Konvergensi Media adalah Keniscayaan Demi Keberlanjutan Bisnis

18 / 05 / 2022 - in Berita

Bagaimana media pers agar bisa bertahan pada era digitalisisasi seperti sekarang ini? Ahmad Djauhar Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Pers Dewan Pers memberikan jawabannya pada Seminar yang diadakan Dewan Pers & Serikat Perusahaan Pers Workshop Series #1 bertajuk “Mengawal Keberlanjutan Bisnis Media” di Hotel Santika Pandegiling Surabaya, Rabu (17/5).

Djauhar memberikan jawaban tegas bahwa konvergensi media adalah jawabannya. “Konvergensi media adalah sebuah keniscayaan. Mau tidak mau ini harus dilakukan. Kalau bisa jadikan ini sebgai motto harian,” terangnya.
Konvergensi media adalah integrasi atau penyautan aneka saluran komunikasi massa seperti media cetak seperti media massa dan elektronik serta internet bersama dengan teknolgi portable yang interaktifnya melalui berbagai platform presentasi digital.

“Pada jaman sekarang ini, kemana konsumen media itu pergi mereka harus intouch dengan media. Jadi harus tetap tertaut dengan informasi yang mereka sajikan. Jika jaman dulu masyarakat yang memerlukan media. Tapi sekarang, media yang memerlukan masyarakat. Media memerlukan crowd atau massa untuk dibuat sedemikian rupa agar tetap mengkonsumsi media. Karena era masyarakat membutuhkan media telah berlalu , kini saatnya media yang membutuhkan audiens,’ jelasnya.

“Dengan berkonvergensi, media seolah mengikuti ke manapun orang bergerak. Buat konsumen media massa tertaut. Jangan sampai sedetikpun perhatian mereka beralih atau media akan kehilangan audiens. Pesaing di luarsana siap melayani audiens dengan segala cara guna survivebilitas mereka sendiri,” pesanya.

Dalam paparannya, Djauhar juga menyingung mengenai berita hoax yang meresahkan masyarakat. Menurut Djouhar, maraknya berita hoax di Indonesia muncul karena sejumlah partai politik berlomba membuat media baru untuk kepentingan publikasi partai. Sehingga banyak pewarta merangkap menjadi tim sukses, sedikit banyak tulisan di media menjadi bias.

“Saat itu, politisi juga menarik pewarta sehingga terjebak dalam sektarian, akibatnya masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap netralitas pers dan kebenaran isi media. Ini menjadikan media sosial sebagai alternatif memperoleh informasi sehari hari. Disini lah letak masalah itu,” katanya.

“Ketika informasi yang dihasilkan media massa kurang dapat diandalkan atau dipercaya lagi oleh masyarakat. Mereka mencari alternatif pemenuhan kebutuhan informasi dari media sosial. Medsos yang awalnya diciptakan sebagai microdiary atau menemukan kembali teman teman lama berubah menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat dan mengomentari pendapat orang lain. Dari situlah pangkal maraknya hate speech, hoax hingga disinformasi,” tambahnya.

Djauhar melanjutkan, “Akibat disrupsi digital yang kian meluas, generasi muda kini tidak dapat membedakan berita kredibel karya jurnalis profesional yang objektif dengan apa yang mereka baca di sembarang situs. Tren ini akan memicu ketidakmampuan kaum muda membedakan informasi kredibel, sehingga akan menurunkan trust pada sumber informasi yang kredibel dalam hal ini media pers. Sifat media sosial yang berbeda jauh dari media mainstream. Medsos bukan produk pers,” katanya.

Editor : Sigit

Foto : Dewan Pers



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix