KNKT Identifikasi Hazard Tersembunyi dari Kecelakaan Truk Trailer

23 / 11 / 2021 - in Berita

Truk trailer dengan nomor polisi H 1886 AC mengalami kecelakaan di ruas tol dalam kota Semarang, Jawa Tengah tepatnya di km 430+200 pada Sabtu (23/10) akibat tidak kuat menanjak sehingga berjalan mundur dan menghantam empat mobil yang berada di belakangnya. Berdasarkan penyelidikan di lapangan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini namun kemacetan panjang terjadi dikarenakan posisi akhir truk melintang pada tiga lajur ruas tol tersebut.

Senior Investigator KNKT, Ahmad Wildan mengatakan bahwa mengemudi truk trailer dengan rata-rata power sebesar 260 PS keatas itu sangat berbeda dengan mengemudikan truk biasa yang hanya dilengkapi 6 speed, sedangkan truk trailer 9 speed. “Pada truk ada dua jenis gigi perseneling, yaitu gigi low (kura-kura) dan high (kelinci). Gigi low untuk gigi 1 – 4 dan gigi high untuk 5 – 8. Cara memindahkannya pun berbeda, ada yang model ditampar dan ada yang model diklik. Selain itu, ada satu gigi lagi, namanya gigi C (crawler) yaitu gigi setengah yang biasa dipakai untuk kondisi jalan mendaki. Dari sini pengemudi harus tahu bagaimana tata cara menggunakannya, salah menggunakan mesin bisa mati mendadak,” jelasnya.

Selanjutnya pada sistem pengereman, ada dua macam yaitu rem tractor head dan rem trailer. ”Sehingga kalau lihat ke belakang tractor head pasti ada dua selang (kabel) satu untuk mengisi airtank pada trailer dan satunya untuk mengatur relay pada brake chamber masing-masing roda. Ingat ini jangan sampai terbalik ketika memasangnya,” tegas Wildan.

“Perlu diwaspadai bagi pengemudi, pemilik kendaraan bermotor atau penguji, jika ada kebocoran pada brake chamber di trailer, maka hal ini bisa mengakibatkan trailer tidak bisa direm dan bisa mendorong tractor head. Dan kebocoran ini sangat mungkin terjadi pada mangkok brake chamber yang terbuat dari karet, bisa karena penuaan. Hazard ini baru teridentifikasi belakangan ini, pada kejadian kecelakaan dan pelaksanaan pelatihan pengemudi trailer. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” tambah Widan.

“Kami mengharapakan para penguji KB lebih teliti pada saat memeriksa persyaratan teknis, karena hazard (bahaya) trailer kadang kala tersembunyi, dan itu yang sering menyebabkan kecelakaan. Pertama adalah sistem Rem. Pada sistem rem kebocoran biasanya terjadi pada salaman, chamber dan gigi low. Penguji harus mendekatkan telinga untuk mendengar adanya kebocoran, khususnya pada saat direm. Untuk meyakinkan bisa menggunakan air sabun,” terang Wildan.

“Masalah kedua pada sistem rem adalah angin tekor. Hal ini berulang kali menjadi penyebab kecelakaan, baru dua tiga kali injak rem langsung angin tekor dan pedal rem dan pedal kopling menjadi keras. Sehingga tidak mungkin diinjak. Penyebabnya adalah adanya gap antara tromol dengan kampas yang terlalu lebar. Oleh sebab itu pada saat memeriksa persyaratan teknis, penguji agar menginjak pedal rem dalam posisi hand brake off dan mesin hidup. Perhatikan jika dua tiga kali langsung angin tekor maka jangan diluluskan,” Wildan menegaskan.
Selain sistem rem, Wildan juga mengingatkan mengenai twist lock yang menjadi salah satu penyebab jatuhnya kontainer. “Pada saat pemeriksaan teknis periksa juga sitem kelistrikan trailer melalui sistem koneksinya di salaman. Agar lebih efektif sebaiknya Kami juga perlu memberi masukkan ke Polri, untuk ujian pengambilan SIM B2, agar memperhatikan hazard tersebut dimana sering berulangkali menjadi penyebab kecelakaan,” pungkas Wildan.

Editor : Sigit

Foto : truckmagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix