Jumlah Kawasan Industri Naik 47,5 Persen Dalam 5 Tahun Terakhir

04 / 07 / 2021 - in Berita

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) proaktif melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait, agar dapat mendorong pembangunan kawasan industri yang terpadu. Hal ini untuk menarik para investor potensial serta memacu pemerataan pembangunan dan ekonomi nasional.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto mengatakan bahwa terjadi peningkatan jumlah dan luasan kawasan industri dalam lima tahun terakhir.

“Dari sisi jumlah, terjadi peningkatan sebesar 47,5 persen. Sedangkan dari sisi luas mengalami peningkatan 15.662,02 hektare (ha) atau sebesar 43,26 persen,” kata Eko.

Di luar Jawa, jumlah kawasan industri melonjak sebanyak 14 kawasan, dengan penambahan luas lahan 8.664,36 ha pada tahun 2020. “Karena di luar Jawa ketersediaan lahan masih relatif luas, maka terjadi peningkatan persentase luas kawasan industri di luar Jawa lebih tinggi dibanding di Jawa,” jelas Eko.

Saat ini, kata Eko, terdapat 131 kawasan industri di Indonesia, dengan total luas melebihi 57 ribu ha yang siap menyambut investor potensial skala global. “Bahkan, kinerja penjualan lahan kawasan industri secara umum terus mengalami pertumbuhan,” ujarnya.

Data Colliers menyatakan bahwa penjualan lahan industri di area Greater Jakarta (Bogor, Tangerang, Karawang, Bekasi, dan Serang) pada 2019 mengalami kenaikan hingga 380 ha.

“Hal ini cukup mengejutkan, bahkan kenaikan juga terjadi di tahun 2020. Walaupun dalam situasi pandemi, namun kawasan industri di wilayah ini masih sempat mencatatkan penjualan lahan seluas 191,4 Ha,” kata Eko.

Penjualan lahan di luar Jawa juga tumbuh signifikan. Misalnya di Kawasan Industri Morowali yang telah memiliki luas hingga 2.000 Ha sejak beroperasi pada tahun 2015.

“Saat ini okupansinya sudah hampir penuh diisi oleh industri nikel dan turunannya. Hal yang sama juga terjadi di kawasan industri Kendal yang beroperasi semenjak 2016. Tahap pertama seluas 1000 Ha saat ini telah memiliki okupansi mencapai 40 persen,” tutur Eko.

Jika dilihat kinerja kawasan industri yang merupakan anggota Himpunan Kawasan Industri (HKI) secara nasional, penjualan di tahun 2019 mencapai 136.36 Ha, yang antara lain didominasi oleh sektor industri kimia, otomotif dan komponennya, data center, serta makanan dam minuman.

Sedangkan untuk pertumbuhan di tahun 2020, secara nasional mencapai 319,11 Ha yang juga didominasi oleh sektor industri pengolahan logam, pengolahan hasil perkebunan, otomotif dan komponen, data center, serta makanan dan minuman.

Melihat data-data tersebut Eko berkesimpulan bahwa tiap tahun lahan kawasan industri selalu sukses terjual dan menarik investasi.

Untuk mendorong penjualan lahan kawasan industri, langkah yang ditempuh Kemenperin adalah mempercepat penyelesaian hambatan-hambatan terkait pembebasan lahan untuk kawasan industri. Serta menyusun dan menerapkan standar kawasan industri guna meningkatkan pelayanan terhadap tenant industri khususnya melalui penyediaan baik infrastruktur dasar seperti pengolahan limbah, dan infrastruktur pendukung seperti sarana pendidikan dan pusat penelitian dan pengembangan (R&D).

Selanjutnya, perlu koordinasi dengan pihak keamanan terkait penerapan OVNI, serta dengan pemerintah daerah guna menjamin keamanan dan kenyamanan berusaha dalam kawasan industri. Hal ini juga berguna mendorong terciptanya kawasan industri tematik, mendorong pengelola kawasan industri menjadi one stop service bagi pelayanan perizinan tenant industri, penetapan kawasan industri sebagai Proyek Strategis Nasional, serta mengurangi biaya produksi seperti melalui penerapan harga gas 6 USD per MMBTU.

 

Editor: Antonius
Foto: Dok. TruckMagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix