Mengelola Risiko dengan Menyusun SMK, Memberi Jaminan Keselamatan Transportasi

05 / 01 / 2022 - in Berita

Sistem manajemen keselamatan (SMK) secara umum diperuntukkan mencegah kecelakaan dan menjaga keselamatan awak kendaraan termasuk perusahaan transportasi. Di dalamnya mengatur sekaligus menjadi acuan bagi pekerja serta pemilik perusahaaan transportasi untuk mengelola risiko sehingga bisnis tetap terjaga. Dalam prakteknya masih ada perusahaan yang belum memahami bagaimana menyusun SML yang benar.

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan perusahaan angkutan umum sering keliru dalam menyusun SMK. “Yang disusun justru ke 10 elemennya, misal : ada dokumen yang terkait elemen 1, dokumen terkait elemen 2 dan seterusnya . Padahal bukan seperti itu, yang harus dilakukan adalah mengelola ke risiko,” katanya.

Wildan memberikan contoh, pemastian kesiapan awak. Untuk memastikan kesiapan awak perusahaan perlu menyusun, pertama komitmen dan Kebijakan. “Ada 3 komitmen dan kebijakan perusahaan terkait pemastian kesiapan awak yakni, setiap pengemudi perusahaan harus kompeten dengan teknologi kendaraan yang dibawanya; setiap pengemudi perusahaan harus mematuhi peraturan lalu lintas dan dalam keadaan fit untuk untuk mengemudi dan setiap pengemudi perusahaan tidak meminum minuman beralkohol ataupun menggunakan obat obatan yang dapat mengganggu kerjanya sewaktu mengemudi,” katanya.

Kedua pengorganisasian. untuk menjalankannya perusahaan perlu menyusun truktur organisasinya siapa saja yang bertugas dan bertanggung jawab memastikan hal ini, mulai dari proses rekrutmen, penugasan serta pengawasan. Agar lebih jelas ada bagan struktur organisasi dan job desk yang memastikan bahwa perusahaan mampu memastikan komitmen yang sudah ditetapkan.

Ketiga, manajemen bahaya dan risiko. Perusahaan menyusun standar, persyaratan pengemudi, umur, kesehatan, fisik, standar waktu kerja, waktu istirahat, waktu libur dan standar pemeriksaan kebugaran dan kesehatan. Kemudian disusun prosedur pemeriksaan dan pemastiannya, sehingga pemastian komitmen berjalan atas sistem, bukan secara personal.

Keempat, fasilitas. Perusahaan menyediakan fasilitas untuk melakukan pemeriksaan fit to work setiap hari, fasilitas istirahat bagi pengemudi agar tidak mengantuk serta fasilitas lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan komitmen yang telah disepakati.

Kelima, dokumentasi dan data. Perusahaan juga membuat sistem pendokumentasian data pengemudi, waktu kerja mereka, waktu libur, waktu iistirahat, riwayat penyakit, riwayat kecelakaan untuk mendukung implementasi komitmen perusahaan.

Keenam, peningkatan kompetensi dan pelatihan. Perusahaan juga memiliki sistem pemeliharaan kompetensi pengemudi yang berkelanjutan sesuai dengan kebutuhannya dan atau sesuai temuan hazard di lapangan. Ketujuh, tanggap darurat. Perusahaan memiliki SOP Tanggap Darurat jika terjadi kecelakaan atau kerusakan kendaraan di tengah jalan, dan memastikan semua pengemudi memahami hal ini.

Kedelapan, pelaporan kecelakaan internal. Pada setiap kasus insiden ataupun kecelakaan, semuanya harus terdata dan dilakukan penelusuran apa penyebabnya sehingga dapat diambil tindakan mitigasinya. Kesembilan, monitoring dan evaluasi. Perusahaan telah membuat mekanisme audit dan inspeksi untuk memastikan setiap prosedur, setiap standar dijalankan dengan baik dan benar, dan dilakukan monitoring dan evaluasi apakah standar dan prosedur tersebut masih relevan atau perlu perbaikan.

Kesepuluh, pengukuran kinerja. Perusahaan juga melakukan pengukuran kinerja terhadap pengemudinya, terkait riwayat kesehatan, pelanggaran lalu lintas, kejadian insiden ataupun kecelakaan dsb untuk memberikan gambaran yang objektif terkait performansi pengemudi sehingga komitmen perusahaan tetap terjaga.

“Ternyata untuk memastikan kesiapan awak kendaraan tidaklah mudah. Dibutuhkan langkah-langkah sistematis dan terstruktur untuk membentuk, mengawasi serta mengevaluasinya secara berkala. Dan PM 85 Tahun 2018 telah memberi panduan bagaimana cara melakukannya dengan mudah. Jika risiko diatas dapat terpetakan dengan baik dengan menggunakan 10 elemen SMK, maka dapat dikatakan perusahaan tersebut telah dapat mengelola resiko dan memberi jaminan keselamatan pada penyelenggaraan bisnisnya. Tentu saja perlu dilakukan validasi dan verifikasi di lapangan apakah semua yang tertulis tersebut benar adanya. Karena prinsip dasar SMK adalah : “tulis apa yang harus dikerjakan, dan kerjakan apa yang sudah ditulis,” pungkas Wildan.

Editor : Sigit

Foto : truckmagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix