Konsumsi Biodiesel Tambah Beban Perawatan, Benarkah?

09 / 09 / 2019 - in News

Teknologi common rail dan turbocharged direct injection sudah menjadi barang umum penggunaannya pada truk produksi terbaru. Sehingga kendaraan tak perlu lagi mengandalkan cc besar, lantaran kedua teknologi tersebut bisa menghasilkan tenaga lebih namun tetap hemat konsumsi bahan bakar. Namun, penggunaan teknologi tersebut masih belum ditunjang dengan mutu bahan bakar yang baik.

Direktur BG Indonesia, Judi Pangestu mengatakan, mutu bahan bakar diesel khususnya bio solar (biodiesel) emisi gas buangnya masih Euro 2. Sedangkan pemerintah sendiri, lanjutnya, ditargetkan baru mampu mensuplai bahan bakar standar Euro IV pada 2020 mendatang. Sehingga pemilik truk mau tidak mau menggunakan bahan bakar yang tersedia di pasaran.

Sebagai informasi, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N dan O atau yang lebih dikenal dengan Standar Emisi Euro IV bahwa mesin diesel akan berlaku efektif pada 2021.

“Akibatnya apa, muncul banyak sludge (endapan lumpur) yang ada di dalam mesin. Kemudian injektor-injektornya sering bermasalah. Terlebih untuk di beberapa daerah kualitas solarnya tidak bagus. Ini merepotkan pengusaha, karena harus menambah cost lagi untuk perawatan,” ujar Judi Pangestu.

BG Indonesia sendiri merupakan distributor resmi BG Product dari perusahaan petro chemichal asal Amerika Serikat. Menjual beragam produk suplemen kendaraan diesel. Perusahaan ini diklaim di negara asalnya telah menjadi market leader untuk automotive maintenance chemical.

Terkait injektor yang bermasalah jika mengonsumsi biodiesel, menurut Topo Suntoro, Fleet Operation Support Astra UD Trucks, hal itu dipicu oleh efek pembersih yang dimiliki bahan bakar solar nabati tersebut.

“Sebetulnya kekhawatiran yang muncul adalah dari pemahaman B20 yang juga punya efek pembersih tadi. Tentunya hal ini membuat kotoran-kotoran akan mudah larut, sehingga akan membuat filter solar lebih cepat kotor. Boleh dikatakan sebetulnya masa pakai filter solar yang umumnya tadinya bisa sampai 20.000 kilometer, mungkin pemakaian 10.000 km atau dua bulanan sudah harus melakukan penggantian,” ujar Topo.

 

Teks: Abdul
Editor: Antonius
Ilustrasi: Istimewa



Related Articles

Sponsors

AFFA-logisticsphotocontest 

Capture 

web-banner-327x300 truck

logo-chinatrucks300 327pix