Kendaraan Rig Milik Lemigas Dimodifikasi untuk Tingkatkan Manfaat Potensi Panas Bumi

04 / 05 / 2021 - in Berita

Badan Litbang ESDM sedang memodifikasi rig hydraulic milik Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) Lemigas. Kendaraan pendukung eksplorasi ini akan dipakai untuk melakukan pengeboran dan coring deep slim hole sumur panas bumi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Cisolok-Cisukarame, Sukabumi, Jawa Barat.

Rig yang telah mengantongi Surat Ijin Layak Operasi (SILO) sejak 2014 ini menggunakan mesin Caterpilar C-13 dengan daya maksimum 440 daya kuda. Rig menggunakan sistem transmisi hidrolik untuk memudahkan pengeboran hingga kedalaman 1.000 meter, dan dilengkapi menara (mast) setinggi lima meter yang mampu mengangkat beban hingga 60 ton.

Rig juga dibekali gigi ganda, yaitu low gear dan high gear. Low gear bekerja pada rated torque 17.000 Nm dan rotating speed 0-200 rpm. Sedangkan high gear bekerja pada rated torque 4.000 Nm dengan rotating speed 0-600 rpm.

Desain pembuatannya merupakan gabungan antara rig migas dan rig tambang yang memadukan teknologi Rig Schramm dan Atlas Copco (USA). Unit rig berukuran lebih kecil ini dirancang menggunakan sistem penggerak roda 8 x 8, sehingga sesuai kondisi jalan di Indonesia yang berat dan berlumpur.

Rig ini mampu mengebor kedalaman antara 600 hingga 1.000 meter. Rig CBM ini dilengkapi dengan transmission system, mast, top driving power head, special heavy duty, hydraulic system, dan electrical system.

Rig yang dibuat tahun 2013 ini memiliki kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen, seperti bagian dari struktur rig (sasis, kabin, roda unit carier, dan sistem elektrikal) serta komponen mesin, hidrolik dan menara.

Eksplorasi WKP Cisolok-Cisukarame sendiri dilaksanakan pada tahun 2021 menggunakan skema government drilling. Penyesuaian peralatan ini ditargetkan selesai dan siap digunakan pada semester II 2021.

Upaya ini juga merupakan bentuk keseriusan Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan energi panas bumi untuk pembangkit listrik. Pasalnya, potensi panas bumi Indonesia yang diperkirakan sekitar 24 gigawatt (GW) baru bisa dimanfaatkan sekitar 2,13 megawatt (MW), atau kurang dari 10 persen.

 

Editor: Antonius
Foto: Lemigas

 



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix