Inilah Ban yang Merusak Infrastruktur Jalan

13 / 02 / 2019 - in Ask The Expert

Salah satu tantangan pemeliharaan infrastruktur jalan adalah meminimalisasi kerusakan jalan akibat tingkat kekerasan ban truk yang melintas di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Direktur Preservasi Jalan, Direktorat Jendral Bina Marga, Kementerian PUPR, Atyanto Busono beberapa waktu lalu. Kerasnya ban yang digunakan oleh perusahaan truk dinilai menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan.

Terkait kerusakan jalan akibat kekerasan ban, menurut Konsultan Ban dan Pelek, Bambang Widjanarko, kerusakan jalan memang dapat ditimbulkan oleh tingkat kekerasan ban. Menurutnya, ada dua jenis ban yang digunakan truk di Indonesia, yaitu ban radial dan ban bias. Menurut Bambang, ban radial memiliki dinding lebih tipis dan lentur dan kerangka samping dan sekitarnya terdiri dari satu kawat baja yang kemampuannya setara dengan 16 lapis benang nilon. Hal tersebut dapat dilihat dari samping ban yang tertulis 16 pr atau play rating.

Sedangkan kerangka ban bias benar-benar terdiri dari 16 lapis benang nilon, sehingga dinding samping ban bias menjadi lebih tebal dan kaku. Akibatnya ketika digunakan, ban jenis ini lebih panas dan cepat aus daripada ban radial, karena kerangkanya yang berlapis-lapis.

Infrastruktur Jalan

“Sebagai pilihan ban yang tidak berpotensi merusak jalan, maka dipilihlah ban radial yang lebih lembut, karena kerangkanya hanya terdiri dari satu lembar kawat baja yang kekuatannya setara dengan belasan lapis benang nilon. Yang lebih istimewa lagi, ban radial memiliki penjabaran telapak yang lebih merata saat bergulir ketimbang ban bias yang cenderung meloncat-loncat saat digunakan. Jejak telapak ( footprint ) ban radial yang lebih luas daripada ban bias lah yang sebenarnya membuat dampak merusak pada permukaan jalan lebih sedikit daripada ban bias, seperti pada analogi sepatu kets dengan sepatu high heel,” kata Bambang.

Kakunya ban bias, kata Bambang, membuat pada saat kendaraan menikung telapak ban kendaraan tidak sepenuhnya mencengkram permukaan jalan. Berbeda dengan ban radial yang memungkinkan dinding samping ban melentur dan mengimbangi daya dorong (thrust) kendaraan dan telapak ban sepenuhnya mencengkram jalan.

“Pada dinding samping tiap-tiap ban juga terdapat speed symbol, selain load index, misalnya speed symbol J = 100 Km per jam. Artinya ban tersebut mampu dan aman dioperasikan secara terus menerus selama beberapa waktu pada kecepatan maksimum 100 Km per jam, namun jika dioperasikan dengan kecepatan diatas 100 Km per jam selama beberapa waktu, ban tersebut berpotensi meledak setiap saat. Semua ban butuh waktu istirahat pendinginan, jika dipakai untuk jarak jauh. Kalau ban bias harus diistirahatkan tiap 150-200 Km, sedangkan ban radial bisa 2 kali lipatnya atau 300-400 Km,” lanjut Bambang membandingkan.

Bambang mengaku bila proses radialisasi pada kendaraan jenis truk di Indonesia masih butuh waktu dan tidak seperti membalik tangan, selain karena masih banyak sopir yang belum mengenal betul karakter ban radial, juga masih banyak kendaraan jenis truk yang masih bermuatan overtonase, juga kondisi infrastruktur jalan yang belum seluruhnya mendukung.

“Memang secara karakter ban bias itu lebih tahan dipakai pada kondisi jalan buruk dan untuk muatan overtonase, ketimbang ban radial. Oleh sebab itu ban bias masih cukup diminati di Indonesia, sementara di belahan dunia lain ban bias sudah mulai ditinggalkan oleh penggunanya beralih ke ban radial dan banyak pabrik ban bias yang sudah menghentikan produksinya untuk beralih ke teknologi ban radial”, kata Bambang.

 

Teks: Citra
Editor: Sigit
Foto: Michelin



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix