Moda Angkutan Darat Perlu Dikawal Manajemen Lalu Lintas yang Baik

28 / 02 / 2016 - in Berita

Program kereta api logistik pelabuhan dari pemerintah yang sejatinya ditujukan untuk memangkas biaya logistik nasional serta menekan durasi dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, mendapat tanggapan dari para pemangku kepentingan di sektor industri angkutan darat khususnya di wilayah ibu kota.

Sebelumnya, pemerintah per 18 Februari lalu telah melakukan ujicoba pengoperasian kereta api logistik pelabuhan yang menghubungkan (relasi) terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta (JICT), dengan pusat logistik berikat Cikarang Dry Port (CDP) di Jawa Barat.

Safruhan Sinungan, Ketua DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta mengkhawatirkan pasar angkutan menggunakan truk barang bakal menurun hingga 30 persen, jika jadwal kereta api logistik pelabuhan ini nantinya berjalan secara regular. Sebab menurut Safruhan, selama ini kargo-kargo ekspor-impor yang mendominasi pasar angkutan darat sebesar 60 persen berasal dari wilayah penyangga ibu kota seperti Bekasi, Tangerang, Cikarang, Karawang dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat.

Meski begitu, Safruhan masih sangat optimis jika angkutan truk barang yang selama ini menguasai jalur distribusi barang via darat masih menjadi primadona bagi industri untuk keperluan ekspor-impor barang.

Sugi Purnoto, Wakil Ketua II Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengatakan, moda transportasi barang menggunakan kereta api barang/cargo belum eksklusif di Indonesia. “Karena (jalur kereta api barang) menggunakan slot kosong yang waktunya tidak dipakai oleh kereta penumpang, karena jalur rel (kereta api barang) di Indonesia masih berbagi dengan kereta penumpang. Di Pulau Jawa khususnya, sistem jalur kereta api juga dibedakan berdasarkan strata yaitu eksekutif, bisnis, ekonomi, ekspres cargo, dan kontainer/cargo,” Jelas Sugi.

Sugi memprediksi hingga akhir 2016 mendatang, pertumbuhan kereta api barang tidak akan lebih dari 2 persen dari total volume yang dicover untuk kegiatan distribusi barang terutama di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Tidak akan tumbuh signifikan karena relnya juga sangat terbatas di Pulau Jawa ini,” pungkas pria ramah ini.

Menurut Sugi, secara general volume trucking tahun ini akan tumbuh 5-10. Terlebih jika akses jalan tol (Tanjung Priok-New Port Kalibaru-Cilincing-Cibitung) telah dibuka, akan membuat arus lalu lintas angkutan truk barang lebih lancar karena tidak harus melewati akses Jakarta outer ring road (JORR).

“Hal ini akan otomatis meningkatkan utilisasi moda angkutan truk barang, dan dibukanya jalur kereta api barang juga akan membantu kelancaran arus distribusi volume barang, terutama dengan sistem double track yang memisahkan jalur kereta penumpang dan kereta api logistik,” jelas Sugi lagi.

Widijanto, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta mengatakan, untuk memperlancar arus distribusi logistik mengandalkan moda angkutan truk barang perlu diimbangi dengan manajemen lalu lintas yang dikemas secara apik. Mengingat jalur kereta api barang pelabuhan Priok itu berdampingan dengan jalan umum dan melintasi empat lintasan sebidang seperti jalan Pasoso, Jampea, Yos Sudarso, dan Tanjung Priok.

Menurut Widijanto, jika kemacetan terjadi pada jalur distribusi vital tersebut akibat empat perlintasan sebidang yang dilewati kereta api barang, hal ini lah yang harus diantisipasi karena selama ini jalur tersebut sudah sangat padat.

Pada intinya manajemen lalu lintas perlu dikemas lebih baik lagi untuk mengawal kelancaran arus distribusi barang, baik menggunakan moda kereta api maupun truk, demi terciptanya sistem transportasi logistik yang lebih efektif dan berdaya saing tinggi.

Teks & Foto : Antonius S



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix