Pembangunan Ruas Tol Palembang-Indralaya Terapkan Teknologi VCM

08 / 03 / 2016 - in Berita

Teknologi Vacuum Consolidation Method (VCM) dipilih untuk untuk mempercepat proses pembangunan jalan tol ruas Palembang-Indralaya (Palindra), lantaran kondisi daerah tersebut didominasi rawa.

VCM berguna untuk mengurangi kadar air maupun kadar udara dalam tanah. Teknologi ini tergolong baru digunakan dalam pembangunan jalan tol di Indonesia, dan untuk pertama kalinya diterapkan pada pembangunan ruas tol Palindra.

Thomas Setiabudi Aden, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional 3 (BBPJN 3) Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR mengatakan, penggunaan teknologi dalam pembangunan jalan menjadi satu pilihan. Menurut Thomas, ruas tol Palindra berada di daerah rawa dan sesuai perhitungan dalam jangka waktu tertentu pasti akan mengalami penurunan tanah. “Untuk itu kita memilih untuk mempercepat penurunan tanah dalam waktu singkat menggunakan VCM, sehingga cepat memadat,” kata Thomas.

Metoda konvensional hanya mengandalkan system vertical drainase melalui Perforated Vertical Drain (PVD). Thomas mengatakan untuk mempercepat lagi, dengan VCM ini air disedot melalui PVD tersebut. VCM dimaksudkan untuk mempercepat penurunan dan meningkatkan daya dukung tanah asli yang lunak dengan melakukan pemompaan vakum pada tanah yang dimaksudkan untuk mengurangi kadar air maupun kadar udara pada butiran tanah sehingga dapat memperepat penurunan jangka panjang dan perbedaan penurunan.

Pada pengujian tanah awal yang dilakukan oleh PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI), Resnu Aditya selaku PIC perbaikan tanah HKI mengatakan bahwa, dari total panjang 22 kilometer ruas tol tersebut, mulai km 0 hingga km 16 kondisi tanahnya harus dilakukan perbaikan. Namun dalam perkembangannya, sampai dengan km 20 membutuhkan perbaikan walaupun sifatnya hanya pada titik tertentu.

“Dengan sistem VCM ini dapat dilakukan percepatan 4 bulan dibandingkan dengan metode konvensional yaitu satu tahun,” jelas Resnu. Kelebihan lainnya, lanjut Resnu, tidak dibutuhkannya material tanah sebagai beban sementara, selain itu penggunaan sumber daya yang minim juga meminimalisir penggunaan alat berat. Konsolidasi/penurunan tanah juga bersifat isotropic, sehingga resiko ketidakstabilan lereng dapat dieliminir.

Selain itu juga kelebihannya adalah memiliki gangguan yang rendah terhadap kegiatan pekerjaan lainnya, bahkan dapat melakukan overlap dengan pekerjaan lain sehingga jadwal konstruksi secara keseluruhan dapat dipersingkat. Ditambah lagi teknologi ini ramah lingkungan, karena perbaikan tanah bersifat mekanis tanpa penggunaan bahan-bahan kimia.

Teks : Antonius S

Sumber foto : Biro Komunikasi Publik Kemen. PUPR



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix