Jabar berpotensi Jadi Hub Logistik Asia-Pasifik

12 / 02 / 2020 - in Berita

Potensi Jawa Barat (Jabar) dalam pertumbuhan ekonomi nasional tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, wilayah Jabar dalam peta industri nasional memiliki 22 kawasan industri dan merupakan yang terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, pertumbuhan ekonomi Jabar tahun 2019 mencapai 5,14 persen dengan angka inflasi yang masih relatif terjaga di kisaran 3,21 persen pada tahun lalu.

Dalam hal ini pelaku industri yang tergabung dalam Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menjadi salah satu motor penggerak kemajuan ekonomi khususnya di Jawa Barat. Ketua Umum DPW ALFI Jabar, M. Nuh Nasution mengatakan, industri dan logistik menjadi daya saing ketika bicara total cost.

Ini dapat memberi keuntungan bagi pelaku usaha. Dalam hal infrastruktur, Jawa Barat memiliki Pelabuhan Patimban yang menjadi kebanggaan ALFI Jawa Barat. Selain itu, Bandara Kertajati bisa difokuskan untuk pertumbuhan barang dan jasa, karena passenger masih minim di sana,” kata M. Nuh di Seminar dan Rapimwil I DPW ALFI Jabar di Batiqa Hotel, Suryacipta Square, Karawang, Selasa (11/Feb/2020).

Pada kesempatan yang sama, Kadishub Pemprov Jabar, Heri Antasari mewakili Gubernur Jabar mengatakan, salah satu kendala utama adalah masalah waktu tempuh transportasi logistik yang lebih baik. “Ini masih menjadi kendala apabila kita potret dari sisi biaya logistik yang ada di pelabuhan utama yang ada sekarang di Tanjung Priok. Upaya perbaikan infrastruktur dan penyediaan moda transportasi yang dapat mendukung kelancaran jalur logistik tersebut terus kami lakukan,” ujar Heri .

Menurut Heri, Pemprov Jabar tengah berupaya membangun kawasan Segitiga Rebana (Cirebon, Patimban, Majalengka) yang merupakan salah satu strategi dari Pemprov Jabar untuk menjadikan Jawa Barat juara di bidang ekonomi. “Memang saat ini Rebana masih dalam tahap perencanaan dan pengembangan, dan pembangunan infrastruktur menuju kawasan tersebut sedang terus diupayakan. Seperti Tol Cisumdawu (Cileunyi–Sumedang–Dawuan), jalur kereta api yang saat ini rencananya sudah kami buat, dan jalur-jalur tol lainnya selain Tol Cisumdawu,” katanya.

Heri menambahkan, sesuai perhitungan dari Pemprov Jabar, keberadaan Rebana dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, “Dari sekitar lima sampai enam persen menjadi lebih kurang delapan sampai 10 persen. Rebana juga diproyeksikan dapat mendatangkan tiga juta lapangan pekerjaan,” ucapnya.

Sementara itu menurut Asisten Deputi Pengembangan Logistik Nasional Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Erwin Raza, terkait upaya Pemprov Jabar yang ingin menjadikan wilayahnya sebagai juara di bidang ekonomi tidaklah mudah. “Menurut saya, kalau Jabar ingin menjadi juara, ya harus juara logistik terlebih dulu. Sebab logistik itu sebagai enabler dari trade, dan trade sebagai enabler dari ekonomi. Jadi harus dimulai dari logistik karena logistik itu sangat multi-sektoral, multi-fungsional, multi-disiplin,” kata Erwin.

Jika dikaitkan dengan kawasan industri, kata Erwin, seharusnya kawasan industri di Jabar terintegrasi. “Sayangnya 22 kawasan industri ini belum terintegrasi karena ada masalah politik, masalah buruh, dan masalah ego masing-masing kawasan industri. Kemudian Jabar punya Pelabuhan Patimban, bagaimana akses jalannya? Kemudian kita punya Bandara Kertajati yang katanya akan dijadikan MRO (maintenance repair overhaul/kawasan perbaikan pesawat). Kalau saya menyarankannya, kalau bisa (Bandara Kertajati) sebagai hub logistik Asia-Pasifik,” ungkapnya.

Erwin juga menyinggung dari sisi komoditi, “Jabar punya banyak hasil pertanian dan peternakan seperti domba, juga produk industri kecil berupa makanan dan minuman. Tetapi Jabar tidak bisa menikmati hasilnya, karena kalau ekspor yang menikmati Jakarta padahal Jabar punya potensi besar ini semua. Peran dari ALFI Jawa Barat luar biasa berpotensi kalau perannya dimaksimalkan, tentunya ini butuh kolaborasi,” katanya.

Ketua Umum DPP ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan bahwa Pelabuhan Patimban sebentar lagi akan mengoperasikan car terminal. “Kami harap pemda mengundang perusahaan pelayaran besar, tapi sayangnya luas area pendukung Patimban hanya 300 hektare. Saya pernah berkomunikasi dengan Pak Gubernur Jabar, mengingat beliau ahlinya tata kelola perkotaan, yang rencananya area pendukung di Patimban akan dibangun dengan konsep modern. Ini yang mungkin harus kita tindaklanjuti selanjutnya,” kata Yukki.

Yukki juga menambahkan bahwa diperlukan peraturan yang benar-benar bermanfaat bagi pelaku usaha. “Belum lagi kita menghadapi ASEAN Connectivity tahun 2025. Semua negara ASEAN sudah berlari kencang untuk memperlancar ekspornya masing-masing, sementara kita masih berkutat dengan impor,” ujarnya.

Heri mengatakan bahwa saat ini Pemprov Jabar bertransformasi menjadi pemerintahan yang dinamis. “Kami menginginkan adanya pola kerja sama pentahelix di mana unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media bersatu membangun kebersamaan sebagai bagian dari proses kerja sama. Kami juga berharap ALFI menjadi bagian dari kerja sama tersebut,” ujarnya.

Menurut Heri, Pemprov Jabar menyadari bahwa proses perizinan yang mudah dan cepat adalah kunci peningkatan investasi. “Dalam hal ini kami mendorong dan siap berkolaborasi dengan ALFI terutama dengan program-program ALFI yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian khususnya terkait dengan distribusi barang. Harapan kami, ALFI dapat terus berkontribusi untuk memajukan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong dan mengatasi kesenjangan ekonomi antardaerah,” katanya.

 

 

Editor: Antonius
Foto: Anton

 

 

 

 

 



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix