Ide Kongkret Kurangi Resiko Kecelakaan Tabrak Belakang Truk

07 / 12 / 2019 - in Berita

Kasus kecelakaan tabrak belakang di berbagai ruas jalan tol terus berulang, seolah tiada henti, malah semakin bertambah setiap harinya. Hal ini mengundang keprihatinan berbagai pihak.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia ( Aptrindo ) Jawa Tengah & Daerah Istimewa Yogyakarta Bambang Widjanarko mengatakan, “Kasus kecelakaan tabrak belakang sebagaimana yang pernah saya ulas pada bulan Juli lalu, sebagian besar terjadi karena human error, akibat pengemudi mengalami kelelahan, mengantuk dan akhirnya mengalami micro sleep. Jarang sekali yang terjadi akibat kendaraan mengalami rem blong, ban selip atau ban meledak,” katanya.

Dalam sebuah forum diskusi di whats app group Safety Driving Truck, ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT ) Soerjanto Tjahjono menghimbau agar para operator truk secara suka rela mau memasang front, side and rear protection ( perisai pelindung kolong truk). Soerjanto merasa prihatin, karena selama ini telah terjadi rata-rata 35 kasus kecelakaan tabrak belakang setiap bulannya hanya di ruas jalan tol Cikampek Palimanan ( Cipali ), belum terhitung yang terjadi di tempat lain.

Himbauan tersebut langsung disambut oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi yang berjanji akan segera mengeluarkan peraturan resmi terkait perisai pelindung kolong truk tersebut. Sebelumnya Budi Setiyadi telah mengeluarkan peraturan direktur jenderal perhubungan darat nomor KP 3396/AJ.502/DRJD/2019 tentang pedoman teknis alat pemantul cahaya tambahan pada kendaraan bermotor, kereta gandengan dan kereta tempelan.

“Sticker pemantul cahaya itu kan sifatnya hanya sekedar penanda sebagai upaya mencegah terjadinya kecelakaan tabrak samping atau belakang saja. Sedangkan perisai pelindung kolong truk itu sifatnya untuk meminimalisir hal yang lebih fatal saat terjadi kecelakaan. Jadi keduanya sama-sama diperlukan, namun berbeda fungsinya,” jelas Bambang.

Selama ini hampir selalu ada korban jiwa dalam setiap kasus kecelakaan tabrak belakang, karena Airbag tidak berfungsi, akibat switch yang ada di bemper mobil penabrak tidak membentur perisai pelindung belakang truk, tetapi bagian diatas kap mesin lah yang langsung menghantam bagian belakang truk, saat mobil penabrak masuk ke kolong truk.

Bambang menambahkan, “Seringnya terjadi kasus kecelakaan tabrak belakang di ruas jalan tol Cipali adalah bukan karena jalur tersebut angker atau faktor geografisnya yang kurang menguntungkan. Tapi karena kendaraan yang sedang berusaha keluar dari Jakarta menuju ke arah timur sering mengalami kemacetan parah pada ruas jalan tol sebelumnya yaitu jalan tol dalam kota dan jalan tol Jakarta Cikampek ( Japek ). Akibatnya ketika memasuki ruas jalan tol Cipali, pengemudi sudah merasakan kelelahan berlebihan dan akhirnya tanpa sadar mengalami micro sleep atau pengemudi justru sedang mengalami euforia berlebihan setelah terlepas dari kemacetan akut,” Ujarnya.

Oleh

BAMBANG WIDJANARKO

Wakil Ketua APTRINDO Jateng & DIY

Editor : Sigit A



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix