Antisipasi Overload, Sensor Timbang Akan Terpasang di Jalan Tol Jabodetabek

16 / 06 / 2016 - in News

Wacana pemasangan weight in motion (WIM) atau alat sensor timbang kendaraan di pintu masuk jalan tol terutama di wilayah yang menjadi jalur perlintasan truk angkutan barang, muncul dalam focus group discussion yang dilakukan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan tentang Penyusunan Rencana Umum Jaringan Lintas Angkutan Barang di Wilayah Jabodetabek bersama para stake holder di kantor BPJT, Rabu (15/Juni).

Menurut kepala BPTJ Elly Adriani Sinaga dalam focus group discussion kali ini, BPTJ akan memasang WIM pada pintu tol untuk memantau berat seluruh kendaraan yang lewat. Rencananya alat pengukur bobot kendaraan tersebut akan terpasang pada tahun depan.

Elly mengatakan, semua data mengenai truk dengan muatan berlebih akan diinformasikan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti dengan memberikan sanksi tilang dan membayar dendanya melalui pengadilan. Hal ini mengingat pemerintah belum bisa menjatuhkan denda secara langsung karena peraturan yang ada tidak mengijinkan hal tersebut.

Langkah penertiban dengan memasang WIM ini, menurut Elly, lebih ekfektif ketimbang harus menurunkan muatan truk saat itu juga mengingat keterbatasan lahan untuk menampung barang bawaan yang harus diturunkan agar sesuai bobot yang diizinkan di jalan tol.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan mengungkapkan, wacana ini untuk membatasi kondisi overload di industri angkutan barang yang terjadi selama ini. “Kita tentu akan menyosialisasikan wacana penerapan alat sensor itu (Weight in Motion) kepada seluruh anggota Aptrindo melalui DPD,” ujar Tarigan.

Sebelumnya, PT Marga Mandalasakti (MMS) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) ruas Tangerang-Merak untuk pertama kalinya memasang sensor WIM ini di pintu masuk Tol Cilegon Barat, jalur yang sering dilalui kendaraan golongan 2 ke atas. Sebelumnya MMS menggunakan pemantauan visual dan secara manual dalam melakukan justifikasi kepada kendaraan berlebihan muatan dengan menilai bentuk muatan.

“Pada ruas jalan tol luar kota terdapat ketentuan kecepatan minimum 80 km/jam dan maksimum 100 km/jam. Seiring meningkatnya geliat ekonomi dan pertumbuhan kendaraan golongan 2 sampai golongan 5, ada beberapa faktor yang secara kapasitas, jika dikonversikan dengan kapasitas ratio jalan, masih masuk tapi di beberapa titik mengalami perlambatan dimana yang seharusnya kendaraan dapat melaju kencang tapi karena ada beberapa kendaraan yang tidak bisa memenuhi kecepatan minimum tadi maka kapasitas jalan menjadi berkurang. Kami perkirakan Hal ini disebabakan karena kendaraan dengan muatan berlebih,” urai Sunarto Sastrowiyoto, Direktur Teknik dan Operasi MMS saat mediasi dengan para stake holder di industri angkutan barang wilayah Serang dan sekitarnya, di kantor BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat beberapa waktu lalu.

 

Editor: Antonius S



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix