Peningkatan Volume Industri Logistik Tidak Sebanding Perolehan Laba

04 / 08 / 2022 - in Berita

Industri logistik nasional akhirnya terkena dampak gejolak geopolitik global kendati mengalami peningkatan jumlah pengiriman.  Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) mengatakan jumlah pengiriman barang tidak berbanding lurus dengan raihan laba. Terlebih, selama pandemi Covid-19, biaya produksi dan distribusi meningkat.

Pada Webinar Bisnis Indonesia Mid-Year Economic Outlook 2022, Sekretaris Jenderal Asperindo Trian Yuserma mengatakan bahwa salah satu tantangan di era endemi adalah melonjaknya harga bahan bakar minyak dunia. “Tidak hanya itu daja, kondisi ini ikut mengguncang industri logistik. Perusahaan di sektor ini harus beriusaha keras untuk menutupi kebutuhan operasional tersebut,” jelasnya pada Rabu (3/8).

“Bisa kita lihat pada trennya dan ini diakui beberapa anggota kami. Sedangkan tren promo gratis ongkos kirim ikut membebani perusahaan. Kami mengusulakan jika free ongkir harus pelan-pelan dihapus agar masyarakat tidak terlalu bergantung kepada promo tersebut,” tegasnya.

Promo ongkos kirim gratis kerap digunakan oleh perusahaan penyedia jasa pengiriman ekspres atau e-commerce untuk menarik pelanggan pada saat momen ramai tertentu, misalnya Hari Belanja Online Nasional. “Pengusaha-pengusaha anggota kami pun saat ini di era pandemi tidak ada yang mengalami pertumbuhan profit,” tambahnya.

 

Trian melanjutkan bahwa ketergantungan kepada promo ongkos kirim gratis harus pelan-pelan dihapuskan. Hal tersebut agar industri jasa pengiriman bisa mengoptimalkan tren e-commerce yang tengah berkembang pesat.

Ketua Umun Asosiasi Ecommerce Indonesia (idEA) Bima Laga menjelaskan kerja sama dan kolaborasi antara industri jasa pengiriman dan lokapasar perlu  terus dilakukan. “idEA membuka ruang diskusi agar ekosistem ekonomi lokapasar dapat terus tumbuh. Kita dari e-commerce siap berdiskusi bagaimana bisa maju bersama. Dengan berkolaborasi kita bisa memajukan industri, utamanya UMKM dari pertumbuhan ecommerce itu sendiri,” jelasnya.

Bima menjelaskan menjabarkan data pada 2021, nilai transaksi lokapasar mencapai US$53 miliar dan diprediksi terus meningkat tiap tahunnya. Bahkan pada 2025 nilai transaksi lokapasar Indonesia diperkirakan bakal menyentuh US$104 miliar, setara Rp1.400 triliun. “Dengan nilai transaksi sekarang, kita berkontribusi 5% pada PDB. Bahkan bila prediksi itu teejadi, kontribusi kita bisa lebih dari 10% pada 2025. idEA menginginkan kerja sama dan kolaborasi yang harmonis dengan industri jasa pengiriman dan logistik. Pasalnya transaksi jual beli yang saat ini acap kali dilakukan secara daring membutuhkan peran dari industri jasa tersebut,” ujarnya.

“Logistik itu menjadi salah satu faktor membantu pertumbuhan e-commerce. Road map e-commerce itu salah satunya ada logistik dan payment. Jadi logisitk itu menjadi kontribuitor bagi pertumbuhan e-commerce itu sendiri,” kata Bima.

Editor : Sigit

Foto : truckmagz



Sponsors

 

logo-chinatrucks300 327pix