Kewaspadaaan Penumpang Kapal Ro-Ro

17 / 09 / 2022 - in Berita

Dalam banyak literatur yang berlaku internasional, kewaspadaan ini sudah lazim menjadi sesuatu yang umum disebut personal safety awareness. Kewaspadaan ini penting, terlebih ketika kita semua berada di atas kapal. Di atas kendaraan yang menapak di permukaan saja kita harus waspada, apalagi berada di kendaraan yang mengapung di atas fludia cair. Demikian kalimat pembuka Renan Hafsar, Investigator Keselamatan Pelayaran KNKT pada Kulgram Truckmagz.

“Jika saya tanya, Apakah kita harus waspada selama di kapal Ro-Ro Pax?. Kapal Ro-Ro itu ada dua macam: yang menangkut kendaraan saja disebut Ro-Ro. Yang mengangkut penumpang dan kendaraan disebut Ro-Ro Pax. Pasti semua bisa menjawab, sekarang pertanyaannya saya ubah sedikit menjadi Bagaimana cara kita bersikap waspada selama di kapal Ro-Ro Pax?, bisa jadi banyak orang yang kebingungan,” kata Renan.

“Tidak perlu malu karena memang materi kewaspadaan ini terbilang cukup jarang diberikan. Tidak perlu jauh-jauh, materi tentang antri masih belum masuk kurikulum wajib. Secara sederhana, personal safety awareness adalah sikap waspada terhadap sekitar kita, termasuk perilaku kita dan perilaku orang lain. Secara tidak sadar, kita sering mengaplikasikan ini ketika kita berada di lingkungan yang banyak kriminal, copet, jambret, dan sebagainya. Sebegitu waspadanya kita, sampai menolak pemberian dari orang asing. Sayangnya, ketika lingkungan aman, kebanyakan orang jadi tidak waspada. Justu ini yang perlu diwaspadai.” tambah Renan.

Renan memberikan contoh kecelakaan kapal laut, “Misalnya Kapal Wihan Sejahtera mengalami kebocoran sekitar 15 menit setelah bertolak dari Tanjung Perak; Kapal Sinar Bangun tenggelam ketika kapal sudah hampir sampai di pelabuhan tujuan; Kapal Yunicee tenggelam di area kolam Pelabuhan Gilimanuk. Dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya. Kita mungkin tidak menyangka, kapal baru saja berangkat, kenapa bisa mengalami kecelakaan. Kapal sudah hampir sampai, terjadi kecalakaan. Bahkan kapal yang sedang ditambat di pelabuhan pun ada yang celaka,” katanya.

Yang perlu dicermati adalah bahwa ketika kecelakaan kapal Ro-Ro terjadi, yang terlibat adalah semuanya. Mulai dari penumpang, pejalan kaki, penumpang bus, awak bus, awak truk, pesepeda motor, sampai ke pemilik kapal dan regulator juga mengalami kesusahan. Semua mata tertuju dan penasaran mengenai apa penyebabnya.

“Untuk meminimalisir keparahan, ada baiknya kita semua tidak lengah selama berada di kapal. Ikuti instruksi dari awak kapal dan informasi yang dipasang. Ketika tiba di atas kapal, dengarkan safety briefing/induction. Bisa berupa video atau peragaan tentang cara menggunakan alat-alat pendukung keselamatan. Masalah muncul jika penerapan safety briefing/induction sangat tergantung insiatif operator kapal. Ada kapal yang peduli, ada yang tidak. Hal lain yang perlu diketahui adalah tentang rute evakuasi. Rute ini sebaiknya penumpang hapal, meskipun kapal mengalami black out dan dalam keadaan miring, jangan terlalu percaya pada teknologi yang katanya ada emergency battery. Kita tidak tahu apakah ketika kecelakaan terjadi sistem penerangan darurat bekerja dengan baik atau tidak sebagaimana tertera pada sertifikat atau hasil pemeriksaan. Silakan saja identifikasi, apakah ada rintangan dalam rute evakuasi? Ada oli kah? Ada kabel/selang terulur melintang? Ada pintu yang tidak bisa dibuka atau menutup sendiri? Adakah sumber panas seperti kompor, knalpot, mesin generator yang mungkin tersentuh ketika penumpang berjalan?,” terang Renan.

“Ketika ruangan mendadak gelap, kita pasti meraba untuk mengenali area sekitar. Ketika investigasi, seorang saksi pernah bercerita bahwa dia menabrak seseorang dengan keras sekali. Dia tidak yakin apakah orang atau papan karena begitu kerasnya sampai dia pingsan. Kondisinya gelap sekali waktu itu. Mungkin ada yang bertanya-tanya, di atas kapal kalau siang dan terang sekali. Tidak mungkin gelap. Perlu diingat bahwa geladak di bawah yagg bersifat tertutup geladak atas, kondisinya cenderung gelap. Geladak kendaraan yang berada di bawah geladak penumpang biasanya gelap. Dan penumpang yang bersikeras tetap berada di kendaraan, ini yang biasanya terlambat untuk evakuasi diri sendiri. Jalan naik ke geladak lebih tinggi dan membutuhkan waktu. Dan mereka tidak siap untuk mencari life jacket,” terang Renan mengenai kondisi di atas kapal.

“Mengenai life jacket, sebaiknya biasakan untuk cari tahu lokasinya di mana, ada berapa, dan jenisnya apa saja. Life jacket anak sering tidak terpenuhi kebutuhann. Ini yang perlu diperhatikan. Ketika kondisi darurat, sifat alami manusia akan muncul. Masing-masing akan saling berebut life jacket. Ini kisah klasik yang selalu berulang ketika kecelakaan kapal Ro-Ro Pax terjadi,” jelasnya.

Renan memberikan contoh lain, “Pada kecelakaan Kapal Lestari Maju, kondisinya chaotic. Pada kondisi seperti itu, penumpang bingung. Tidak ada instruksi jelas dari operator. Penumpang tidak tahu harus berbuat apa. Pastinya semua emosi, cemas, takut dan marah semua bercampur. Bagi yang punya nyali, biasanya akan bertindak inisiatif. Yang fatal jika inisiatif berujung destruktif, termasuk tindakan bunuh diri. Ketika penumpang berada di geladak kendaraan, segera naik ke geladak penumpang. Geladak penumpang lebih aman daripada geladak kendaraan. Pada kasus lain, investigator tidak berhasil membedakan mana tulang, mana logam karena semua sudah menjadi abu. Korban tewas terbakar di geladak kendaraan tidak memiliki cukup waktu dan diduga sudah lemas terkena asap. Tidak sedikit orang tewas karena asap ketika kejadian kebakaran, bukan langsung terkena api.” sesal Renan.

Menghadapi kondisi gawat darurat diatas kapal. Renan berpesan Don’t really trust. “Pada beberapa kasus yang KNKT tangani, pemberitahuan marabahaya tidak terdengar oleh penumpang. Saya tidak paham apakah karena sudah black out atau mati lampu total di atas kapal, apakah karena awak kapal lupa materi lathian emergency siituation, apakah karena kabel speaker digigit tikus, sehingga speaker tidak mengeluarkan bunyi? Yang pasti, kejadian seperti itu beberapa kali terjadi. Simpelnya, penumpang boleh jaga-jaga pakai life jacket. Tapi untuk tindakan selanjutnya tunggu instruksi. Kalau tidak ada instruksi, bergerak mandiri saja ke muster station. Dan tetap disana saja. Selama kapal tidak miring ekstrem atau tenggelam, seharusnya kondisi masih aman. Waspadalah terhadap kondisi sekitar Anda ketika berada di atas kapal, apa yang Anda lakukan dan apa yang akan dilakukan orang lain di sekitar Anda bisa sangat berpengaruh terhadap keselamatan,” pungkasnya.

Editor : Sigit

Foto : KNKT



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix