Kenaikan Ongkos Angkut Barang Tidak Berdampak Signifikan Terhadap Kenaikan Harga Barang

13 / 09 / 2022 - in Berita

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memutuskan menaikkan harga BBM jenis RON 90 atau Pertalite naik dari Rp 7.650/liter menjadi Rp 10.000/liter. Sementara itu, harga minyak diesel atau Solar naik dari Rp 5.150/liter ke Rp 6.800/liter. Kenaikan harga BBM bersubsidi bakal mengerek haidak rga produk atau jasa di konsumen.

Menanggapi hal tersebut, Haryadi Djaya Ketua Bidang Angkutan Curah dan Cair DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengatakan kenaikan ongkos angkut sebenarnya tidak berdampak signifikan terhadap kenaikan harga barang.

Haryadi menjelaskan, “Saya berikan contoh, harga besi dari ujung barat sampai ujung timur Pulau Jawa Rp15000 /kg dengan ongkos angkut Rp400/ kg. Jika biaya muat naik 25% maka menjadi Rp500/kg. Sehingga kenaikan ongkos muat hanya Rp100 jika dibandingkan nilai komiditi sangat kecil,” bukanya.
“Sedangkan industri sudah tidak terpengaruh lagi terhadap kenaikan BBM. Karena pabrik sudah menggunakan BBM industri. Pabrik sudah mempunyai kluster sendiri di BBM, diluar penggunaan untuk transpotasi tentunya,” sambung Haryadi.

“Kami di transporter ini adalah cost delivery. Kalau hanya naik Rp100 /kg nilai barang sudah Rp8000. Kan jelas sekali nilainya kecil. Masyarakat mengkonsumsi beras, gula dan bahan pokok dalam porsi yang normal. Tidak mungkin satu keluarga mengkonsumsi berton-ton beras dan gula dalam satu waktu. Konsumsi beras mungkin 1 bulan 25kg dalam satu keluarga. Gula mungkin 5 kg per bulan tidak akan habis. Naik 1% ini tidak signifikan dibanding dengan cost production nya,” beber Haryadi.

Membandingkan perhitungan kenaikan ongkos angkut, Haryadi memberikan contoh lain. “Susu dengan harga Rp50.000, ketika cost production naik 1 % saja artinya Rp500/kg. Karena modal dasar pabrik sudah besar, ketika naik 1% saja sudah berpengaruh besar terhadap harga jualnya. Apalagi susu ini ada beberapa bahan import,” kata Haryadi.

“Sekali lagi ya, ini kenaikan ongkos muat 25% kelihatannya besar tapi nilai awalnya sudah kecil, hanya Rp400. Ini ada perhitungan pemisahan ongkos. Kelihatnnya besar naiknya karena BBM naik juga 32%. Tapi komponen harga kan tidak hanya BBM saja. Di end user dampak tadi tidak terlalu signifikan,” terangnya.

Haryadi menyayangkan, terkadang pabrik menggunakan kesempatan, ketika tranporter menyesuaikan ongkos angkut Rp100/kg, pabrik atau pedagang bisa saja naik Rp500-Rp1000 /kg. “Hal seperti ini yang membuat inflasi besar. Tapi kalau beneran ongkos angkut ini kecil sekali. Kan tidak fair saja kenaikan per kg Rp100 saja, masyarakat sudah rbut ini,” tegas Haryadi.

Melihat kondisi perekonomian masyarakat, Haryadi mengatakan, “Cuma yang terjadi ini seperti aji mumpung. Mumpung BBM naik, pabrik juga ikut menaikan harga. Yang bermasalah ketika importir ikut menaikkan tarifnya. 1% saja bisa tinggi jadinya karena yang naik raw materialnnya. Sedangkan ongkos angkut ini kecil sekali. Pandagan masyarakat ini perlu diluruskan. Ketika ongkos naik 25% itu bukan harga keseluruhan, 25% itu dari Rp400 , bukan dari komoditinya. Jangan sampai salah presepsi , bahwa 25% ongkos angkutnya lalu komoditinya dianggap naik besar lagi. Bukan seperti itu. Kalau nilai komoditi yang naik walau sedikit saja, maka nilai jual akan besar,” pungkasnya.

Editor : Sigit

Foto : truckmagz



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix