• Truckmagz

Seminar Kolaborasi Tingkatkan Penanganan Pasca Panen di Indonesia

12 / 12 / 2024 - in Berita
Seminar Kolaborasi Tingkatkan Penanganan Pasca Panen di Indonesia

Acara Seminar Penanganan Pasca Panen di sektor pangan Indonesia sukses diselenggarakan pada Kamis (12/12) di Ballroom Grand City Convex Surabaya. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Indonesia International Seafood & Meat (IISM) Surabaya, Surabaya Cold Chain Expo, dan Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesia (PPLI).

Seminar menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Dekan Fakultas Perikanan dan Maritim Universitas Airlangga; Ir. Abdul Hamid, Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI); Tito Krisdiansyah, Ketua Koperasi PPLI; Albert Winson, Presiden Direktur Winson Group; dan Tim Sosialisasi Cara Distribusi Ikan yang Baik (CBIB) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Indonesia, sebagai negara agraris dengan populasi 262 juta jiwa, menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Urbanisasi yang cepat, penurunan jumlah petani, perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya menjadi isu yang harus ditangani secara strategis.

Prof. Mochammad Amin Alamsjah menyoroti pentingnya mengurangi Food Loss and Waste (FLW) sebagai salah satu langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan. Ia mengungkapkan, meskipun belum ada data pasti, diperkirakan Indonesia kehilangan 20-29% hasil ikan pasca panen setiap tahun. Dalam lima tahun ke depan, ini dapat mencapai 3,82-4,99 juta ton ikan, setara dengan 1 juta ton protein senilai Rp82,9 triliun per tahun.

“Pemerintah perlu merespons dengan kebijakan lingkungan yang mendukung pengurangan FLW,” tegas Amin.

Tejo Mulyono, Kepala Bidang Logistik Pendingin PPLI, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjaga kualitas hasil panen. Menurutnya, keberhasilan logistik pendingin tidak hanya bergantung pada pelaku bisnis cold chain, tetapi juga pada kualitas di hulu, seperti pemilihan bibit unggul dan proses produksi yang baik.

“Jika kualitas di awal sudah baik, distribusi tinggal menjaga agar produk tidak rusak,” jelasnya.

Tejo juga menyoroti peran PPLI sebagai jembatan antara produsen, konsumen, akademisi, dan regulator untuk membangun ekosistem cold chain yang efisien. “Dua isu utama adalah ketersediaan dan keterjangkauan pangan. Jika ingin bersaing dengan negara lain, Indonesia harus membangun ekosistem yang mendukung efisiensi dalam negeri,” ujarnya.

Seminar ini juga menjadi ajang edukasi bagi para pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi demi menciptakan sistem pangan berkelanjutan. Tantangan teknologi dalam cold chain menjadi salah satu fokus utama, yang menurut Tejo, membutuhkan kontribusi akademisi untuk mencari solusi inovatif.

Dengan adanya seminar ini, diharapkan tercipta langkah konkret dalam memperkuat ekosistem pangan nasional, menjaga keamanan pangan, dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Editordan foto : Sigit



Sponsors