Menjaga Mesin Diesel Tetap Prima

16 / 02 / 2015 - in Tips & Trik

Saat ini, kendaraan komersil di Indonesia umumnya menggunakan dua jenis mesin diesel, konvensional dan common rail. Menurut Raymond Oktavianus, Sales Manager PT Catur Kokoh Mobil Nasional, Authorized Dealer Hino, dari sudut pandang pengusaha, diesel konvensional lebih banyak digunakan karena lebih murah daripada common rail serta perawatan juga lebih mudah. Teknologi diesel common rail ini bisa dibilang sebagai teknologi terbaru yang nantinya akan menggantikan teknologi sitem injeksi diesel konvensional seperti yang sekarang digunakan.

Perbedaan karakteristik sistem diesel konvensional dan common rail sebagai berikut.

a) Seiring dengan meningkatnya regulasi gas buang maka menjadikan teknologi diesel konvensional saat ini hampir tidak memungkinkan lagi memenuhi standar kualitas dan kuantitas gas buang untuk mesin diesel. Sistem common rail ini menjadi satu-satunya jawaban untuk mengoperasikan kebutuhan mesin diesel pada masa 10-20 tahun ke depan.

b) Parameter injeksi sangatlah penting untuk kebutuhan tenaga mesin diesel. Pada teknologicommon rail, tekanan injeksi menjadi sangat tinggi, kontrol injeksi pada tiap langkah pembakaran menjadi akurat. Jumlah, timing, dan tekanan injeksi dikontrol secara terpisah. Hal ini memungkinkan kontrol bahan bakar yang jauh lebih akurat.

c) Pada diesel konvensional bahan bakar diesel dibagi-bagi dari pipa tekanan tinggi ke tiap silinder mesin, dengan common rail bahan bakar diesel yang bertekanan tinggi dikumpulkan pada sebuah pipa common rail. Kondisi ini memungkinkan untuk menghapuskan sistem kontrol kebutuhan bahan bakar diesel yang sebelumnya dibagi-bagi berdasarkan jumlah silinder mesin.

d) Konsumsi bahan bakar menjadi efektif dan efisien. Pompa injeksi terus-menerus memompa solar dari tangki menuju pipa common rail, sampai tekanan common rail yang dibutuhkan tercapai.

e) Tiap injektor yang berada di atas tiap silinder mesin akan mendistribusikan solar yang bertekanan tinggi kepada tiap nozzle via pipa common rail. Di sini, ECU akan mengontrol timing dan jumlah pengiriman bahan bakar.

f) Kelebihan mendasar common rail berdampak sangat besar pada hasil dari proses pembakaran ini, antara lain performa/tenaga mesin yang lebih baik, efektif dalam penggunaan bahan bakar (lebih hemat bahan bakar), getaran mesin lebih kecil, suara lebih kecil, asap/gas buang lebih bersih.

Karakter Mesin Common Rail Diesel

1. Dengan pengaturan volume dan tekanan yang fleksibel membuat percampuran solar dengan udara disertai tekanan yang tepat membuat pembakaran menjadi lebih efektif sehingga sebagian besar bahan bakar terserap menjadi tenaga, hal ini menyebabkan gas buang relatif sedikit (asap berkurang) dan lebih ramah lingkungan.

2. Pengaturan secara elektronik volume injeksi bahan bakar dan timing injeksi juga berdampak pada efektivitas penggunaan bahan bakar sehingga memberikan tenaga yang lebih besar dan konsumsi bahan bakar yang lebih irit. Klaim dari pabrikan, common rail dapat menyemprotkan bahan bakar tiga kali lebih akurat daripada diesel konvensional sehingga sangat efektif.

3. Komponen mesin common rail sangat tahan terhadap tekanan sehingga bisa bekerja lebih keras dan lebih tahan lama.

4. Penyesuaian mesin lebih mudah, hal ini disebabkan tiap silinder dikendalikan oleh pompa injeksi yang berbeda.

Meskipun teknologi yang diterapkan common rail lebih maju dan dijamin lebih hemat, mayoritas pengusaha masih memilih diesel konvensional karena beberapa alasan berikut.

1. Perbaikan lebih mudah

Kendala mesin bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Jika terjadi masalah mesin saat dalam perjalanan, sopir bisa langsung menangani mesin konvensional. Berbeda dengan common rail yang memerlukan mekanik dengan keterampilan khusus untuk memperbaiki.

2. Service mahal

Karena sistem pembakaran diesel common rail dikontrol secara komputerisasi, servicemenggunakan alat khusus yang berharga mahal diperlukan. Tidak semua bengkel perusahaan mampu membeli alat tersebut. Tiap service rutin, unit harus dibawa ke bengkel resmi yang memiliki mekanik dan alat khusus untuk memeriksa common rail.

Sementara itu, bukan tidak mungkin diesel konvensional mampu menyamai performa diesel konvensional. Berikut beberapa kiat yang disampaikan Jerry Budiman, Direktur Operasional PT Catur Kokoh Mobil Nasional, Authorized Dealer Hino.

1) Tonase

Jika beban yang diangkut tiap truk sesuai dengan tonase dari pabrikan tentu mesin diesel akan tetap awet. Beban overload membuat mesin berkerja keras sehingga performa mesin akan pendek. Truk menjadi sering masuk bengkel untuk service.

2) Gaya mengemudi

Gaya mengemudi yang ugal-ugalan akan memaksa turbo mesin untuk bekerja lebih berat, ini menyebabkan udara yang masuk ke dalam mesin menjadi sedikit dan akibatnya knalpot mengeluarkan asap hitam. BBM menjadi boros dan emisi gas buang menjadi tinggi. Gaya mengemudi sopir seperti itu juga merusak piston.

3) Oli mesin

Jika truk biasa mengangkut beban berat oli mesin harus diganti lebih sering daripada truk muatan normal. Asap yang mengeluarkan karbon berakibat pada oli mesin yang cepat kotor, jika ini dibiarkan berlarut-larus mesin cepat rusak.

4) Penggantian filter

Untuk meminimalisir kerusakan mesin akibat dari BBM kotor, filter juga perlu diganti secara rutin. Ini terkait kualitas BBM yang digunakan, jika memakai solar berkualitas, tenaga yang dihasilkan juga akan sempurna. Artinya, sisa pembakaran tidak menumpuk dalam mesin.

Apa pun mesin diesel yang akan digunakan, service rutin berguna menjaga kondisi mesin tetap prima. Jerry menambahkan, “Service rutin juga memperkecil risiko kerusakan mesin, up time kendaraan juga lebih lama, ini juga mendukung perputaran keuntungan perusahaan. Unit truk yang rusak parah membutuhkan service lebih lama, perusahaan akhirnya merugi karena truk tidak bisa jalan.” Korelasi antara service rutin dan keuntungan perusahaan berkaitan erat, kesadaran ini yang harus ditumbuhkan di kalangan pengusaha trucking.

Teks: Sigit Andriyono



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix