Seringkali kerusakan transmisi dapat disebabkan karena perawatan yang tidak rutin. Baik transmisi truk medium atau light truck, keduanya sama mengalami banyak tekanan akibat beban muatan, gaya mengemudi, hingga panas tinggi karena gesekan internal. Kerusakan besar pada transmisi tak bisa terelakkan jika panas tinggi tidak terkendali.
Yoyok Chaeruman, Asisten Kepala Bengkel Salam Wijaya Pasuruan, mengatakan bahwa ada dua jenis kerusakan yang paling sering terjadi pada transmisi yaitu mekanis dan elektris. Kerusakan elektris termasuk koneksi listrik, input /output aki , sensor dan sistem kontrol. Kerusakan mekanis termasuk bearing, kompresor, dan koneksi transmisi.
Langkah-langkah untuk mengurangi masalah yang lebih besar adalah secara proaktif tetap menjaga jadwal perawatan preventif dan inspeksi berkala. Misalnya, semakin cepat menemukan kebocoran oli, biaya perbaikan pun berkurang.
Pengemudi berada pada posisi yang sangat penting untuk menangkap masalah sebelum kerusakan parah terjadi. Pengemudi harus memeriksa kebocoran oli sebelum berangkat dan secara visual memeriksa kebocoran di sekitar seal, tutup PTO dan bagian mesin lainnya.
“Pastikan pengemudi melaporkan masalah terkait pemindahan gigi, seperti pemindahan gigi yang keras atau gigi loncat. Keluhan pengemudi dapat menjadi indikasi masalah yang muncul dan harus ditangani," kata Yoyok.
Pada transmisi manual, masalah-masalah tipikal seperti bunyi-bunyi yang tidak biasa, kebocoran, getaran, dan perpindahan gigi yang keras bisa diketahui oleh pengemudi. Memang, jenis transmisi dapat memengaruhi persyaratan perawatan. Sebagai perbandingan, transmisi mekanis otomatis cenderung lebih tahan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan pengemudi karena sistem elektronik yang mengendalikan komponen seperti kopling dan pemindahan gigi. Selain itu kontrol dapat dioptimalkan untuk memperpanjang masa pakai kopling dan mengurangi terjadinya kesalahan.
Editor: Sigit Foto: truckmagz