Jalan Berkeselamatan, Apakah Itu?

26 / 07 / 2021 - in Kontributor Ahli

Seorang pilot pesawat terbang, wajib memahami lintasan penerbangan beserta fenomena alamnya. Agar dapat selamat selama penerbangan mereka tidak cukup hanya bisa menerbangkan pesawat saja tapi terlebih dari itu harus bisa “membaca” fenomena di atas permukaan bumi baik terkait cuaca, temperatur, tekanan udara, badai petir, kecepatan angin dsb serta prosedur prosedur penggunaan teknologi pesawat. Pada dunia penerbangan dikenal adanya istilah “critical eleven”, yaitu 3 menit saat mengudara dan 8 menit saat akan mendarat. 80% kecelakaan pesawat komersial di dunia, terjadi pada waktu critical eleven tersebut. Tantangan pertama seorang pilot adalah saat lepas landas dimana dia harus mengatur kecepatan agar pesawat bisa mendaki dengan baik, sementara pada saat pendaratan ini adalah fase tersulit dimana seorang pilot akan berhadapan dengan kecepatan angin dan kelicinan landasan pacu, dan tuntutan agar dapat menghentikan benda seberat 560 ton dengan kecepatan 300 km/jam dengan sempurna pada runaway yang terbatas.

Demikian juga seorang kapten kapal, dia tidak cukup hanya bisa mengarahkan kapal, tapi dia harus memahami bagian-bagian penting pada kapal, cara kerja mesin kapal, tugas masing-masing awak kapal dan fungsinya, jenis dan karakteristik muatan kapal dan terutama sangat penting adalah dia harus bisa memahami fenomena alam di laut. Apakah seorang masinis kereta api juga sama? Jawabannya iya. Mereka juga diajari tidak hanya mengemudikan kereta, tapi harus paham gaya-gaya yang bekerja pada kereta, mekanisme pengereman kereta, jenis perlintasan dan masih banyak lagi yang wajib diketahui oleh seorang masinis.

Bagaimana dengan seorang pengemudi? Selama ini kita dalam membina dan membentuk seorang pengemudi, hanya fokus pada teknik mengemudi serta “membaca” peraturan lalu lintas saja. Sebuah pernyataan bahwa “semua kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran” pada akhirnya mendorong kita untuk membentuk seorang pengemudi yang baik, cukuplah dengan dia tahu mengemudi, cara parkir, cara menyalip, cara mengerem di jalan datar serta paham dengan peraturan lalu lintas yang berlaku. Lalu bagaimana dengan teknik mengemudi pada saat kondisi emergency atau kritis yang terkait dengan geometrik jalan? Seperti bagaimana saat melalui jalan menurun panjang? Apakah mereka memahami bahaya yang ada pada saat sebuah benda berat meluncur dari ketinggian? Bagaimana mengatasi tikungan patah? Apakah mereka memahami gaya sentrifugal yang dapat menariknya ke jurang? Bagaimana jika terjadi kebakaran di kabin?

Sementara semua truk pertamina hanya menyediakan APAR CO2 didalam kabin? Apakah mereka paham dampak yang akan ditimbulkan saat ruangan kabin penuh dengan CO2? Bagaimana dengan kestabilan kendaraan? Apakah mereka tahu, bahwa tipe dan kondisi suspensi, tipe dan kondisi ban, distribusi muatan, ketinggian muatan dan centre of gravity dapat menyebabkan kendaraan mereka mudah terguling? Saya kira kita harus evaluasi kembali cara kita membina pengemudi jika ingin kecelakaan di jalan menurun. Selain apa yang sudah kita kerjakan selama ini, kita juga perlu membekali mereka pengetahuan dan ketrampilan menggunakan teknologi kendaraan serta pengetahuan tentang jalan.

Jalan Berkeselamatan ( Safer Roads)
Jalan berkeselamatan didefinisikan sebagai jalan yang memenuhi 3 aspek, yaitu regulating road, self explaining road serta forgiving road. Regulating road, artinya bahwa jalan dibangun harus mengikuti kaidah atau aturan geometrik yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam regulasinya. Pemerintah dalam menyusun kaidah geometrik tentu saja tidak sembarangan, selama ini Pemerintah mengacu kepada standar yang sudah berlaku di dunia dan telah melalui berbagai macam riset, seperti AASHTO (American Association Of State Highway and Transportation Officials) ataupun AUSTROADS (Association of Australian and New Zealand Road Transport and Traffic Authorities). Penyimpangan terhadap standar atau kaidah tersebut tentu saja akan menimbulkan konsekwensi bahaya dan ber resiko menyebabkan orang celaka saat berkendara diatasnya. Namun demikian, pada kenyataannya 70% jalan non tol di Indonesia kondisinya adalah unregulating road atau tidak sesuai dengan standar geometrik jalannya. Hal ini dipicu karena dua alasan, pertama keterbatasan spasial, dimana lahan yang ada tidak memungkinkan jika jalan dibangun sesuai dengan standar geometriknya, alasan kedua adalah financial, yaitu untuk membentuk jalan yang sesuai dengan standar geometriknya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit sementara Pemerintah dituntut untuk dapat “menyambungkan’ semua pusat bangkitan dan pusat kegiatan yang terus tumbuh dengan baik.

Kebutuhan aksesibiilitas lebih diutamakan untuk mendorong perkembangan wilayah serta dinamika ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan. Lalu bagaimana terkait dengan bahaya atau resiko yang akan ditimbulkannya? Nah disinilah kemudian muncul dua aspek jalan keselamatan lainnya pertama self explaining road dimana jalan dapat memberikan informasi kepada penggunanya akan kondisi “tidak standar” tersebut dan agar pengguna dapat melakukan “hal tertentu” seperti mengurangi kecepatan atau jangan gunakan kendaraan besar misalnya agar tidak terpapar bahaya. Jika ternyata hal tersebut tetap menyebabkan orang celaka, maka Pemerintah sudah menyiapkan konsep kedua yaitu forgiving road dimana jalan akan memaafkan setiap kelengahan pengemudi atau malfunction kendaraan pada saat melewati jalan dimaksud, misalnya dengan menyediakan pagar pengaman jalan atau jalur penyelamat sehingga kecelakaan tersebut tidak mengakibatkan fatalitas yang tinggi.

Dari penjelasan diatas, kita memiliki dua PR besar terkait kondisi geometrik jalan kita. Pertama, teman-teman Perhubungan harus cepat tanggap terhadap kebutuhan self explaining road serta forgiving roadnya untuk menurunkan resiko baik resiko orang terpapar hazard maupun resiko peningkatan fatalitasnya.
Sementara, sahabat Kepolisian dan teman teman penyelenggara sekolah mengemudi harus menyampaikan “hal tertentu” yang harus dikerjakan oleh pengemudi saat menghadapi kondisi jalan yang tidak standar ini dan jumlahnya sangat banyak di Indonesia.
KNKT mencatat beberapa “hal tertentu” ini adalah terkait diantaranya :
1. Lebar lajur yang tidak sesuai (resiko konflik tinggi);
2. Jumlah lajur yang tidak memadai (resiko tabrak depan belakang dan head to head tinggi);
3. Pengendalian akses yang buruk pada jalan arteri primer (resiko tinggi bagi vulnerable road users);
4. Radius tikung yang tidak memadai (resiko konflik di tikungan);
5. Tikungan tajam setelah jalan lurus (resiko kendaraan mengalami body roll);
6. Tikungan majemuk (resiko kendaraan mengalami body roll dan konflik);
7. Superelevasi tidak sesuai (resiko kendaraan mengalami body roll);
8. Jarak pandang yang tidak terpenuhi (resiko konflik tinggi);
9. Kelandaian yang besar dan panjang (resiko brakefading pada kendaraan besar);
10. Ketidarataan jalan (roughness) pada tikungan (resiko sliding pada kendaraan tiga sumbu);
11. Kekesatan jalan (skid resistance) pada tikungan (resiko sliding pada kendaraan berpenggerak depan);
12. Kerusakan jalan (bleeding, alur, deformasi) yang beresiko pada konflik kendaraan saat menghindari;
13. Marka jalan yang “hilang” saat malam hari (resiko konflik lalu lintas tinggi);
14. Blind spot pada tikungan patah (resiko konflik lalu lintas tinggi);
15. Pengaturan fase yang kurang tepat pada APILL (resiko konflik lalu lintas tinggi)

Mungkin selama ini kecelakaan akibat hal-hal tersebut diatas tercatat sebagai human error, sehingga mengakibatkan interpretasi yang keliru terhadap data kecelakaan, oleh sebab itu sudah saatnya kita memahami ada bahaya besar yang menghadang setiap pengemudi di jalan yang terkait dengan jalan dan setiap pengemudi wajib mengetahui dan memahami apa yang harus dilakukan untuk menghindari bahaya tersebut. Selain itu, bagi perusahaan sudah saatnya mulai memetakan risk journey pada lintasan trayek armadanya sebagai reminder bagi pengemudinya saat melewati kondisi “tidak standar” ini. Mari kita benahi system keselamatan di jalan, dengan cara mengenali bahayanya, memahami resikonya dan tahu cara menghindarinya. Dengan demikian, program keselamatan kita akan memiliki arah dan dapat menekan angka kecelakaan yang terus melaju selama dua dekade terakhir ini tanpa adanya penurunan yang signifikan.

Oleh : AHMAD WILDAN
Safety Investigator KNKT / Tenaga Pengajar pada Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan

Editor : Sigit

Foto : PUPR



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix