Tire & Rim Expert, mengomentari mengenai penjelasan kecelakaan dan pengetahuan teknis ban.

Menurutnya, beberapa faktor penyebab kecelakaan, masih masalah klasik. “Yaitu pengemudi yang kelelahan, ngantuk, tidak terbiasa / menguasai teknik mengemudi antar kota, rem blong dan ban meledak. Saya ingin menyoroti hal teknisnya saja, yaitu rem blong dan ban meledak,” terangnya.

Ada bermacam-macam jenis rem yang umum digunakan seperti antilock braking system (ABS), electonic brake pressure distribution, electronic traction control system, hydraulic braking system dan sebagainya. “Secanggih-canggihnya teknologi yang kita gunakan, pasti ada saja kelemahannya. Yang penting pengemudi tahu kelemahan tersebut, sehingga bisa pmengantisipasinya,” tambah pria yang juga menjabat Wakil Ketua APTRINDO Jateng & DIY itu.

Untuk kendaraan jenis automatic transmission, sebaiknya tidak hanya mengandalkan rem ketika melewati jalanan naik turun dan berkelak kelok. Sebab jika rem diinjak secara terus menerus maka kampas rem akan panas, sehingga tidak pakem alias blong. Selain rem perlu pengoperan persneling juga.

“Juga perlu dilakukan pengecekan oli rem dan repair kit master rem. Jangan sampai terjadi kebocoran, sehingga mengakibatkan terjadinya rem blong. Kemudian, kondisi ban juga harus diperhatikan, mengingat jika ban meledak, biasanya selalu terjadi kecelakaan. Ini bisa fatal bisa tidak,” imbuhnya.

Pertama, yang harus diperhatikan adalah manufacturing date, karena masing-masing pabrik berbeda tentang expired date produknya. Hal ini tergantung komposisi ban yang digunakan. Sebaiknya gunakan ban yang jauh masa kadaluarsanya.

Kedua, tire placard atau tire specification atau  ukuran dan jenis ban yang disarankan oleh produsen mobil. Ini biasanya berupa sticker yang menempel di body mobil. Ketiga, perhatikan tire symbols yang biasanya tertera pada dinding samping ban. Ada simbol kecepatan, indeks beban dan berbagai safety warning lainnya.

Keempat, produsen ban pasti memberi peringatan tentang batas keamanan pemakaian ban dengan memberi tanda TWI (tread wear indicator) pada 4 – 6 posisi di lingkaran ban. Kelima, faktor terpenting adalah air pressure atau tekanan angin pada ban. Perlu diingat, produsen tidak pernah memberikan kepastian angka terkait tekanan angin. Karena semuanya harus menyesuaikan dengan beban muatan yang ditanggung oleh ban tersebut.

Bambang melanjutkan, “Tekanan angin pada ban ibarat tekanan darah pada manusia. Tidak boleh terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Jika ban sampai kehabisan angin sama saja dengan manusia yang kehabisan darah.  Tekanan ban yang terlalu tinggi, meminimalisir daya cengkeram ban terhadap permukaan jalan. Sedangkan tekanan ban yang terlalu rendah membuat ban cepat panas dan gampang meledak. Ini juga faktor penyebab konsumsi bahan bakar jadi boros,” ujarnya.

WhatsApp Image 2019-06-19 at 18.06.21

“Beberapa teman pernah bertanya kepada saya, kenapa justru ban mobil mewah yang sering meledak di jalan tol. Ya, karena biasanya second car itu jarang dipakai dan ban nya pun jarang di training. Bahkan jarang berubah posisi selama beberapa waktu. Hal itu membuat bagian ban yang selalu berada di posisi bersentuhan dengan lantai mengalami pelapukan atau oksidasi maksimal. Posisi itulah yang biasanya meledak jika digunakan pada kecepatan tinggi dan kontinyuitas tertentu,” jelasnya.

Selain mobil, truk yang diparkir selama beberapa hari tanpa bergerak dengan beban muatan, sering membuat bagian ban yang bersentuhan dengan lantai mengalami kembung. “Ketika mengajukan claim kepada penjual ban, pemilik truk akan menyatakan tidak tahu sebabnya. Karena belum tentu semua pengguna ban paham ilmu fisika,” pungkas Bambang mengakhiri penjelasannya.

Oleh
BAMBANG WIDJANARKO
Wakil Ketua APTRINDO Jateng & DIY
Tire & Rim Expert

Editor : Sigit A



Sponsors

NEW_327X300_

NEW_327X300_

web-banner-327x300 truck

logo-chinatrucks300 327pix