Penerapan Blockchain dalam Sistem Logistik

16 / 05 / 2018 - in News
Blockchain

Teknologi blockchain dalam sistem logistik akhir-akhir ini sedang menjadi perbincangan hangat di tingkat internasional. Blockchain sendiri sebenarnya bukan satu teknologi baru melainkan gabungan dari beberapa teknologi dan platform aplikasi digital. Blockchain memang terbilang masih baru di Indonesia tetapi kemunculannya sudah sejak sembilan tahun yang lalu di dunia. Saat pertama kali blockchain itu lahir memang bersamaan dengan lahirnya bitcoin pada waktu itu dan di Indonesia sendiri saat itu belum menyadari keberadaannya, sehingga komunitasnya lebih terfokus di Amerika Serikat, Eropa, dan China.

Menurut Senior Business Consultant Blockchain Zoo, Pandu Sastrowardoyo, teknologi blockchain memang bisa melakukan banyak hal mulai dari fungsi pear to pear, enkripsi data, fungsi perlindungan aset dan data, dengan esensi untuk menerapkan desentralisasi kepercayaan di antara banyak pihak. Ia mengatakan bahwa sebuah data yang masuk ke dalam sistem blockchain tidak akan bisa diubah oleh siapapun, dan jika data itu pindah kepemilikannya maka isinya pun tidak akan bisa digunakan. Dari sini sudah bisa diketahui bahwa aspek keamanan datanya sangat tinggi dalam sistem ini.

“Misalnya saya kirim email ke Anda yang isinya ‘Anda saya kirimi dana Rp 100 ribu’, kemudian Anda membalas email saya tadi dengan mengubah isi email saya di awal dari dana Rp 100 ribu menjadi Rp 200 ribu, hal itu bisa dibuat dalam sistem email yang sekarang biasa kita gunakan. Bisa kita melacak history email-nya menggunakan server yang bagus, dan itupun harus pakai email server yang sama. Kalau kita beda perusahaan, sistem email kita juga tidak akan sama karena perusahaan kita punya server yang berbeda misalnya. Kalau di sistem blockchain hal ini tidak akan bisa terjadi, karena email tadi bukan merupakan file yang unik. Karena kemampuan blockchain ini adalah menjaga sebuah aset data itu menjadi unik, artinya tidak ada perubahan pada aset atau data itu, dan tidak ada prinsip meng-copy melainkan hanya menganut prinsip moving,” ujar Pandu menjelaskan.

Fungsi enkripsi data, kata Pandu, masing-masing perusahaan dimungkinkan mempunyai buku besar sendiri dan buku besar tersebut ditaruh di dalam sistem blockchain. Sehingga buku besar blockchain akan sama dengan buku besar yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan tadi, itu namanya pear to pear atau memiliki kesamaan data. Jadi kalau customer di luar sistem blockchain bisa minta data dari semua sumber di dalam sistem blockchain ini dengan jaminan semua datanya sama. Mengingat banyaknya data yang terkumpul di dalamnnya maka ada kekhawatiran data-data tersebut akan diubah atau diambil oleh pihak lain di dalam sistem blockchain ini.

“Blockchain melakukan enkripsi data supaya data yang ada tidak bisa dilihat atau diambil oleh pihak lain sesama pengguna sistem ini. Enkripsi yang dilakukan dalam sistem ini juga berkesinambungan, setelah melakukan enkripsi pada blok data yang satu kemudian melakukan enkripsi di blok data selanjutnya dengan memasukkan terlebih dahulu data yang sudah dienkripsi sebelumnya. Maka yang terjadi adalah, lapisan enkripsinya menjadi berlapis-lapis sehingga kalau kita tidak punya kuncinya maka kita pun tidak bisa melihat data itu. Sekalipun kita bisa melihat datanya, kita tidak bisa mengubah data tersebut karena begitu data itu kita ubah maka data yang sudah dienkripsi sebelumnya atau sesudahnya juga akan berubah enkripsinya. Hal yang perlu diingat, dalam blockchain kepemilikan data tetap berada pada masing-masing entitas,” ujar Pandu.

Sesuai esensinya untuk menerapkan desentralisasi kepercayaan, jika bicara mengenai supply chain, selama ini mungkin kerja sama dilakukan secara sentralisasi kepercayaan, apakah itu percaya kepada satu perusahaan atau satu orang. “Dalam blockchain memungkinkan untuk menerapkan desentralisasi kepercayaan, ini berarti blockchain dapat membantu orang atau organisasi atau perusahaan bekerja sama dengan beberapa pihak, itu yang paling utama. Dalam konteks logistik, melalui blockchain bisa membantu dalam hal customer order dan dokumennya bisa lebih cepat penyelesaiannya antar perusahaan atau pihak yang terlibat di dalamnya, kemudian bisa melakukan trace order untuk melihat order di masa lalu kerana semua datanya teraudit. Dan kita juga bisa memastikan bahwa delivery barang sudah on time, melalui data digital dari QR code yang ter-scan saat barang sudah sampai di tujuan. Semua fungsi ini dijamin dengan keamanan data yang tinggi,” kata Pandu.

Meski banyak keunggulan yang ditawarkan oleh blockchain dalam sistem logistik ini, namun kenyataanya masih terlalu dini untuk diterapkan di Indonesia. “Kalau di Indonesia, blockchain ini belum bisa terwujud, mungkin baru 10-20 tahun lagi. Kalau mengikuti proses di logistik Indonesia sekarang, blockchain itu impossible dengan banyak aspek yang dianggap tidak menguntungkan. Tetapi kalau kita mau melompat dulu baru turun lagi, masalah-masalah di dalam logistik kita selama ini bisa diselesaikan dengan blockchain. Karena beberapa solusi di blockchain itu bisa menurunkan tensi dengan tepat untuk permasalahan logistik di Indonesia, yaitu mengenai trust level dan compliances,” kata Zaldy Ilham Masita, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI).

Permasalahan klasik dalam sistem logistik Indonesia, menurut Zaldy, adalah banyaknya proses yang membutuhkan approval model hard copy POD (proof of delivery) atau biasa disebut tanda tangan basah. Kalau menerapkan sistem blockchain, kata Zaldy, dipastikan sistem ini tidak akan berjalan karena semuanya pakai sistem elektronik. “Sementara kalau kita bilang ke customer bahwa kita cuma pakai POD elektronik, mereka pasti bilang tidak bisa karena dia tidak bisa kasih invoice ke customer-nya tanpa ada lampiran POD hard copy atau tanda tangan basah tadi. Sehingga nanggung, karena sistemnya sudah canggih tetapi masih butuh hard copy atau tanda tangan basah, apalagi kalau bicara barang retur yang masalahnya banyak banget. Apakah barangnya ditolak di gudang, atau ditolak di pabrik, atau di toko. Hal ini yang akan membuat interaksi secara sistem menjadi tersendat, karena secara proses banyak yang harus kita improve,” ujarnya.

Apakah POD elektronik bisa diterima nantinya? Menurut Zaldy seharusnya bisa namun mindset pemilik barang yang menganggap jika menggunakan POD elektronik dikhawatirkan datanya bisa dimainkan. “Solusinya sebenarnya ada di blockchain. Karena sebenarnya salah satu tujuan dalam blockchain ini adalah mengaitkan compliances. Memang perlu ada base line-nya yaitu masalah standardisasi, baik standardisasi dari proses maupun standardisasi dari dokumentasi. Masalah ini yang harus kita lompatin saat ini, karena blockcahin ini bisa berjalan kalau dalam komunitas ini atau satu area ini punya kesamaan dalam memberikan data,” kata Zaldy.

Terkait konteks kesamaan dalam memberikan data ini, menurut Pandu, kekuatannya blockchain adalah menjaga kepercayaan akan data walaupun barangnya atau orangnya tidak ada. “Intinya, blockchain bisa membantu untuk data entry, tracking and tracing, dan terpenting adalah blockchain ini membantu mendistribusikan kepercayaan. Sehingga setiap orang bisa bekerja sama atau tercipta kolaborasi yang sehat melalui blockchain. Karena dengan kerja sama akan mampu membuat sesuatu yang lebih besar dan lebih bermanfaat untuk banyak pihak,” ujarnya.

Namun di sisi lain, prospek blockchain di Indonesia masih terbuka lebar ke depannya. “Para pemain besar dalam logistik telah melihat potensi teknologi blockchain dalam logistik dan manajemen rantai pasok ke depan, baik yang terhubung secara full otonom maupun semi otonom. Perusahaan-perusahaan tersebut dalam waktu dekat akan segera menggunakan kombinasi blockchain dan IoT, yang merupakan komponen inti dari logistik 4.0 yang berakselerasi  dengan cepat. Sebagai contoh di Amerika Serikat sudah ada Blockchain in Trucking Alliance, di Eropa konsorsium antara Maersk dan IBM, di Pelabuhan Antwerp di Flanders Belgia, dan teknologi blockchain juga digunakan sebagai smart port,” ujar Erwin Raza, Asisten Deputi Pengembangan Logistik Nasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

 

Editor: Antonius
Ilustrasi: Istimewa



Related Articles

Sponsors

KI-2018-Web-Banner-320x327 (TruckMagz)

327-x-300 (1)

1cemat-banner300-80-cn 

327p-x-300p

logo-chinatrucks300 327pix

FA-CVL-Digital-Banner-300x327-pixel