Penerapan SMK, Mitigasi Risiko Kecelakaan Angkutan Umum

14 / 09 / 2021 - in Berita

Ahmad Yani Direktur Angkutan Jalan, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan berpesan kepada pengusaha angkutan umum agar sistem manajemen keselamatan (SMK) menjadi bagian dari manajemen perusahaan berupa tata kelola keselamatan yang dilakukan secara komprehensif dan terkoordinasi untuk mewujudkan keselamatan dan mengelola risiko kecelakaan.

“Perusahaan angkutan umum yang tidak membuat, menyusun, dan melaksanakan Sistem Manajemen Keselamatan bisa dikenai sanksi administratif yang berupa peringatan tertulis, pembekuan izin, dan atau pencabutan izin.” tegas Yani.

Penyelenggaraan angkutan orang maupun barang memiliki peranan yang sangat penting karena menyangkut kegiatan masyarakat luas. “Maka dari itu dalam penyelenggaraan angkutan orang maupun barang, keselamatan harus menjadi priortitas utama,” tambah Yani.

Sebagai bentuk campaign UD Trucks Peduli Keselamatan, UD Astra Motor Indonesia berkolaborasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menggelar webinar ‘Step by Step Pembuatan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum’ pada Selasa (14/9)

Ahmad Wildan Investigator Senior KNKT mengatakan, “Kecelakaan itu kerap terjadi karena minimnya penerapan SMK angkutan umum. Membangun SMK itu dengan memahami risikonya lalu mencatat dan membuat mitigasinya. Sekaligus disini membuat prosedur maintenance,” bukanya

Berbicara mengenai SMK, menurut Wildan ada lima level perlu diketahui. “Paling rendah patological level, pada tahap ini sebuah perusahaan baru memahami risiko. Kedua, reactive level, perusahaan langsung bereaksi ketika menemukaan risiko. Ketiga, calculative level maksudnya perusahaan sudah memastikan anggaran untuk keselamatan setiap tahun. Keempat, proactive level, perusahaan ingin mencapai standar-standar internasional maupun regulasi yang ada. Paling tinggi, generative level artinya perusahaan punya lembaga sendiri untuk melakukan riset terhadap risiko yang muncul dan melakukan mitigasi,” tambahnya.

Sekali lagi, SMK itu bukan bicara lulus atau tidak lulus, tetapi perusahaan ini sedang berada di level mana. Maka dari itu SMK ini adalah evaluasi berkesinambungan. Terus berjalan menuju level tertinggi. Yang perlu diperhatikan, SMK sebaiknya diterapkan secara perlahan dan tidak perlu serta merta 10 elemen sekaligus. Lewat penerapan SMK, diharapkan, pengusaha transportasi membekali mekanik dan pengemudi cara penggunaan dan perawatan kendaraan. Mengingat, setiap hal itu memiliki prosedur yang harus dipatuhi agar kendaraan dapat beroperasi dengan baik,” sarannya.

Mengenai 10 elemen SMK, Sunardi selaku GA & Fleet Manager PT. Tirta Varia Intipratama (TVIP) TVIP Group menjelaskan penerapannya pada perusahaan angkutan umum. “Dalam prakteknya, SMK adalah proses belajar untuk dapat me-manage risiko. Dalam penerapan SMK, adalah pengelolaan risiko. Bahaya ada di dimana-mana dan risiko ini harus dimitigasi. Semakin banyak masalah, semakin banyak kita akan belajar untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga perusahaan akan menjadi lebih baik.

“Dalam manajemen risiko, kita perlu mencatat dan menulis semua risiko mengidetifikasi lalu melakukan mitigasi. Misalnya, kecelakaan paling banyak karena masalah mekanis yang disebabkan karena mekanik dan pengemudi. Jangan menyalahkan mereka jka kita tidak mengedukasi apapun. Agar SDM perusahaan berkualitas, kita perlu memberikan training, agar level mereka secara personal naik. Dokumentasi yang dimiliki pengemudi didata dengan baik sebagai bentuk tindakan preventif. Dan sebagai bagian dari mitigasi, kompetensi mekanik dan pengemudi harus selalu dimaintenanace,” jelasnya.

Sebagai bentuk kontribusi terhadap kebijakan pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang berkeselamatan, Ali Rachman Technical Quality & Competence Development Head PT UD Astra Motor Indonesia menjelaskan bahwa produk UD Trucks Indonesia dirancang dengan mempertimbangkan aturan pemerintah. UD Trucks selalu menjalankan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) untuk setiap kendaraan barunya, bahkan UD Trucks bersama Kemenhub turut mensosialisasikan program SRUT. UD Trucks juga melakukan sertifikasi pada karoseri partner untuk memastikan karoseri yang bekerjasama dengan UD Trucks adalah perusahaan yang taat aturan pemerintah dengan salah satunya mengurus Surat Keterangan Rancang Bangun(SKRB). Terakhir, UD Trucks juga memberikan training front liner mengenai penggunaan unit dan aturan ODOL.

Ali memberikan beberapa contoh fitur keselamatan pada unit UD Trucks yang dibagi menjadi active safety yaitu fitur membantu mencegah terjadi kecelakaan dan passive safety adalah fitur yang membantu mencegah cedera jika terjadi kecelakaan.

Contoh active safety adalah komponen yang berkaitan dengan visibilitas;. Area kaca depan besar dengan visibilitas menyeluruh yang baik, spion besar dengan attachment yang stabil. Lampu depan yang efektif, diposisikan di panel samping kabin untuk memberikan perlindungan tambahan, lampu kabut sebagai opsi di kabin jalan raya. Jendela tampak belakang sebagai standar dan jendela samping tambahan tersedia sebagai opsi di kedua kabin.

Sedangkan pasive safety adalah front under-run protection system (FUP) yang mencegah mobil penumpang terjepit di bawah bagian depan truk jika terjadi tabrakan dari depan. FUP mengurangi risiko cedera serius dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup penumpang mobil. Berikutnya side under-run protection, yakni opsi pada kendaraan rigid yang meminimalkan cedera pada pengendara sepeda dan pejalan kaki jika terjadi tabrakan samping dan rear under-run protection berfungsi mencegah kendaraan terjepit di bawah truk jika terjadi tabrakan belakang.

Editor : Sigit

Foto : UD Astra Motor Indonesia

 



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix