Organda Dorong Penggunaan Truk Multiaxle

06 / 06 / 2018 - in News
Truk Multiaxle

Pelaku bisnis trucking Indonesia masih dihadapkan dengan problem klasik over dimensi dan overload. Masalah ini sejatinya sudah berlangsung lama, mengingat selama ini di antara stakeholder terkait tidak saling mendukung upaya pengentasan permasalahan tersebut. Namun belakangan, isu over dimensi dan overload ini mulai diseriusi untuk ditangani oleh pemerintah bersama para pemangku kepentingan yang terkait.

“Over dimensi dan overload memang menjadi isu terbesar saat ini di industri trucking. Saya mengapresiasi upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Dulu kenapa tidak jalan? Karena dulu pemain truknya tidak mendukung dan institusi pemerintahan lainnya juga tidak mendukung,” kata Ivan Kamadjaja, Ketua Angkutan Barang DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda).

Ivan menjelaskan, saat ini Organda juga sudah mulai mengevaluasi terkait desain truk melalui kerja sama dengan para agen pemegang merek (APM) truk di Indonesia. “Misalnya soal ban, ban untuk truk yang ada di Indonesia ini bisa dikatakan ban terkuat di dunia, karena desainnya dibuat sebisa mungkin untuk mengakomodir praktik overload. Belum lagi aturan-aturan terkait truk yang sudah waktunya direvisi, mengingat perkembangan teknologi kendaraan begitu pesat,” ujarnya.

Aturan terkait truk yang dimaksud Ivan adalah soal pemakaian multiaxle dan kapasitas beban maksimum sumbu depan (front axle). “Pada prinsipnya kami meminta kepada Kementerian Perhubungan dan instansi terkait untuk mengakomodir perkembangan desain dan teknologi truk saat ini. Misalnya, front axle itu masih tertulis enam ton, padahal hari ini yang sembilan ton sudah ada. Kemudian juga terkait penggunaan multiaxle, ini juga sedang kita dorong,” kata Ivan menjelaskan.

Sementara itu dari pihak APM truk berpendapat bahwa penggunaan truk multiaxle ini sangat bergantung dari law enforcement Pemerintah Indonesia. “Kalau law enforcement untuk over muatan ini tidak serius dijalankan, maka truk multiaxle ini tidak ada yang mau beli. Mungkin hanya beberapa perusahaan saja yang paham mengenai aturan overload sehingga mereka menggunakan truk multiaxle. Jadi selama law enforcement-nya tidak jalan maka kendaraan multiaxle ini tidak ada pasarnya, karena pengusaha angkutan barang pasti lebih pilih beli truk 6×2 atau 4×2 yang investasinya lebih murah,” ungkap Robert Lie, President Director PT Gaya Makmur Mobil selaku APM truk FAW di Indonesia.

Robert menambahkan, jika penindakan tegas dilakukan untuk truk yang overload di jalan kelas 3, maka pengusaha angkutan juga akan mencari solusi yang salah satunya menggunakan truk multiaxle. “Supaya tetap bisa muat banyak tetapi tidak melanggar aturan,” imbuhnya.

Terkait penggunaan truk multiaxle, kata Ivan, Organda tengah melakukan komunikasi intensif dengan regulator. “Karena dengan truk multiaxle dengan panjang dan lebar yang sama atau bahkan bisa sedikit lebih kecil, muatnya bisa lebih banyak. Ini yang lagi kita dorong ke pemerintah, dan kami dari Organda sudah memasukkan surat resmi terkait usulan kami ini kepada kementerian terkait, supaya isu over dimensi dan overload ini bisa benar-benar diatasi,” kata Ivan.

FAW sendiri saat ini sudah tersedia tipe multiaxle 8×4. “Kami sudah memasukkan prototipe ini sekitar tahun 2012 dan tipe ini masuk di segmen medium-heavy duty truck berbadan sempit atau kecil untuk jalan kelas 3. Secara teknis, truk ini memiliki GVW 27 ton tetapi bisa masuk jalan kelas 3 supaya bisa masuk ke jalan pedesaan atau jalan-jalan dengan JBI kecil tetapi muatannya bisa lebih banyak tanpa melanggar aturan,” ujar Robert Lie.

 

Editor: Antonius
Foto: FAW

 

 

 

 



Related Articles

Sponsors

Truckmagz GIF

Media Banner for TruckMagz Indonesia-02

KI-2018-Web-Banner-320x327 (TruckMagz)

1cemat-banner300-80-cn 

logo-chinatrucks300 327pix

FA-CVL-Digital-Banner-300x327-pixel