Fenomena Rem Blong Pada Truk dan Bus

30 / 07 / 2020 - in

Sepanjang tahun 2019 kita dihantui oleh beberapa kasus kecelakaan rem blong baik pada truk maupun bus yang menyebabkan jumlah korban yang tidak sedikit dan menarik perhatian kita semua. Beberapa kasus yang menarik perhatian media seperti kasus kecelakaan tronton maut di tol Cipularang, kecelakaan truk maut di flyover Kretek, kasus bus maut di Pagar Alam dan masih banyak lagi kasus rem blong kendaraan besar yang terjadi di Indonesia, dan hampIr seluruh kecelakaan tersebut terjadi pada jalan menurun. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah hal ini bisa dicegah? Bagaimana caranya? Komite Nasional Keselamatan Transportasi melakukan beberapa investigasi pada beberapa kasus kejadian rem blong dan menemukan beberapa fakta yang mengejutkan, yang selama ini dapat dikatakan sebagai “hidden risk” yang tidak ter capture oleh program keselamatan Pemerintah sehingga berulang kali terjadi kecelakaan dengan pola dan modus yang sama.

Untuk memulai analisa ini, mungkin ada baiknya kita flashback ke pelajaran fisika di SMA dimana kita mengenal “hukum kekekalan energy Thermodinamika I” yang menyebutkan bahwa energy dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, tetapi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Ada berbagai macam bentuk energy, diantaranya adalah energy potensial yaitu energy yang ada pada suatu benda yang berada pada suatu ketinggian tertentu atau benda yang mengalami tekanan seperti busur panah, kemudian ada lagi energy kinetik yaitu energy yang ditimbulkan pada saat suatu benda bergerak dan satu lagi energy kalor atau energy panas. Jika truk atau bus berada pada suatu ketinggian tertentu, maka pertama dia akan memiliki energy potensial. Selanjutnya jika dia bergerak turun dia akan memiliki satu lagi bentuk energy yang lain yaitu energy kinetik. Ketika suatu saat pengemudi hendak menghentikan truk/bus tersebut, kedua energy diatas akan berubah bentuk menjadi energy kalor atau energy panas, sesuai dengan hukum thermodinamika I diatas. Perubahan energy potensial dan energy kinetic menjadi energy kalor ini akan bertumpu sebagian besar pada gesekan antara tromol dan kampas dan sebagian lainnya pada gesekan antara ban dan aspal. Energy kalor yang dihasilkan akan tergantung pada besaran energy potensial dan energy kinetik sebelumnya, dimana semakin besar kedua energy tersebut maka akan semakin besar energy kalor yang akan dihasilkan.

  • Energy potensial memiliki rumus = massa x gaya gravitasi bumi x ketinggian tempat
    (semakin tinggi kendaraan tersebut dan semakin besar massanya maka EP nya semakin besar)
  • Energy kinetik memiliki rumus = ½ ( massa x kuadrat dari kecepatannya )
    (semakin besar massanya dan semakin cepat kendaraan tersebut meluncur maka EK semakin besar)

Oleh sebab itu, untuk memperkecil energy kalor yang dihasilkan saat kendaraan akan dihentikan maka besaran massa (jumlah muatan) dan kecepatan saat turun harus diperkecil. Ini menjelaskan kenapa kendaraan yang overloading dan atau kendaraan yang menggunakan gigi tinggi saat sedang melalui turunan ber resiko mengalami kegagalan pengereman. Oleh sebab itu, ada dua hal hal yang harus diperhatikan saat pengemudi kendaraan besar seperti bus dan truk sedang melalui sebuah turunan dengan gradient cukup besar dan panjang, pertama hindari mengangkut melebihi daya angkutnya, dan kedua pergunakan gigi rendah untuk mengaktifkan auxiliary brake, yaitu exhaust brake dan engine brake untuk mengurangi kecepatan kendaraan.

Ada sebuah pemahaman yang keliru pada pengusaha maupun pengemudi tentang prinsip kerja rem kendaraan besar saat ini yang menerapkan model Full Air Brake, dimana rem jenis ini tidak akan mungkin mengalami kegagalan alias ngeblong, karena jika terjadi malfunction berupa tekanan anginnya habis, maka rem FAB otomatis akan mengunci (nge lock) roda sehingga kendaraan justru akan berhenti. Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Rem FAB akan nge lock, jika tekanan angin pada airtank habis. Pertanyaannya, bagaimana jika tekanan tersebut tidak habis melainkan berkurang? Hal ini bisa saja terjadi karena kesalahan prosedur mengemudi dimana pengemudi berkali-kali menginjak rem saat kendaraan sedang turun atau terdapat kebocoran halus pada selang yang menghubungkan antara kompresor dengan airtank atau kebocoran pada airtanknya itu sendiri. Dan jika tekanan angin pada airtank kurang dari 6 bar, maka yang akan terjadi adalah pengemudi akan mengalami kesulitan menginjak pedal rem dimana pedal rem menjadi keras (mbanggel). Kalau pedal rem sulit diinjak, sementara tekanan angin pada airtank masih cukup (dibawah 6 bar) ya jelas kendaraan akan tetap meluncur karena roda tidak terkunci dan pengemudi tidak mampu menginjak pedal remnya.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan oleh pengusaha dan pengemudi kendaraan besar seperti bus dan truk adalah masalah kampas rem. Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa saat ada upaya pengereman sebuah kendaraan maka akan terjadi transformasi energy dari energy potensial dan energy kinetic menjadi energy kalor, dan energy kalor yang dihasilkan sebagian besar akan terletak pada gesekan antara kampas dengan tromol. Oleh sebab itu para engineer mendesain agar kalor yang dihasilkan pada gesekan antara kampas dan tromol tidak ditanggung oleh kampas itu sendiri, melainkan ditransfer dan dibuang keluar dari ruang tromol. Perhatikan gambar di bawah ini :

Ada 2 bagian utama pada rem tromol ini yaitu sepatu rem dan kampas rem. Kampas rem adalah bagian yang akan menyentuh dan bergesekan langsung dengan tromol. Sementara sepatu rem selain berfungsi sebagai tempat duduk bagi kampas rem, fungsi lainnya adalah untuk mentransfer panas yang dihasilkan oleh kampas keluar dari ruang tromol. Jadi jika sebagian panas yang dihasilkan oleh gesekan antara kampas dan tromol bisa dibuang keluar, maka kampas akan menjadi lebih tahan saat bergesekan dengan tromol, sebaliknya jika panas tidak dapat ditransfer keluar maka yang akan terjadi panas akan bertumpu pada kampas rem sehingga kampas dengan cepat akan mencapai titik ketahanan panasnya. Hal ini sangat berbahaya, karena jika kampas rem mencapai titik ketahanan panasnya (overheat) selanjutnya yang terjadi adalah koefisien gesek kampas menjadi 0, artinya permukaan kampas menjadi licin seperti kaca dan sekalipun kampas menekan dinding tromol, roda akan tetap berputar. Agar proses transfer panas itu menjadi efektif, maka ada 2 hal yang harus diperhatikan oleh pengusaha atau pengemudi, yaitu ;

1. Material kampas rem.
Bahan dari kampas rem ini adalah campuran antara bahan sintetis organic (non metal) dan metal. Kombinasi kedua material ini akan sangat berpengaruh terhadap performansi kampas rem. Jika komposisi kampas ini lebih banyak bagian non metalnya, maka rem itu akan memiliki kemampuan mengerem sangat tinggi karena koefisien geseknya tinggi, namun kemampuan mentransfer panas ke sepatu rem sangat rendah sehingga jenis kampas ini akan cepat panas dan resiko brake fading sangat tinggi. Jenis kampas ini cukup banyak di pasaran dengan harga yang relative lebih murah. Namun jika komposisi kampas ini didominasi oleh metal, maka kemampuan menahan putaran roda lebih rendah karena koefisien gesek metal lebih rendah dibandingkan non metal. Tapi kelebihannya adalah jenis kampas ini akan memiliki ketahanan panas yang lebih tinggi karena kemampuan mentransfer panas ke sepatu rem (metal memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dalam mentransfer panas dibandingkan non metal), sehingga resiko brake fading sangat kecil. Yang baik adalah kombinasi yang sesuai antara metal dan non metal, di satu sisi memiliki koefisien gesek tinggi, namun pada sisi lainnya memiliki kemampuan mentransfer panas yang tinggi. Perbedaan antara jenis kampas rem ini adalah pada warnanya, semakin terang warna kampas rem tersebut, itu menunjukkan komposisi non metal yang sangat tinggi, artinya jenis kampas ini memiliki ketahanan panas yang rendah dan harganya pasti lebih murah.

2. Cara pemasangan kampas rem pada sepatu rem.
Pada salah satu kasus investigasi kecelakaan rem blong pada truk, KNKT menemukan bahwa brake fading yang terjadi pada truk tersebut dipicu oleh kegagalan kampas dalam men transfer panas yang dihasilkan. Melalui uji coba di laboratorium metalurgi ITB, KNKT menemukan bahwa kampas rem yang digunakan sudah menggunakan material yang tepat, koefisien gesek yang baik, dan ketahanan panas yang tinggi. Namun permasalahannya adalah pada pemasangannya, dimana antara kampas rem dan sepatu rem terdapat jarak (renggang) pada bagian tertentu. Hal ini bisa terjadi pertama karena pengusaha truk membeli sepatu kampas dan kampasnya secara terpisah, selanjutnya pengusaha memasang kampas rem pada sepatu dengan cara manual (pantek) tanpa menggunakan alat press. Hal ini menyebabkan kampas rem tidak optimal dalam mentrasfer panas ke sepatu rem, dampaknya adalah panas terkonsentrasi pada kampas dan mengakibatkan overheat.

CARA MEMASANG KAMPAS MANUAL

Itulah beberapa hal yang perlu mendapat perhatian kita semua, dan saya akan mencoba membuat kesimpulan dari penjelasan di atas sebagai berikut :
1. Kasus rem blong kendaraan besar (bus/truk) sebagian besar terjadi pada jalan yang menurun, jarang ditemui bus atau truk mengalami rem blong pada jalan datar (sangat jarang ditemui adanya malfunction berupa kebocoran massive pada airtank atau minyak rem yang dapat menyebabkan rem tiba-tiba tidak berfungsi kecuali selang flexible nya lepas atau putus dari dudukannya);
2. Pada jalan menurun, fenomena rem blong (brake fading) sebagian besar didominasi oleh kesalahan prosedur mengemudi, dimana pengemudi menggunakan gigi persnelling tinggi yang menyebabkan service brake bekerja maksimal;
3. Kegagalan pengereman (brake fading) kendaraan besar selain dipicu oleh kesalahan prosedur mengemudi, juga terdapat factor lainnya yaitu penggunaan kampas rem dengan kualitas rendah dan atau tata cara pemasangan kampas rem yang tidak tepat sehingga menyebabkan transfer panas dari kampas ke sepatu rem tidak berjalan optimal dan hal ini berdampak pada terkonsentrasinya panas pada kampas sehingga kampas cepat mencapai ketahanan panasnya (overheat);
4. Untuk itu, guna mencegah terjadinya fenomena brakefading ini, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi pengusaha maupun pengemudi :
a). Pastikan system rem dalam keadaan baik (kompresor, selang konektor, airtank, minyak rem, sensor dll) melalui mekanisme pemeliharaan dan pre inspection yang baik dan benar;
b). Pastikan pengemudi memahami prosedur mengemudi pada jalan menurun;
c). Jangan mengangkut melebihi daya angkutnya (overloading);
d). Gunakan kampas rem yang berkualitas dan jika membeli kampas rem yang terpisah dari sepatunya, pada saat pemasangan hindari dengan cara manual (pantek) namun gunakan alat press sehingga kampas rem melekat secara sempurna pada sepatunya.

Alat Press Kampas
I

Oleh

Achmad Wildan

Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi

Editor : Sigit

 



Sponsors

 

 

 

logo-chinatrucks300 327pix