Kulgram Indonesia Truckers Club - Fenomena Rem Blong (Bagian 2 / Habis)

Manfaatkan Kemampuan Torsi Kendaraan

21 / 03 / 2020 - in Berita

Pentingnya pemahaman dalam menggunakan sistem rem di kendaraan secara benar, perlu selalu diingatkan dan ditekankan kepada pengemudi truk. Hal ini diutarakan oleh Achmad Wildan, Senior Investigator Komite Jalan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam sesi Kulgram (Kuliah Telegram) Indonesia Truckers Club dengan topik ‘Fenomena Rem Blong’ beberapa hari lalu.

Achmad Wildan mengatakan bahwa sejauh ini kebanyakan sopir masih kerap mengandalkan service brake dengan pedal rem untuk menghentikan laju kendaraannya, padahal truk dilengkapi dengan rem pembantu. “Ada teknik mengemudi untuk mengaktifkan rem pembantu ini sehingga memiliki daya pengereman maksimal, yaitu dengan memanfaatkan kemampuan torsi kendaraan,” kata Wildan sapaannya.

Torsi
Gbr.1

Gambar 1 menjelaskan bagaimana seharusnya pengemudi menjalankan kendaraannya dengan aman pada saat melalui turunan, yakni dengan torsi maksimal maka rem pembantu akan bekerja maksimal sehingga energi kalor yang dihasilkan saat mengerem menjadi kecil.

Menurut Wildan, torsi kendaraan akan tercapai pada saat penggunaan gigi persneling yang tepat, yang di tachometer terdapat petunjuk zona torsi maksimal akan tercapai. Ia mencontohkan truk dengan enam gigi (persneling) maka torsi maksimal akan tercapai pada saat gigi dua, ketika jarum rpm berada di zona putih (Gbr.1). “Zona hijau adalah zona di mana power maksimal tercapai, yaitu pada gigi tinggi. Zona merah adalah zona dangerous yang bisa menyebabkan mesin pecah karena mengalami over running,” ujarnya.

Salah satu peserta Kulgram-Indonesia Truckers Club, Erreza Hardian dari RDL bertanya, “Apakah teknologi di kendaraan baru pasti bisa mengatasi masalah yang Bapak sebutkan di atas? Di luar si pengemudinya?” kata Erreza.

“Teknologi terbaru sekarang ini adalah retarder, namun juga pengemudi dituntut harus paham menggunakannya. Di sini pentingnya pemahaman pengemudi terhadap kendaraan yang dibawanya, atau disebut human interface machine,” jawab Wildan.

Peserta Kulgram lainnya, yakni Hendro Prasetyo dari diler Transforma Oto Prima (Mercedes-Benz truck) menambahkan, “Selain engine brake (salah satu jenis retarder), untuk teknologi terbaru adalah constant throttle valve engine, yaitu mengurangi kompresi di ruang bakar. Sedangkan untuk Voith Retarder masih dalam tahap uji coba di beberapa customer,” kata Hendro.

Dinginkan Minimal 30 Menit

Wildan kemudian mengaitkannya dengan kondisi brake fading (rem blong) dan vapour lock (angin palsu). “Brake fading selalu diawali penggunaan gigi persneling tinggi di turunan. Ketika brake fading, pengemudi menginjak rem dan berfungsi namun kendaraan terus melaju. Sementara di kasus vapour lock atau malfunction pada tekanan angin, pengemudi langsung merasakan pedal rem kosong. Jadi perbedaannya dirasakan oleh pengemudi,” katanya menjelaskan.

Wildan pun membeberkan beberapa tindakan keliru pengemudi. “Kalau tromol dan kampas mengalami panas, selalu didinginkan dengan cara disirami. Hal ini bisa menyebabkan tromol berubah bentuk dan kalau sudah berubah bentuk menjadi oval maka potensi brake fading menjadi lebih tinggi sekalipun di jalan datar, karena sekalipun enggak ngerem kampas akan menekan dinding tromol jika masuk ke rongga yang kecil,” ujarnya.

Untuk mendinginkan kampas rem yang terlanjur panas alias overheat, Wildan sangat menganjurkan untuk mengistirahatkan kendaraan sejenak. “Istirahat sampai dingin sendiri minimal 30 menit, kalau pengemudi sekarang mendinginkan cuma lima menit,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa hal ini bisa jadi disebabkan karena peran mekanik. “Saya menemukan cara pemasangan kampas rem yang dipantek pakai palu, otomatis permukaannya tidak rata. Saat kampas mulai aus, salah satu paku akan menonjol dan menggores permukaan tromol dan hal itu menyebabkan overheat. Saya menemukan tanda seperti diparut di tromolnya dan permukaan kampasnya tidak rata. Itu contoh overheat yang bukan dipicu oleh pengemudi melainkan dipicu oleh mekanik,” ungkapnya.

Tindakan keliru sopir lainnya, menurut Wildan adalah pengemudi suka mengocok rem. “Jika itu rem FAB (full air brake) atau AOH (air-over-hydraulic) maka akan berpotensi menurunkan tekanan angin. Jika tekanan angin kurang dari enam bar maka pedal rem dan kopling akan mbagel (keras). Sementara jika itu jenis rem AOH atau FHB (full hydraulic brake), mengocok rem akan meningkatkan temperatur di ruang master rem, jika minyak remnya jelek akan berpotensi terjadi vapour lock,” ujarnya menjelaskan.

Dari hasil investigasi yang telah dilakukannya, Wildan mengatakan bahwa bekas kecelakaan pada kasus brake fading adalah ditemukannya residual di ruang tromol, tromol terdapat chicken crack tanda terjadi overheat, dan kampas rem juga terlihat gosong atau bekas terbakar. Sementara pada kasus vapour lock, menurut Wildan master remnya yang gosong dan ada tanda kehitaman di ruang piston.

Terkait kampas rem yang gosong karena terbakar akibat rem overheat, Wildan berharap agar pemerintah juga perlu membuat standar terhadap kampas rem yang dijual di Indonesia. “Berapa ketahanan panas minimumnya mengingat jalan kita banyak menurun. Setiap penjualan produk nilai tersebut harus dicantumkan sehingga konsumen bisa mempertimbangkan, apakah akan membeli kampas mahal dengan ketahanan panas tinggi atau kampas murah dengan ketahanan panas rendah. Sebab di sini peran kampas sangat penting dalam mengakomodasi perpindahan energi saat terjadi proses pengereman,” urainya.

Peserta Kulgram-Indonesia Truckers Club lainnya, Hendrik Sugianto dari PT Dwi Multimakmur menanyakan tentang material kampas rem. “Yang baik itu berbahan asbestos atau non asbestos,” tanya Hendrik.

“Mengenai hal ini saya tidak bisa memberi penjelasan, karena hal itu harus melalui pengujian,” jawab Wildan.

“Standar panasnya berapa pak?” sahut Hendrik.

“Justru itu, pemerintah seharusnya menentukan ambang batas minimalnya. Pemerintah harus membuat regulasi batasan ketahanan panas minimal serta kewajiban uji yang nilainya ditulis di produk, sehingga konsumen bisa mempertimbangkan. Tanpa adanya penjelasan ketahanan panas di produk, maka konsumen tidak bisa menentukan mana yang lebih baik,” ujar Wildan menjelaskan.

Road Safety Consultant dari DSD Road Safety & Engineering Consultant, Eko Reksodipuro yang ikut serta dalam Kulgram-Indonesia Truckers Club edisi perdana ini menambahkan bahwa prinsip dari safety driving/defensive driving/road safety pada intinya adalah menghindari situasi darurat penyebab kecelakaan. “Paling aman, selalu pre driving check dan menghindari apa yang harus dilakukan saat keadaan darurat, karena tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk itu,” kata Eko.

 

Editor: Antonius
Ilustrasi: Anton

 

 

 

 



Related Articles

Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix