Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penanganan Kondisi Darurat pada Angkutan B3

17 / 07 / 2021 - in Berita, Tips & Trik

Dalam aktivitas pengangkutan B3 dan Limbah B3, penanganan kondisi darurat merupakan salah satu aktifitas penting dan dipersyaratkan dalam perizinan angkutan B3/LB3 di Indonesia, tentu juga karena alasan lainnya yaitu untuk mengantisipasti kerugian yang lebih besar lagi dari kondisi darurat yang terjadi baik nyawa maupun kerusakan harta benda.

Dalam kulgram Truckmagz Jumat(9/7), Beni Cahyadi Sekjen Asosiasi Pengangkut & Pengelola B3/LB3 menjelaskan bahwa sesuai regulasi Program Kedaruratan Pengelolaan B3 dan/atau Limbah B3 wajib disusun oleh setiap orang yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan/atau membuang B3; dan/atau Setiap Orang menghasilkan Limbah B3, pengumpul Limbah B3, mengangkut Limbah B3, pemanfaat Limbah B3, pengolah Limbah B3, dan/atau penimbun Limbah B3.

Kondisi darurat diindentifikasi sebagai kondisi atau keadaan bahaya yang dapat mengancam keselamatan manusia, menimbulkan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup serta memerlukan tindakan penanggulangan sesegera mungkin untuk meminimalisasi terjadinya tingkat pencemaran dan/atau kerusakan yang lebih parah lagi. Kondisi Darurat pada angkutan B3/LB3 dapat berupa kecelakaan yang menyebabkan kebakaran dan tumpahnya/bocornya B3/LB3 ke lingkungan. Kondisi Darurat dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain kecelakaan lalu lintas, gagalnya fungsi tataletak dan pengaman muatan serta adanya perilaku dan kondisi tidak aman baik dari kendaraan, lingkungan maupun manusia nya. Kondisi darurat dapat terjadi pada saat pemuatan dan pembongkatan muatan serta pada saat pengangkutan di jalan.

Menurut Beni, salah satu cara menekan risiko itu adalah menggelar simulasi kondisi kedaruratan ini perlu diperhatikan waktunya. Seperti jam sibuk dan jam normal, untuk simulasi atau drill gabungan 2 kali selama setahun. Untuk simulasi anggota pemadam dan spill secara mandiri dapat dilakukan periodik sekali tiap 2 bulan. Ini untuk menyakinkan keterampilan dan kesiapan semua personel terjaga.

“Dari sisi pengemudi juga perlu memperhatikan pengangkutan B3/LB3 tata letak dan jumlah/jenis muatan sangat krusial dalam identifikasi bahaya dan penilaian resiko. Termasuk penanganan kondisi daruratnya. Pengemudi hendaknya diberi kewenangan berhak menolak muatan jika tidak sesuai kompatibilitas bahan. Karena dalam angkutan B3/LB3, jemis dan jumlah muatan sudah tertentu diidentifikasi sebelum muatan itu diambil. Jadi, penambahan material di luar list B3/LB3 yang dibuktikan dengan manifest dapat dihindari,” katanya.

“Prosedur penanganan kondisi darurat wajib disusun dan tersedia di kabin angkutan, lalu dikomunikasikan pada semua pihak terkait, disimulasikan dan di evaluasi secara periodik. Pastikan bahwa semua unsur² yg ada pada SOP ini berfungsi dan responsif. Nomor telepon penting wajib dicatat dan mudah ditemukan. Dengan demikian SOP yg dibuat ini bukan sekedar dokumen hiasan formalitas saja, tetapi memang berguna dan implementatif dalam menangani kondisi darurat angkutan B3/LB3 di jalan,” kata Beni.

“Peran serta masyarakat dalam merespon kondisi bahaya/darurat juga perlu diperbaiki. Sebagian besar jika ada kecelakaan cenderung berkerumun, mengambil foto dan live di IG/FB tanpa menghiraukan bahaya dan resiko,” pungkasnya.

Editor : Sigit

Foto : Truckmagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix