Inefisiensi Logistik = Pemborosan Biaya Logistik

27 / 01 / 2016 - in News

Pemerintah Indonesia sejak akhir 2015 lalu terus berupaya memenuhi harapan seluruh rakyat di negeri ini, supaya tercapai kondisi harga komoditas yang lebih terjangkau. Penyebab utama lantaran inefisiensi rantai pasok yang selama ini terjadi di Tanah Air.

Menurut Kyatmaja Lookman, Wakil Ketua Umum Bidang Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Indonesia merupakan salah satu negara peng-ekspor bahan mentah terbesar di dunia. Dikutip dari laman media sosial pribadinya, Kyatmaja memberikan opini pribadi seputar transportasi murah yang berkaitan dengan biaya logistik tentunya.

“Saya klasifikasikan barang dari raw material, semi finished good consumable dan final produk. Semakin barang itu memiliki value add (nilai tambah) maka logistic cost-nya dibandingkan harga barang akan semakin turun. Bahan dasar terbesar yang banyak dipakai oleh produksi kaca itu adalah garam. Tetapi garam ini harganya sangat murah jika kita bandingkan ongkos transportasinya. Di Amerika untuk bahan-bahan dasar seperti ini mereka menggunakan mini land bridge (kereta api berdaya tarik tinggi & mampu menarik ratusan gerbong dua tumpuk container). Kenapa menggunakan transportasi seperti ini? Agar unit cost pengirimannya bisa ditekan. Karena jika di level raw material saja biaya kirimnya sudah mahal, lantas bagaimana finished good nya?” tulis Kyatmaja.

Sebelumnya, Supply Chain Indonesia (SCI) sebagai lembaga independen yang aktif dalam pengkajian, pengembangan, dan penerapan keilmuan dan wawasan praktis untuk kemajuan bidang logistik dan supply chain di Indonesia, juga telah membuat notifikasi.

Catatan bagi pemerintah menurut Chairman SCI Setijadi, S.T., M.T., adalah terkait inefisiensi logistik di Indonesia. Inefisiensi logistik Indonesia, tergambar dari biaya pengiriman berbagai komoditas (dalam negeri) yang lebih tinggi dibandingkan biaya pengiriman dari negara lain.

Misalnya, biaya pengiriman daging sapi dari NTT ke Jakarta sekitar Rp 3 ribu per kg, sementara dari Australia hanya sekitar Rp 700 per kg. Contoh lain, biaya pengiriman ikan dari Ambon ke Surabaya rata-rata Rp 1.800 per kg, sedangkan dari China rata-rata hanya Rp 700 per kg.

Salah satu penyebab inefiesiensi atau pemborosan dalam hal biaya logistik, menurut Setijadi, berawal dari persoalan infrastruktur di Tanah Air. Berdasarkan laporan The Global Competitiveness Index 2015–2016 dari World Economic Forum, infrastruktur Indonesia berada di peringkat 62 dari 144 negara yang disurvei. Untuk kawasan ASEAN sendiri, Singapura berada di peringkat 2, Malaysia di posisi 24 dan Thailand ada di posisi 44.

Menyoal konsep Tol Laut dan Kapal Ternak yang digagas pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), baik Kyatmaja maupun Setijadi sama-sama mewanti. “Konsep Tol Laut sebagai strategi peningkatan efisiensi logistik nasional perlu integrasi antara kementerian/lembaga, perusahaan-perusahaan BUMN operator pelabuhan, industri pelayaran nasional, industri perkapalan, dan institusi terkait lainnya,” tulis Setijadi.

Sementara Kyatmaja lebih menekankan pada pembangunan industri pengolahan di daerah sumber raw material, yang dianggapnya lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut demi terciptanya pemerataan pembangunan. Sehingga biaya pengiriman akan lebih seimbang antara di Pulau Jawa dengan daerah terpencil di Indonesia.

Kyatmaja memberi ilustrasi seperti ini, finished goods (produk jadi) dengan nilai ekonomis tinggi juga akan memiliki logistic cost (biaya logistik) yang lebih rendah dibandingkan dengan harga barang jadi tersebut.

“Kita kembali ke konsep dasar Kapal Ternak, bahwa sapi utuh itu tidak bernilai ekonomi tinggi karena sapi itu sebagai bahan dasar. Jika kita bandingkan dengan kapal impor dari Australia, yang dikirim itu hanya dagingnya saja. Seyogyanya Rumah Potong Hewan itu bisa dibuat di NTT, dengan demikian hanya dagingnya saja yang kita kirim. tulang belulang dan bangkai sapi yang tidak ada nilai ekonomisnya tidak perlu mahal mahal dikirim ke Jawa karena itu juga merupakan pemborosan transportasi,” beber Kyatmaja.

Dengan mengirimkan dagingnya saja, lanjut Kyatmaja, maka ongkos pengiriman sudah bisa dihemat sekitar 70 persen. Misalnya, untuk mengirim sapi-sapi hidup tadi perlu tempat setara ukuran container 20 feet yang hanya cukup menampung sekitar 5-6 ekor sapi hidup karena tidak mungkin ditumpuk. Dalam 1 container ukuran 20 feet punya kapasitas 20 ton (20.000 kg). Jika 1 ekor sapi dengan berat 1 ton bisa menghasilkan daging sekitar 300 kg, maka kita bisa memasukkan setara 66 ekor sapi hidup. Setiap pelayaran container juga bisa ditumpuk maksimal 4 tumpuk, sehingga setara dengan 264 ekor sapi hidup. “Bandingkan 6 ekor sapi hidup dengan 264 ekor sapi potong, mana yang lebih murah ongkos kirimnya?”

Teks : Antonius S

Sumber foto presidenri.go.id



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix