Menkeu Anggap Kawasan Berikat Penting untuk Tingkatkan Rasio Ekspor

20 / 02 / 2019 - in Berita

Hasil survei yang dilakukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan University Network for Indonesia Export Development (UNIED), terkait manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh fasilitas Kawasan Berikat (KB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), menunjukan bahwa kedua fasilitas tersebut telah membawa dampak positif dalam mendorong perekonomian di berbagai industri Tanah Air.

Manfaat ekonomi dalam konteks ini terutama dari sisi peningkatan nilai ekonomi yang lebih besar, peningkatan investasi, membuka kesempatan kerja yang lebih besar, serta adanya multiplier yang muncul akibat kebijakan fiskal pemerintah tersebut.

Berdasarkan hasil survei tersebut, manfaat langsung dari hasil penerapan KB-KITE pada tahun 2017 antara lain rasio ekspor terhadap impor sebesar 2,4. Artinya, setiap nilai 1 dolar bahan baku yang diimpor dengan kedua fasilitas tersebut, telah menghasilkan nilai 2,40 dolar produk yang telah diekspor.

Rasio ekspor terhadap impor sebesar 2,4 itu berdampak pada nilai tambah terhadap perekonomian Indonesia sebesar Rp 402,5 triliun, tenaga kerja terserap 1,95 juta orang dengan 97 persen tenaga kerja lokal, peningkatan penerimaan pajak pusat sebesar Rp 85,49 triliun dan pajak daerah mencapai Rp 5,11 triliun, serta nilai investasi sebesar Rp 178,17 triliun.

“Buat saya nilai ekonomi lebih besarnya yang lebih penting, daripada manfaat penerimaan pajak yang meningkat dalam waktu singkat. Nilai ekonomi kontribusi terhadap ekspor di atas 30 persen, terhadap investasi, kesempatan kerja dan multiplier linkage lain yang muncul dari sisi perdagangan, akomodasi, transportasi itu penting,” kata Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati di kantornya, Senin (18/Feb/2019).

Sedangkan sisi manfaat ekonomi secara tidak langsung, menurut Sri Mulyani, di antaranya seperti pertumbuhan jumlah jaringan usaha langsung sebanyak 95.251 dan 268.509 usaha tidak langsung yang meliputi usaha akomodasi, perdagangan, makanan, dan transportasi.

Menkeu mengatakan, upaya memperbaiki kinerja ekspor dan investasi dibutuhkan kerja sama dari seluruh ekosistem  baik pemerintah, pengusaha, infrastruktur, logistik serta supply chains terkait. “Tidak mungkin hanya satu player di dalam ekosistem ini yang melakukan upaya sedangkan yang lain tidak,” ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

 

Editor: Antonius
Foto: Giovanni



Related Articles

Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix