Membuat Pedoman Tarif Jasa Pengangkutan Barang

01 / 10 / 2021 - in Berita, Tips & Trik

Dalam perhitungan tarif angkutan barang ada beberapa metode. APM juga bisa membantu memberikan panduan perhitungan tarif angkutan barang. Pendekatan biaya operasional menjadi salah satu metode yang digunakan ketika satu perusahaan transportasi baru saja membeli armada baru.

Agus Indaryanto, General Manager PT Naga Surya menjelaskan metodenya dalam menghitung tarif jasa angkutan barang. “Di perusahaan kami, ongkosan ini ini naik per 5 ton. Nilai yang berubah hanya biaya BBM. Biaya lain -lain ini tidak berubah termasuk uang makan, uang parkir, gaji pengemudi tidak berubah,” bukanya.

Dari tiga jenis muatan berat, sedang, ringan dengan tujuan pengiriman berbeda akan ketemu rata-rata yang bisa dijadikan pedoman tarif. “Perihitungan ini tidak membutuhkan waktu lama, cukup satu minggu saja. Pedoman tarif dibuat saat ada armada baru. Sebenarnya perhitungan ini kami gunakan untuk mengetahui berapa konsumsi BBM liter per kilometer(km). Hasil hitungan ini bisa diperiksa lagi setelah armada tadi sudah beberapa tahun berjalan. Itu normal saja, karena seiring waktu mesin kan mengalami deprisiasi, otomatis BBM semakin boros,” tambah Agus.
Pertama kali adalah menyiapkan orang manajemen untuk ikut bersama pengemudi. “Tentukan tujuan pengiriman untuk tiga jenis muatan. Setiap pengemudi dari ketiga jenis muatan dikawal personal manajemen tadi. Pengemudi dan kenek hanya diberi uang gaji saja. Uang untuk makan, BBM, bongkar muat, parkir, isi angin ban dan sebagainay dipegang oleh orang manajemen,” katanya.

“Tugasnya orang manajemen tadi mencatat semua biaya yang dikeluarkan selama perjalanan termasuk km di odometer. Berangkat dari garasi ke SPBU ini kan kosong, disitu dicatat km-nya. Lalu, isi BBM full, dicatat lagi km-nya berapa. Berangkat ambil muatan, dicatat lagi ,karena itu sudah ada muatannya. Di titik mana isi BBM lagi, dicatat lagi. Saat isi BBM, langsung full dan jalan naik dan turunan juga dicatat berapa panjangnya. Semua pengeluaran ada struknya, termasuk tol, parkir dan sebagainya. Ingat, catatan ini hanya one way saja tidak perlu PP, karena pulang kan truk kosong. Saat ada jalan tanjakan dan turunan, tentunya konsumsi BBM berbeda dengan jalan standar. Tugas pencatatan berakhir ketika truk isi BBM full, setelah bongkar muatan. Sampai disitu akan tahu kebutuhannya diperjalanan,” ucap Agus.

“Kemudian, semua catatan dan struk dikumpulkan mulai dari muatan ringan, sedang dan berat. Hitungan rata-rata ini bukan pengeluaran ketiga muatan dijumlahkan, lalu dibagi tiga. Kita mencari hitungan tepatnya diatas muatan ringan sampai dengan berat, itu berapa liter per km-nya. Kemudian dianalisa rute tertentu misalnya Bandung, cikampek ini kan jalannya naik turun, itu juga diperhitungakan. Kira berapa km total tanjakan dan turunannya. Kalau di perusahaan kami, uang makan pengemudi untuk tujuan pengiriman Jatim, Jateng dan Jabar berbeda. Setelah komponen lengkap dianalisa, Dari situ nanti akan ketemu tarifnya,” pungkas Agus.

Editor : Sigit

Foto : Truckmagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix